Pemkot Bandung Kaji Gudang Cadangan, Warga Diminta Mandiri Pangan 

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mengakui, masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan ketahanan pangan yang kokoh dan berkelanjutan.

Pemkot Bandung Kaji Gudang Cadangan, Warga Diminta Mandiri Pangan 
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mengakui, masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan ketahanan pangan yang kokoh dan berkelanjutan.

INILAHKORAN, Bandung - Dinas Ketahanan pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung mengakui, masih menghadapi tantangan besar dalam mewujudkan ketahanan pangan yang kokoh dan berkelanjutan.

Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar menyebut, kesiapan kota dalam menghadapi krisis pangan belum optimal. Terutama jika terjadi bencana besar atau gangguan distribusi.

“Kalau hari ini Bandung mengalami bencana besar, secara jujur saya katakan kita belum sanggup. Tapi upaya ke arah sana terus kami lakukan,” kata Gin Gin Ginanjar, Jumat 11 Juli 2025.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya tengah mengkaji pembentukan gudang cadangan pangan pemerintah dengan standar kelembagaan, sistem distribusi dan SOP penerima yang terstruktur. 

"Tujuannya adalah menjamin ketersediaan pangan di saat darurat," ucapnya.

Gin Gin juga menyoroti pentingnya peran masyarakat dalam menciptakan kemandirian pangan. Ia mengajak warga memanfaatkan lahan tidur, dan pekarangan melalui program Buruan SAE yang terbukti efektif sejak pandemi Covid-19.

“Saya ingat betul. Saat pandemi, masyarakat justru aktif menanam. Hasilnya bisa dikonsumsi sendiri, bahkan waktu itu kami bantu warga yang sedang isolasi,” ujar dia.

Menurut ia, program Buruan SAE kini berkembang dari sekadar inisiatif rumah tangga menjadi peluang ekonomi. Sejumlah kelompok tani urban, telah membentuk koperasi untuk memperkuat ekosistem pangan lokal dari hulu ke hilir.

“Dulu orang menanam itu cuma iseng. Sekarang sudah jadi kegiatan produktif, bahkan ada yang mulai mengarah ke bisnis,” tegas dia.

Tantangan lain datang dari fluktuasi harga hasil pertanian. Menurut Gin Gin, intervensi pemerintah diperlukan agar harga tetap stabil. Terutama ketika biaya produksi tinggi namun harga jual anjlok.

“Pemerintah harus hadir. Dulu ada Bulog, yang bisa beli saat harga jatuh dan melepas stok saat harga naik. Mekanisme seperti ini perlu dihidupkan kembali,” jelasnya.

Pihaknya juga mendorong perubahan perilaku konsumsi di tingkat rumah tangga. Ia mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam berbelanja, memasak dan mengelola makanan agar tidak terbuang sia-sia.

“Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tapi juga konsumsi. Jangan masak atau belanja berlebihan. Makanan yang layak konsumsi jangan dibuang. Ini bukan tugas satu dinas saja, tapi kerja bersama,” tandas dia.***


Editor : JakaPermana