PT DI Ungkap Keunggulan Pesawat N219, TKDN Bisa Capai 65 Persen

PT Dirgantara Indonesia menyebut TKDN pesawat N219 saat ini 44,69 persen dan berpeluang meningkat hingga 65 persen jika diproduksi massal. Salin deskripsi

PT DI Ungkap Keunggulan Pesawat N219, TKDN Bisa Capai 65 Persen
PT Dirgantara Indonesia menyebut TKDN pesawat N219 saat ini 44,69 persen dan berpeluang meningkat hingga 65 persen jika diproduksi massal. Salin deskripsi

INILAHKORAN.ID – Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (Persero), Gita Amperiawan, menyatakan pesawat N219 merupakan hasil pengembangan industri dirgantara nasional yang melibatkan industri pertahanan dan perguruan tinggi dalam negeri.

Gita mengatakan, pengembangan pesawat tersebut dilakukan tanpa tenaga pendamping teknis dari luar negeri. Saat ini, tingkat komponen dalam negeri (TKDN) N219 tercatat sebesar 44,69 persen.

“Pesawat N219 adalah pesawat seratus persen karya anak bangsa. Tingkat kandungan dalam negerinya (TKDN) 44,69 persen,” ujar Gita saat kegiatan eksplorasi industri pertahanan bersama pers di Bandung, Jawa Barat, Selasa.

Menurut Gita, pengembangan N219 melibatkan sekitar 16 industri pertahanan nasional dan empat perguruan tinggi dalam negeri. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian dari penguatan kemampuan industri nasional dalam mengembangkan pesawat.

N219 merupakan pesawat turboprop bermesin ganda dengan kapasitas hingga 19 penumpang. Pesawat ini dirancang untuk melayani penerbangan perintis, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan infrastruktur bandara.

Salah satu keunggulan yang disoroti adalah kemampuannya beroperasi pada landasan pacu sepanjang sekitar 600 hingga 800 meter. N219 juga dirancang untuk dapat beroperasi di landasan yang tidak beraspal atau unpaved runway.

N219 Dibidik untuk Penerbangan Perintis

Gita menyebut sekitar 100 bandara perintis di Indonesia memiliki landasan pacu kurang dari satu kilometer. Dari jumlah tersebut, sekitar 50 bandara disebut memiliki landasan yang tidak beraspal.

Kondisi tersebut dinilai sesuai dengan karakteristik pesawat N219 yang dikembangkan untuk mendukung konektivitas udara ke wilayah dengan keterbatasan infrastruktur.

“Ini cocok dengan N219,” katanya.

Selain untuk penerbangan komersial, N219 juga dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan militer. Kedua varian tersebut menggunakan basis pesawat yang sama, tetapi dapat dibedakan berdasarkan persyaratan sertifikasi dan kebutuhan operasional.

Untuk penggunaan militer, Gita mencontohkan adanya penyesuaian sesuai kebutuhan TNI, termasuk untuk mendukung kegiatan penerjunan personel.

Produksi Massal Berpeluang Tingkatkan TKDN

PT DI juga berupaya meningkatkan keterlibatan industri nasional dalam rantai produksi N219. Gita memperkirakan tingkat komponen dalam negeri pesawat tersebut dapat meningkat hingga 65 persen apabila produksi dilakukan secara massal.

Peningkatan TKDN diharapkan dapat memperbesar kontribusi industri dalam negeri dalam pembuatan pesawat, sekaligus memperkuat kapasitas industri dirgantara nasional.

Dengan pengembangan untuk kebutuhan komersial dan militer, N219 menjadi salah satu program pesawat nasional yang diarahkan untuk mendukung konektivitas wilayah sekaligus memperluas kemampuan industri penerbangan Indonesia.***


Editor : JakaPermana