Langkah Nyata dari Argasunya
PEMERINTAH Kota Cirebon menyiapkan 28 paket pekerjaa perbaikan jalan lingkungan pada 2026 dengan total pagu anggaran Rp3,68 Miliar.Dimulai dari Keluragan Argasu
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Maman Suharman
Bagi warga RW 11 Lebakngok, Kelurahan Argasunya, jalan di depan rumah bukan sekadar aspal atau semen, melainkan urat nadi aktivitas mereka setiap hari. S etelah sekian lama menghadapi kondisi jalan yang memprihatinkan, senyum warga akhirnya merekah.
Pemerintah Kota Cirebon resmi memulai proyek perbaikan jalan lingkungan tahun 2026 dari kampung mereka.
Lebakngok menjadi prioritas utama karena kondisinya yang sudah masuk kategori darurat dan butuh penanganan segera demi keselamatan warga yang melintas.
“Untuk perbaikan jalan sendiri yang sudah dilakukan baru satu, yakni di RW 11 Lebakngok. Pekerjaan tersebut bersifat kedaruratan, sedangkan untuk pekerjaan lainnya masih menunggu,” ujar Haniah, Kepala Bidang Kawasan Permukiman Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kota Cirebon, Minggu (11/10).
Lebakngok hanyalah awal dari sebuah misi besar.
Pemkot Cirebon telah menyiapkan total anggaran sebesar Rp3.683.200.000 untuk membenahi 28 paket pekerjaan jalan lingkungan sepanjang tahun ini.
Anggaran miliaran rupiah ini ditujukan langsung untuk menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat di level akar rumput.
Rencana perbaikan ini tersebar di 11 kelurahan, mulai dari Kesenden, Kebonbaru, Panjunan, Lemahwungkuk, Pekalipan, Jagasatru, Pulasaren, Pekalangan, Pegambiran, Kesepuhan, hingga Argasunya.
Menariknya, Argasunya menjadi wilayah yang paling banyak mendapat perhatian dengan alokasi 11 paket pekerjaan.
Keputusan ini diambil karena kawasan tersebut memang sangat membutuhkan sentuhan infrastruktur agar warganya bisa beraktivitas dengan lebih nyaman dan aman, baik saat mengantar anak sekolah, pergi bekerja, maupun membuka usaha.
DPRKP Kota Cirebon memahami bahwa setiap gang dan jalan permukiman memiliki cerita dan tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, perbaikan tidak melulu menggunakan aspal hitam.
Bergantung pada kondisi tanah dan kebutuhan teknis di lapangan, beberapa jalur nantinya akan dibeton atau dipasangi paving block.
Pendekatan ini dilakukan agar jalan yang diperbaiki bisa bertahan lebih lama dan benar-benar fungsional bagi warga sekitar.
Suara dari Gang Hingga saat ini, DPRKP mengakui belum mengantongi angka pasti mengenai total seluruh ruas jalan permukiman yang rusak di Kota Cirebon.
Namun, hal itu tidak menghentikan langkah mereka.
Pemerintah memilih bersikap terbuka dan mengetuk pintu partisipasi masyarakat.
“Sampai dengan saat ini, kami masih belum memiliki data yang pasti terkait jumlah jalan permukiman yang mengalami kerusakan, namun proposal atau usulan untuk perbaikan jalan terus kami terima dari warga,” jelasnya.
Pemerintah masih terus membuka pintu lebar-lebar bagi warga yang ingin mengajukan proposal perbaikan jalan di lingkungan mereka.
Suara-suara dari gang sempit inilah yang nantinya akan menjadi penentu kemana arah pembangunan infrastruktur Kota Cirebon selanjutnya bergulir. (bsf)
Editor : Inilahkoran
