Ribuan Pelaku Ekonomi Kreatif di Kabupaten Bandung Belum Terdata
Potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Bandung dinilai sangat besar. Meski diperkirakan mencapai puluhan ribu, baru sekitar 2.000 pelaku usaha yang terdaftar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Potensi ekonomi kreatif di Kabupaten Bandung dinilai sangat besar. Meski diperkirakan mencapai puluhan ribu pelaku usaha, baru sekitar 2.000 pelaku yang telah terdata dan lolos proses kurasi berdasarkan Nomor Induk Berusaha (NIB).
Kepala Bidang ekonomi kreatif Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan ekonomi kreatif (Disparekraf) Kabupaten Bandung Apep Imadudin mengatakan, masih banyak pelaku ekonomi kreatif yang belum masuk dalam basis data pemerintah.
"Jumlah pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Bandung itu puluhan ribu. Namun yang sudah kami kurasi berdasarkan NIB itu baru sekitar 2.000 pelaku. Saya yakin masih banyak yang belum terdata," kata Apep kepada INILAHKORAN.ID di Soreang, Kamis (16/7/2026).
Dia menjelaskan, pelaku ekonomi kreatif yang telah terdata didominasi sektor kriya, fesyen, dan kuliner. Dari ketiga sektor tersebut, sekitar 60 persen bergerak di bidang fesyen. Di luar itu, Kabupaten Bandung juga memiliki potensi besar pada subsektor lain seperti seni pertunjukan, film, penerbitan, karya tulis hingga berbagai industri kreatif lainnya.
Menurut Apep, esensi ekonomi kreatif terletak pada kreativitas dan inovasi yang mampu menghadirkan nilai tambah sehingga memiliki daya saing di pasar.
"Sektor ekonomi kreatif itu sesuatu yang berbeda sehingga mempunyai nilai lebih dan daya tarik ekonomi. Misalnya pedagang cilok, kalau produknya diberi inovasi seperti aneka topping atau konsep yang berbeda, tentu akan lebih menarik dibanding produk sejenis. Jadi kuncinya ada pada kreativitas dan inovasi," ujarnya.
Disparekraf Kabupaten Bandung, lanjut Apep, saat ini memfokuskan pembinaan kepada pelaku ekonomi kreatif skala menengah ke bawah. Sebab, kelompok usaha tersebut dinilai masih membutuhkan pendampingan agar mampu berkembang menjadi pelaku usaha yang lebih mandiri dan berdaya saing.
"Kalau pelaku yang sudah menengah ke atas umumnya sudah kuat. Yang menjadi perhatian kami adalah pelaku Ekraf menengah ke bawah agar terus didorong sehingga bisa tumbuh menjadi kekuatan ekonomi masyarakat," katanya.
Selain peningkatan kualitas produk, Apep juga menilai pelaku usaha harus mulai membangun identitas merek atau branding. Menurutnya, banyak pelaku UMKM hanya fokus menghasilkan produk berkualitas, tetapi belum memperhatikan kekuatan merek di mata konsumen.
Dia mencontohkan sejumlah merek restoran yang tetap ramai dikunjungi karena telah memiliki citra yang kuat di benak masyarakat.
"Kalau sebuah merek sudah melekat di ingatan konsumen, orang tidak lagi terlalu mempermasalahkan perbedaan rasa atau harga. Mereka datang karena percaya pada mereknya. Itulah kekuatan ekonomi kreatif, bukan hanya produknya yang bagus, tetapi juga ide, inovasi, dan brand image yang kuat," ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani

