Nasi Jamblang, Antara Tradisi dan Modernisasi

Nasi Jamblang, Antara Tradisi dan Modernisasi
JAMBLANG: Beragam lauk dan hidangan khas nasi jamblang tersaji di salah satu rumah makan di Cirebon, menawarkan cita rasa kuliner tradisional yang tetap diminati masyarakat.(ANTARA FOTO)

INILAH, Cirebon- Sepiring nasi jamblang bukan sekadar kuliner bagi masyarakat Cirebon, melainkan warisan rasa yang hidup di tengah perubahan zaman.

Di balik kelezatan laukpauknya, para pelaku usaha kuliner legendaris ini tengah berjuang di antara dua dunia: merangkul modernisasi digital di pusat kota, sekaligus mempertahankan tradisi bungkus daun jati yang kian langka di pelosok kabupaten.

Bagi Ahmad, seorang pedagang yang telah setia melayani pembeli di Kecamatan Jamblang selama lebih dari satu dekade, selembar daun jati adalah harga mati.

Ketika kemarau panjang melanda, daun yang memicu aroma khas pada nasi hangat itu mendadak jadi barang mewah.

“Daun jati itu harus ada. Tanpa daun jati, nasi jamblang seolah kehilangan identitasnya,” keluh Ahmad, Minggu (11/10).

Ahmad biasanya mengandalkan pasar tradisional untuk pasokan harian. Namun saat lapak langganannya kosong, ia terpaksa mengetuk pintu ke pintu, meminta kerelaan tetangga yang masih memiliki pohon jati di pekarangannya agar dapurnya tetap bisa mengepul.

Keresahan serupa, meski tak seberat Ahmad, dirasakan oleh Endel. Berjualan harian di sekitar GOR Ranggajati Sumber, Endel beruntung karena memiliki pemasok yang rutin mengantarkan daun jati ke tempatnya. Meski begitu, ketergantungan ini ibarat pisau bermata dua.

“Kalau saya ada yang droping tiap hari untuk kebutuhan daun jati. Tapi terkadang saat saat tertentu daun tidak ada, terpaksa saya pontang-panting cari ke tempat lain,” aku Endel, menggambarkan kepanikannya saat sang kurir mendadak tak datang.

Kontras dengan perjuangan mencari daun di sudut kabupaten, denyut nadi nasi jamblang di tengah Kota Cirebon justru bergerak ke arah modernisasi yang masif. Salah satu potret suksesnya terpajang di kedai Nasi Jamblang Ibad Otoy di Jalan Cipto Mangunkusumo.

Sang manajer, Wahyu, mengenang kembali masamasa sulit saat usaha ini merangkak dari sebuah lapak kaki lima sederhana.

Kini, tempat tersebut telah menjelma menjadi rumah makan permanen yang ramai dikunjungi pelancong.

(maman suharman)


Editor : Inilahkoran