Petani di Soreang Semakin Kesulitan Tenaga Kerja dan Tergerus Alih Fungsi Lahan
Sawah-sawah di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, masih digarap. Namun, di balik aktivitas pertanian yang terus berjalan, ada persoalan yang kian terasa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Sawah-sawah di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, masih digarap. Namun, di balik aktivitas pertanian yang terus berjalan, ada persoalan yang kian terasa semakin sulit mencari tenaga kerja untuk mengolah lahan hingga menanam padi.
petani kini tak hanya berjibaku dengan persoalan cuaca, hama, dan menyusutnya lahan pertanian. Mereka juga harus menghadapi kenyataan bahwa generasi muda semakin sedikit yang bersedia turun ke sawah.
Ketua Kelompok Tani Sejahtera Desa Pamekaran Ade Rasmana (60) merasakan betul perubahan tersebut. Selama bertahun-tahun menggeluti dunia pertanian, dia menyaksikan tenaga kerja di sawah semakin terbatas. Pekerja yang masih bertahan rata-rata berusia di atas 50 tahun.
Sementara itu, anak-anak muda lebih tertarik bekerja di pabrik maupun pertokoan yang dianggap menawarkan pekerjaan lebih ringan dengan penghasilan lebih menjanjikan.
Akibatnya, setiap musim tanam tiba, petani harus berburu tenaga kerja. Pekerja yang jumlahnya terbatas pun harus dibagi secara bergiliran untuk memenuhi kebutuhan sejumlah pemilik dan penggarap sawah di Soreang dan sekitarnya.
"Seperti untuk kebutuhan tandur, dalam satu hektare itu diperlukan sekitar 20 orang tenaga kerja. Tapi karena sulitnya mencari pekerja, satu hektare itu dikerjakan oleh sekitar enam orang saja. Memang rata-rata usia pekerja yang masih mau turun ke sawah di atas 50 tahun, jarang sekali yang masih muda di bawah 30 tahun," kata Ade kepada INILAHKORAN.ID, Rabu (14/10/2026).
Tenaga Kerja Langka, Biaya Produksi Membengkak
Keterbatasan tenaga kerja membuat proses penggarapan sawah tak lagi mudah. Petani harus menyesuaikan pekerjaan dengan ketersediaan buruh yang ada. Tak jarang, tenaga kerja didatangkan dari luar Kecamatan Soreang untuk memenuhi kebutuhan di lapangan.
Bahkan, pekerjaan mengangkut hasil panen dari tengah sawah menuju tepi jalan pun membutuhkan tenaga tambahan dari luar wilayah.
Ade mencontohkan, upah memikul hasil panen dari tengah sawah ke tepi jalan raya mencapai Rp10.000 per karung. Pekerja yang melakukan pekerjaan tersebut bahkan didatangkan dari Kecamatan Banjaran.
Kondisi itu memperlihatkan bagaimana persoalan regenerasi petani bukan sekadar menyangkut minimnya jumlah orang yang bersedia bekerja di sawah. Kelangkaan tenaga kerja juga berdampak langsung terhadap biaya yang harus ditanggung petani.
"Anak-anak muda sekarang sudah tidak tertarik untuk bekerja di sawah. Mereka lebih memilih kerja di pabrik dan pertokoan, mungkin dirasa lebih ringan serta upahnya besar," ujar Ade, warga Kampung Mulyasari, Desa Cingcin, Kecamatan Soreang.
Bagi petani, persoalan ini menjadi tantangan tersendiri. Ketika tenaga kerja semakin sulit diperoleh, pekerjaan yang membutuhkan banyak orang harus diselesaikan dengan jumlah pekerja seadanya. Di sisi lain, kebutuhan tenaga kerja tidak bisa dihilangkan begitu saja, terutama pada tahapan budidaya yang masih mengandalkan pekerjaan manual.
Teknologi Pertanian Belum Sepenuhnya Menjadi Solusi
Di tengah sulitnya mencari buruh sawah, penggunaan teknologi pertanian sebenarnya diharapkan bisa menjadi jalan keluar. Mesin dan peralatan modern semestinya dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap tenaga manusia.
Namun, menurut Ade, penerapan teknologi pertanian tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kondisi lahan menjadi salah satu kendala, terutama pada sawah yang basah dan berlumpur.
Dia menilai, sejumlah alat pertanian bantuan pemerintah tidak bisa dimanfaatkan secara optimal karena tidak sesuai dengan karakteristik lahan yang digarap petani.
"Karena lahan di Indonesia sama di luar negeri berbeda. Seperti di luar negeri itu lahan sawahnya kering dan berpasir. Nah, kalau di Indonesia lahannya basah, jadi kalau mesin masuk ke dalam lahan sawah, ya terperosok," katanya.
Pengalaman tersebut membuat persoalan mekanisasi pertanian tak cukup diselesaikan dengan menyediakan alat. Kesesuaian teknologi dengan kondisi lahan, kebutuhan petani, dan karakteristik wilayah juga menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Bagi petani di Soreang, teknologi seharusnya membantu pekerjaan mereka, bukan justru menjadi peralatan yang sulit digunakan ketika dibutuhkan.
Sawah Menyempit, Hama dan Pendapatan Ikut Jadi Persoalan
Persoalan petani di Soreang tak berhenti pada kelangkaan tenaga kerja. Mereka juga menghadapi tekanan akibat alih fungsi lahan yang terus berlangsung seiring pembangunan kawasan.
Menyusutnya lahan garapan membuat ruang bagi aktivitas pertanian semakin terbatas. Di saat bersamaan, petani juga harus menghadapi serangan hama yang menurut Ade semakin mengganggu, termasuk hama yang disebutnya kungkang.
"Pembangunan yang terus terjadi di kawasan Soreang, ya otomatis lahan garapan sawah kami juga terus berkurang. Dampak yang kami rasakan salah satunya serangan hama jadi lebih ganas, karena lahannya sedikit jadi hama lebih berkumpul. Selain itu, pendapatan kami pun terus menurun drastis," katanya.
Bagi petani penggarap, berkurangnya lahan bukan hanya berarti semakin sedikit area yang bisa ditanami. Kondisi tersebut juga menambah tekanan terhadap penghasilan mereka, terlebih ketika biaya produksi harus dihadapkan dengan kebutuhan tenaga kerja yang semakin mahal.
Situasi ini menempatkan petani dalam persoalan berlapis. Mereka harus mempertahankan produktivitas di tengah keterbatasan tenaga kerja, menghadapi hama, sekaligus menyaksikan lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan perlahan menyusut.
Bertahan dengan Lahan Garapan
Kelompok Tani Sejahtera yang dipimpin Ade saat ini memiliki 45 anggota dengan luas lahan garapan sekitar 25 hektare. Namun, sebagian besar anggota kelompok bukan pemilik lahan, melainkan petani penggarap. Sementara itu, pemilik lahannya banyak berasal dari luar Kabupaten Bandung.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa keberlangsungan pertanian di Soreang juga bergantung pada kemampuan para penggarap mempertahankan usaha tani di atas lahan yang bukan milik mereka sendiri.
Di tengah semakin terbatasnya tenaga kerja muda, persoalan teknologi yang belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi sawah, serta alih fungsi lahan, para petani harus mencari cara agar kegiatan pertanian tetap berjalan.
Bagi Ade dan puluhan anggota kelompok taninya, sawah bukan sekadar tempat bekerja. Di sanalah penghidupan mereka bergantung. Namun, ketika tenaga yang menggarap semakin sulit dicari dan lahan terus menyempit, masa depan pertanian lokal menjadi pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan.
Regenerasi petani pun menjadi persoalan penting. Sebab, jika semakin sedikit generasi muda yang bersedia turun ke sawah, keberlanjutan pertanian bukan hanya menghadapi masalah hari ini, tetapi juga tantangan untuk musim-musim tanam berikutnya.
Editor : Doni Ramdhani
