Puluhan Tahun Tak Dilirik Pemerintah, Rumah Warga Asal Cikalongwetan KBB Ini Nyaris Ambruk
Seulas senyum simpul dengan ekspresi lelah terlihat jelas di raut wajah Yadi Suryadi (52) warga Kampung Cikara II RT01/12, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Seulas senyum simpul dengan ekspresi lelah terlihat jelas di raut wajah Yadi Suryadi (52) warga Kampung Cikara II RT01/12, Desa Cisomang Barat, Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ini.
Dengan mengenakan kemeja batik berwarna cokelat dan topi loreng, Yadi menghentikan gerobak tua pengangkut rumput yang selama ini menjadi sarana untuk mengais rezeki.
Bersama seorang istri dan delapan orang anaknya, Yadi tinggal di sebuah rumah dengan kondisi yang amat memperihatinkan dengan kondisi yang tidak laik huni.
Pantauan di lokasi, kondisi rumah Yadi merupakan rumah panggung tempo dulu dengan dinding bambu yang sudah rapuh. Bahkan, lubang-lubang berukuran besar terlihat jelas di beberapa ruangan, terutama di bagian dapur dan ruang tamu yang sempat ambruk dan menimpa sejumlah barang, seperti rak piring hingga kasur.
Tak cuma itu, tiang-tiang kayu penyangga di rumah berukuran 7x9 meter tersebut terlihat sudah lapuk dimakan usia. Bahkan, tatkala hujan tiba air masuk melalui atap yang sudah rusak dan masuk membanjiri rumah dengan lantai kayu tersebut.
"Saya bersama keluarga sudah mendiami rumah ini sekitar 20 tahunan. Rumah ini dulunya punya orang tua," kata Yadi, Rabu 22 Januari 2025.
Yadi mengaku, saat hujan tiba rumah yang dihuninya tersebut kerap banjir. Apalagi bersamaan dengan angin kencang yang membuatnya kian khawatir rumahnya bisa ambruk secara permanen.
"Bukan bocor lagi, di bagian ruang tamu dan dapur udah pernah ambruk karena kondisinya udah lapuk. Bahkan, kasur sampai peralatan masak juga ketimpa," kata Yadi.
Meski begitu, ungkap Yadi, dirinya bersama keluarganya tak bisa berbuat banyak lantaran kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk merenovasi rumah yang telah puluhan tahun dihuninya.
"Kerja saya serabutan, pagi nyari rumput buat pakan kambing orang. Setelah itu, saya ngajar ngaji anak-anak kampung sini. Jadi penghasilan saya enggak tentu," ungkapnya.
Apalagi, sambung Yadi, dirinya juga harus membiayai ke delapan anaknya. Meskipun, dirinya dibantu sang istri Azijah (42) yang bekerja sebagai buruh di pabrik basreng.
"Anak saya 8 orang, SD ada 3 orang, 2 di pondok pesantren dan 3 masih kecil-kecil. Istri juga kerja kuli bungkus di pabrik basreng dengan gaji Rp150 ribu per minggu," ujarnya.
Yadi mengaku, dirinya sempat ingin memperbaiki rumahnya itu, namun kondisi ekonomi yang tak memungkinkan membuatnya tak mampu untuk melakukan perbaikan.
"Kondisinya gak memungkinkan, kadang-kadang saya coba sedikit untuk memperbaiki dengan mengumpulkan bambu atau kayu yang dikasih orang. Saya pake kayu atau bambu itu buat nahan atap yang ambruk di belakang (dapur)," ujarnya.
Menurutnya, hingga kini rumah tersebut belum pernah sedikitpun mendapatkan bantuan dari pemerintah. Meski sempat dulu ada aparat kewilayahan yang sempat menyampaikan keluarganya sudah didaftarkan dalam program rumah tidak layak huni (rutilahu), namun hingga bertahun lamanya wacana itu tak pernah terealisasi.
"Belum pernah ada bantuan, jangankan rutilahu bantuan seperti PKH pun belum pernah kami terima. Tapi, saya dikasih dari warga yang nerima bantuan PKH seperti beras dan lainnya," ucapnya.
Yadi mengungkapkan, dirinya hanya bisa berdoa dan pasrah kepada Allah Ta'ala semoga rumah tempatnya berkumpul dan bernaung bersama keluarganya bisa diperbaiki, sehingga aman dan nyaman untuk ditinggali.
"Kalau saya mah balik lagi ke pribadi, mudah-mudahan ada rezeki yang tak terduga dari Allah untuk memperbaiki rumah ini," ungkapnya.
Editor : Doni Ramdhani
