PGE Kamojang Dongkrak Kapasitas Produksi Petani Sekitar Tembus 70 Ton Kubis

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang mengusung tema “Dari Panas Bumi, Tumbuh untuk Masa Depan Berkelanjutan” di Desa Laksana, Kecamatan Ibun.

PGE Kamojang Dongkrak Kapasitas Produksi Petani Sekitar Tembus 70 Ton Kubis
Di lereng PGE Kamojang, manfaat panas bumi tidak berhenti pada listrik. Bagi para petani di Desa Laksana, energi dari perut bumi kini terasa lebih dekat dengan keseharian. Limbah organik diolah menjadi pupuk, ditaburkan ke tanah, dan perlahan berubah menjadi panen yang melimpah. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Sepanjang September lalu, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Kamojang mengusung tema “Dari Panas Bumi, Tumbuh untuk Masa Depan Berkelanjutan” di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung.

Di lereng PGE, manfaat panas bumi tidak berhenti pada listrik. Bagi para petani di Desa Laksana, energi dari perut bumi kini terasa lebih dekat dengan keseharian. Limbah organik diolah menjadi pupuk, ditaburkan ke tanah, dan perlahan berubah menjadi panen yang melimpah.

Manfaat aplikasi pupuk GeO-Fert itu terbukti memberikan kesejahteraan petani sekitar. Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana menghasilkan sekitar 70 ton kubis varietas Granova melalui penerapan GeO-Fert, inovasi pupuk organik yang memanfaatkan panas bumi dalam proses produksinya.

Kubis yang dipanen memiliki ukuran relatif besar. Beberapa di antaranya mencapai bobot sekitar 6 kilogram (kg) per buah, lebih besar dibandingkan rata-rata kubis lokal lainnya yang berkisar 3 kg. 

Panen tersebut menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta, sementara penggunaan GeO-Fert turut menghemat biaya pembelian pupuk sekitar Rp20 juta.

Bagi petani, angka tersebut bukan sekadar hasil panen. Di baliknya, ada perjalanan panjang dalam mengolah limbah untuk menciptakan nilai tambah sekaligus mencari solusi atas tantangan biaya produksi dan ketersediaan pupuk.

Pertanian menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Kamojang. Namun, harga dan akses pupuk menjadi tantangan bagi petani, sementara kondisi dataran tinggi membuat pengeringan pupuk organik secara konvensional membutuhkan waktu relatif lama.

Di tengah kondisi tersebut, KTH Cikondang bersama PGE Area Kamojang mengembangkan Geothermal Organic Fertilizer atau GeO-Fert. Inovasi ini memanfaatkan ekses uap Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang bersuhu sekitar 60–70°C untuk mempercepat proses pengeringan pupuk organik. Proses yang sebelumnya dapat membutuhkan waktu hingga sekitar 14 hari pun kini dapat dipangkas menjadi sekitar 12 jam.

Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan, inovasi ini menjadi salah satu contoh pemanfaatan panas bumi di luar pembangkitan listrik atau Beyond Electricity.

"Pencapaian teman-teman petani dalam memanen 70 ton kubis varietas Granova menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami, terlebih di tahun ketika kita memperingati satu abad pengembangan panas bumi nasional. Selama ini, panas bumi memang lebih dikenal sebagai sumber listrik. Namun lewat GeO-Fert, panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani. Itulah semangat Beyond Electricity yang terus kami dorong, supaya manfaat panas bumi bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat," jelas Andi, Jumat (2/10/2026).

Dalam budidaya kubis kali ini, sekitar 30 ton pupuk GeO-Fert diaplikasikan pada lahan sekitar 1,2 hektare. Pupuk organik padat diberikan pada tahap awal sebelum penanaman, sementara pupuk organik cair diaplikasikan secara berkala setiap 15 hari selama masa budidaya. 

Bagi KTH Cikondang, proses tersebut menjadi bagian dari perjalanan untuk membangun kemandirian. Tidak hanya menerima pupuk, masyarakat juga terlibat dalam proses produksi dan pemanfaatannya.

Ketua KTH Cikondang Kamojang Asep Muhamad Deni mengatakan, “Manfaat dari GeO-Fert ini bukan cuma bisa memproduksi pupuk sendiri, tapi juga melihat limbah yang tadinya tidak terpakai bisa dimanfaatkan kembali untuk lahan. Dari sana, pupuk GeO-Fert bisa membantu menyuburkan tanah dan mendukung hasil panen para petani.”

Sebelumnya, pada April 2026, PGE Area Kamojang bersama masyarakat juga melaksanakan Panen Raya Kentang GeO-Fert HAREPAN. Dari lahan sekitar 4.200 meter persegi, produktivitas pada lahan dengan GeO-Fert mencapai 7.581 kilogram, dibandingkan sekitar 4.525 kilogram dengan metode konvensional. 
Biaya produksi kentang juga turun dari sekitar Rp 73,1 juta per tahun menjadi Rp49,5 juta per tahun, atau hemat sekitar Rp 23,5 juta per tahun. GeO-Fert kini juga dimanfaatkan untuk budidaya beberapa komoditas lain, termasuk cabai, tomat, dan labu siam.

Bagi petani kubis Hendro Gunawan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pertanian juga perlu tumbuh bersama inovasi.

“Tantangan pertanian sekarang adalah bagaimana kita bisa bersahabat dengan lingkungan dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Kita perlu terus membuka mata dan berinovasi. Kolaborasi panas bumi dengan pertanian menjadi salah satu contoh nyata. Jadi, pertanian bukan hanya soal pengetahuan turun-temurun, tetapi juga tentang inovasi, hasil, dan bukti nyata,” ujarnya.

Sementara itu, General Manager PGE Area Kamojang Albertus Novi Purwono mengatakan, HAREPAN memperlihatkan bagaimana pemanfaatan panas bumi dapat terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“Hari ini, kita melihat bagaimana energi panas bumi dapat terhubung dengan pengelolaan limbah organik dan pertanian hingga menghasilkan panen yang memberikan nilai tambah bagi petani. Panen kubis ini menjadi bukti bahwa inovasi yang dikembangkan bersama masyarakat dapat terus tumbuh dan memberikan manfaat nyata bagi produktivitas maupun efisiensi usaha tani,” ujarnya.

GeO-Fert merupakan bagian dari pengembangan Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah yang turut diperkuat dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) mandiri berkapasitas 6,6 kWp dan baterai 20 kWh. Melalui ekosistem ini, energi bersih, pengelolaan limbah, dan kegiatan produktif masyarakat dikembangkan secara terintegrasi.


Editor : Doni Ramdhani