Riuh Tawa Sobat Jiwa

KEPEDULIAN terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor antara Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya dan Seven Barber.

Riuh Tawa Sobat Jiwa
BAKSOS: Kegiatan bakti sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis dan cukur rambut bagi warga binaan Yayasan Mentari Hati, Jalan Letjen Mashudi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Rabu (21/10).(INILAH/NUNUNG NUROHMAN)

Oleh: Nunung Nurohman

Rabu (21/10) siang WIB, suasana di Yayasan Mentari Hati, Kota Tasikmalaya terasa berbeda. Riuh rendah tawa terdengar di antara deru mesin cukur rambut dan obrolan hangat.

Hari itu, ratusan warga binaan—yang akrab disapa "Sobat Jiwa"—mendapatkan sentuhan kasih sayang yang nyata lewat aksi kolaborasi antara Pemkot Tasikmalaya dan Seven Barber.

Bukan sekadar formalitas, kegiatan bakti sosial ini menjadi oase kebahagiaan. Para warga binaan tidak hanya mendapatkan pemeriksaan kesehatan gratis, tetapi juga dimanjakan dengan potongan rambut baru agar tampil lebih rapi dan segar.

Kehadiran Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Diky Chandra, membawa kehangatan tersendiri bagi seisi yayasan. Bagi mereka, kunjungan ini bukan sekadar kunjungan pejabat, melainkan hadirnya sosok pelindung.

Ketua Yayasan Mentari Hati, Dadang Heryadi, tidak bisa menyembunyikan rasa haru dan bahagianya atas perhatian tulus yang mengalir untuk 264 warga binaan yang diasuhnya.

"Tanggapannya sangat bahagia, sangat berterima kasih. Alhamdulillah sekarang Bapak Wakil mewakili Pak Wali Kota telah datang bersilaturahmi ke tempat kami. Bener-bener bahagia, telah ditengok sama bapak kita semua," ungkap Dadang dengan mata berkaca-kaca.

Bagi ODGJ, perawatan diri seperti memotong rambut bukan sekadar urusan penampilan, melainkan cara memanusiakan manusia dan mengembalikan martabat mereka.

Beruntung, kepedulian ini bukan hal baru bagi Seven Barber, yang memang sudah rutin datang untuk merapikan rambut para Sobat Jiwa di sana.

Selain penampilan yang lebih segar, perlindungan hak dasar para warga binaan kini semakin nyata.

Dadang menceritakan sebuah kabar baik: kini seluruh warga binaan telah memiliki identitas resmi berupa KTP dan Kartu Keluarga (KK) sendiri—tidak lagi menumpang di dokumen pribadinya.

Berbekal identitas tersebut, mereka kini mengantongi Kartu Indonesia Sehat (KIS). Akses pengobatan ke puskesmas pun kini terbuka lebar tanpa ada lagi keraguan atau rasa minder.

Aksi hari itu menjadi pengingat bagi kita semua: di balik keterbatasan mental yang mereka miliki, para Sobat Jiwa adalah bagian dari kita yang merindukan sentuhan, sapaan, dan penerimaan yang tulus tanpa stigma.

Manager Seven Barber, M. Zulfikar Syarif, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepedulian sosial sekaligus rangkaian peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya.

"Jadi kita ini lebih ke sosial, memperingati hari jadi kota tasik juga, berkunjung ke sahabat-sahabat kita yang ada diaini," ujar Zulfikar.

Selain memberikan layanan cukur rambut, Seven Barber turut menyerahkan alat cukur baru untuk mendukung kegiatan tersebut. Ia menilai, proses pelayanan kepada warga binaan berjalan dengan baik karena mereka sudah terbiasa berinteraksi dengan tim Seven Barber.

"Gak susah kalau cukur mereka, sobat jiwa disini sudah biasa, sudah kenal juga, gak ada yang aneh aneh," ucapnya.

"Kita harus saling suport sesama manusia," tambah Zulfikar.

Sinergi Sementara itu Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra menegaskan, pemerintah daerah membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk menjawab persoalan sosial di masyarakat.

Menurutnya, keterbatasan kemampuan pemerintah membuat sinergi dengan komunitas, pelaku usaha, dan elemen masyarakat lainnya menjadi penting.

"Semua sudah tahu kondisi pemerintahan di seluruh Indonesia termasuk kota Tasikmalaya tidak mungkin mengerjakan sendiri, maka butuh sekali sinergitas sektor dan elemen lain," kata Diky.

Ia mengapresiasi upaya Yayasan Mentari Hati yang selama ini mendampingi warga dengan gangguan jiwa. Diky juga menyoroti kebutuhan fasilitas penanganan sosial, termasuk rumah singgah bagi lansia dan ODGJ.

"Mentari hati ini luar biasa, pemkot hari ini belum punya rumah singgah buat orang jompo maupun ODGJ dan lain-lain," ujarnya.

Diky menyebut, pengelolaan yayasan membutuhkan dukungan berkelanjutan. Salah satu kebutuhan yang disampaikan pengelola, kata dia, berkaitan dengan rencana pengelolaan sampah yang memerlukan biaya.

"Saya tidak menjanjikan apa-apa tapi akan berusaha maksimal untuk apa yang disampaikan, apakah itu dari pusat atau CSR, insyaAllah saya akan berikhtiar semaksimal mungkin," tuturnya. (bsf)


Editor : Inilahkoran