Pakar Unpad Ungkap Alasan Dedi Mulyadi Dinilai Positif dalam Survei SMRC
Pakar politik Unpad Muradi menilai pengalaman kerja dan pendekatan kepada masyarakat menjadi faktor persepsi positif terhadap Dedi Mulyadi dalam survei SMRC.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Pengalaman kerja dan kemampuan memahami aspirasi masyarakat menjadi dua aspek yang disoroti dalam penilaian terhadap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Meski memperoleh penilaian positif dalam survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), sejumlah dimensi kepemimpinannya mencatatkan skor yang berbeda.
Dalam survei bertajuk Opinion Leaders: Kepemimpinan Nasional Demokratik-Transformatif yang dilakukan pada September 2026, Dedi memperoleh nilai rata-rata kualitas tokoh sebesar 7,0 dari skala 0–10. Penilaian tersebut dihimpun dari kalangan akademisi, ilmuwan, dan jurnalis yang menjadi responden penelitian.
Pakar politik Universitas Padjadjaran (Unpad), Muradi, menilai pengalaman kerja dan pendekatan Dedi kepada masyarakat turut memengaruhi persepsi terhadap kepemimpinannya.
“Kalau survei pakar pasti ada pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penilaian terhadap KDM (Dedi Mulyadi), misalnya, karena dia dianggap paham maunya publik,” ujar Muradi saat dihubungi, Kamis (15/10/2026).
Menurut Muradi, pengalaman bekerja membentuk pendekatan kepemimpinan Dedi, terutama dalam berinteraksi dengan masyarakat. Hal tersebut dinilai membedakan pendekatannya dari sejumlah tokoh lain yang turut masuk dalam survei.
“Jadi, itu salah satu alasan, kenapa dia punya pendekatan yang jauh lebih nyaman. Karena dia punya pengalaman bekerja dan juga memiliki pendekatan berbasis pengalaman (experience) tadi. Kan berbeda, misalnya, dengan beberapa orang lain. Kalau tidak salah, di situ ada nama Anies (Baswedan), ada Uceng (Zainal Arifin Mochtar),” ucapnya.
Konsistensi Kepemimpinan Jadi Catatan
Meski menilai pengalaman sebagai salah satu faktor yang memengaruhi persepsi positif terhadap Dedi, Muradi menekankan pentingnya menjaga konsistensi kepemimpinan.
Hal itu disampaikan ketika ia ditanya mengenai kemungkinan penilaian positif pada sejumlah indikator menjadi modal bagi Dedi menuju Pilpres 2029.
“Banget sih menurut saya. Ya, ini tinggal menjaga konsistensi saja,” kata Muradi.
Berdasarkan hasil survei SMRC, indikator kemampuan memimpin menjadi salah satu aspek dengan penilaian relatif tinggi terhadap Dedi. Ia memperoleh skor 7,3 untuk indikator tersebut.
Sementara itu, aspek penerimaan atau acceptability dan kepemimpinan pluralis-inklusif masing-masing memperoleh skor 7,2. Indikator empati mendapat nilai 7,1, sedangkan komitmen terhadap demokrasi berada di angka 7,0.
Adapun integritas dan kapabilitas atau kompetensi masing-masing memperoleh skor 6,7.
Perbedaan skor tersebut menunjukkan variasi penilaian responden terhadap dimensi kepemimpinan yang diukur dalam survei. Namun, angka-angka itu tidak dapat langsung dijadikan ukuran menyeluruh atas kinerja pemerintahan Dedi di Jawa Barat.
Survei Libatkan 200 Responden
SMRC melibatkan 200 responden dalam penelitian tersebut, terdiri atas 166 akademisi dan ilmuwan serta 34 jurnalis.
Sejumlah nama yang tercantum dalam daftar responden antara lain Komaruddin Hidayat, Hikmahanto Juwana, Dewi Fortuna Anwar, Asvi Warman Adam, dan Kuskridho Ambardi.
Penelitian menggunakan metode snowball sampling, yakni perekrutan responden melalui jaringan atau rekomendasi responden sebelumnya. Dengan metode ini, hasil survei menggambarkan penilaian dari kelompok yang terlibat, tetapi tidak dapat digeneralisasi secara statistik untuk mewakili seluruh kalangan pemimpin opini di Indonesia.
Karena itu, hasil survei perlu dibaca sesuai ruang lingkup pengukurannya. Penelitian tersebut memetakan persepsi kalangan pemimpin opini terhadap kualitas kepemimpinan sejumlah tokoh nasional, bukan mengukur secara langsung tingkat kepuasan masyarakat maupun keberhasilan program pemerintahan Dedi Mulyadi di Jawa Barat.***
Editor : JakaPermana
