Pemprov Jabar Ubah Strategi, Ibu Hamil Jadi Fokus Utama Intervensi Stunting
Pemprov Jabar mengubah strategi penanganan stunting dengan fokus terhadap ibu hamil
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyiapkan pendekatan baru dalam perang melawan stunting.
Alih-alih berfokus pada penanganan anak setelah lahir, Pemprov Jabar akan mengarahkan intervensi sejak masa kehamilan, dengan menyasar ibu hamil yang berpotensi mengalami kekurangan gizi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menekan angka stunting dari akar persoalan. Dedi menilai penanganan setelah anak lahir jauh lebih sulit, karena dampak gangguan pertumbuhan sudah terlanjur terjadi dan tidak hanya berkaitan dengan kurangnya asupan makanan.
"Saya sudah punya konsep. Saya sudah tanya Kadinkes untuk membuat sebuah perencanaan kerja, potensi ibu stunting itu ditangani sejak kehamilan. Ini fokus Provinsi Jawa Barat. Karena ditangani sejak kehamilan, maka orang yang mengalami kehamilan dan berpotensi kekurangan gizi ketika sedang hamil, itu yang segera akan kita tangani," kata Dedi di Kota Bandung, dikutip Kamis (16/7/2026).
Menurutnya, skema yang tengah disusun akan menempatkan bidan sebagai garda terdepan dalam mendeteksi ibu hamil yang berisiko mengalami kekurangan gizi.
Setelah teridentifikasi, kebutuhan nutrisi selama masa kehamilan akan dipetakan secara rinci, agar intervensi dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
Dedi menjelaskan, kebutuhan ibu hamil tidak hanya sebatas makanan tambahan, tetapi juga mencakup vitamin, susu, hingga pemenuhan nutrisi selama sembilan bulan masa kehamilan.
"Polanya adalah nanti bidan yang memeriksa bahwa ini berpotensi hamil bisa langsung nulis resep. Resepnya kebutuhan selama 9 bulan. Nanti kebutuhan vitaminnya apa, nutrisinya apa, makanannya apa, susunya apa, ini akan menjadi fokus kita," ujarnya.
Dedi menegaskan, pencegahan sejak masa kandungan jauh lebih efektif dibandingkan memperbaiki kondisi anak yang sudah terlahir dalam keadaan stunting.
"Nah ini yang fokus kita ke depan. Karena penanganan stunting ketika sudah dilahirkan itu sangat berat, karena problem stunting itu bukan persoalan hanya kekurangan asupan gizi, tetapi anak-anak itu sulit menyerap gizi dan protein ketika sudah terlahir," tuturnya.
Sebelumnya, dalam rapat evaluasi penanganan stunting bersama 27 kabupaten/kota, merujuk data 2024 ada enam daerah yang menjadi sorotan. Sebab terjadi lonjakan stunting signifikan, padahal dalam data yang sama, kasus stunting di Jawa Barat diklaim turun, di angka 15,9 persen.
Enam daerah tersebut yakni Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Bogor, Kabupaten Karawang, Kabupaten Sumedang dan Kota Bekasi.
Khususnya Kabupaten Bandung Barat (KBB), yang melonjak signifikan. Dari 2022 sebesar 27,3 persen, turun pada 2023 menjadi 25,1 persen. Namun melonjak lagi di 2024 menjadi 30,8 persen.
Catatab tersebut menjadi bahan evaluasi bersama Pemprov Jabar dan kabupaten/kota, sebab pada tahun ini ditargetkan stunting hanya 5 persen, demi mewujudkan zero new stunting di 2026.
Editor : Ahmad Sayuti
