Pemprov Jabar Tetap Fokus Sasar Pasar Lain, Meski Amerika Turunkan Tarif Resiprokal Jadi 19 Persen
Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap konsisten menyasar pasar lain, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menurunkan tarif resiprokal dari 32 persen menjadi 19 persen yang efektif berlaku pada Agustus 2025 mendatang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap konsisten menyasar pasar lain, meski Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menurunkan tarif resiprokal dari 32 persen menjadi 19 persen yang efektif berlaku pada Agustus 2025 mendatang.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Nining Yuliastiani mengatakan, penurunan tarif resiprokal menjadi 19 persen tidak serta merta menjadi angin segar bagi industri Jawa Barat.
Sebab menurutnya, angka tersebut masih terbilang tinggi ketimbang negara lain yang ditetapkan oleh Amerika. Sebab itu, pihaknya tetap akan mengupayakan masuk ke negara lain tanpa harus bergantung dengan pasar Amerika.
"Ya, ini di satu sisi tantangan, tetapi di sisi juga juga menjadi potensi kita untuk mencari pasar lainnya di luar Amerika Serikat," ujar Nining saat ditemui di Kota Bandung, Kamis 17 Juli 2025.
Jabar lanjut dia, memiliki potensi besar untuk masuk ke pasar luar negeri di luar Amerika melalui produk kriya. Seperti di kawasan Eropa dan Afrika, yang memknati produk fashion, furniture dan lainnya dari Jabar.
"Saya kemarin sudah berbicara dengan kementerian juga, bahwa prospek produk kriya kita, termasuk kemudian produk fashion, kemudian furniture dan lain sebagainya itu sangat prospektif diminati negara-negara seperti di Eropa, Afrika dan ternyata tadi betul. Waktu kita ngobrol, posisi produk mereka itu sudah kemudian ada kesempatan untuk kita tawarkan di luar pasar Amerika. Jadi ini jadi penyemangat kita untuk kemudian mencari pasar lainnya selain pasar Amerika," kata Nining.
Sisi lain, penetapan tarif resiprokal yang masih terbilang tinggi, yakni 19 persen juga diakuinya cukup menyulitkan. Apalagi produk Jabar dinilainya, memiliki daya saing lebih baik.
"Iya, karena tetap saja ini kalau di-pairing-kan dengan Vietnam, Malaysia, Filipina dan lain sebagainya, mungkin dalam posisi produk kita bagus, tetapi dari sisi harga kita sangat-sangat berkompetisi dengan negara lain. Nah dalam posisi itu kita juga harus antisipatif nih. Kita tetap pangsa Amerika kita garap juga tetapi kita harus mencari juga pangsa lainnya untuk memperluas pasar," terangnya.
Sementara mengenai produk Amerika yang masuk Indonesia tanpa tarif, imbas dari penurunan tarif resiprokal ekspor ini, Nining mengatakan hal tersebut sejatinya tidak terlalu menjadi ancaman.
Sebab ada perbedaan spesifikasi antara produk dalam negeri, dengan produk Amerika. Sehingga menurutnya masih terbilang aman, karena tidak berkompetisi dengan produk Amerika yang masuk ke Indonesia.
"Sebenarnya produk yang masuk ke kita, itu kebanyakan produk-produk yang memang kita butuhkan dan tidak kita produksi. Misalnya produk pertaniannya itu adalah gandum dan kedelai. Terus kemudian minyak-minyak, gas itu memang mereka memproduksi itu. Dan selama ini kita ekspor dari Timur Tengah. Kita tinggal switching aja. Jadi sebenarnya pada posisi itu, kita tidak berkompetisi terhadap produk yang mereka ekspor dan kemudian produk kita," kata Nining.
Masalah utama bagi tegas Nining adalah, tarif resiprokal yang dibebankan kepada Indonesia masih cukup tinggi. Meski turun signifikan dari 32 persen menjadi 19 persen.
"Tetapi masalahnya adalah karena kita diterapkan tarif yang cukup besar untuk ekspor ke sana, ini berdampak kepada daya saing kita keluar. Dan ini harus kita antisipasi untuk bisa memberikan kualitas produk yang lebih baik, kemudian kita juga harus berinovasi dan juga mencari pangsa lainnya sebanyak mereka," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani
