Rusak Kesehatan Fisik dan Mental, DP3AKBP2KB Kota Cimahi Khawatir Kecanduan Gadget pada Anak jadi Pintu Masuk Praktik Judol
Fenomena kecanduan gawai atau gadget di kalangan anak-anak di Kota Cimahi kian menjadi kekhawatiran banyak pihak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Fenomena kecanduan gawai atau gadget di kalangan anak-anak di Kota Cimahi kian menjadi kekhawatiran banyak pihak.
Pasalnya, dampak negatif dari kecanduan gadget ini tak hanya merusak kesehatan fisik dan mental, produktivitas, serta kualitas hidup saja, melainkan menjadi pintu masuk praktik judi online atau judol.
Menindaklanjuti kondisi itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKBP2KB) Kota Cimahi melakukan sejumlah langkah pencegahan.
Sebab, upaya tersebut merupakan kunci utama sebelum anak-anak terjerumus lebih jauh dalam perilaku adiktif, seperti upaya sosialisasi yang dilakukan oleh sejumlah mitra pemerintah.
"Kita akan mulai dari pencegahannya dulu, karena segala sesuatu harus disosialisasikan dengan benar. Harapannya anak-anak itu paham, sehingga tidak mencoba untuk terlibat judi online lebih jauh lagi," kata Kepala DP3AKBP2KB Kota Cimahi Fitriani Manan, belum lama ini.
Umumnya, jelas Fitriani, anak-anak mulai terpapar dari aktivitas bermain game online. Dari sana, mereka diberi kemenangan-kemenangan kecil yang memancing ketagihan.
Menurutnya, jika tidak dilakukan intervensi sejak dini maka potensi anak terjerembab untuk bermain judi online sangat besar.
"Karena sifatnya itu IT, mungkin kita mensosialisasikan pada anak-anak melalui mitra yang tergabung untuk sosialisasinya. Sosialisasi dilakukan melalui sekolah-sekolah melalui Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga)," ujarnya.
Selain Puspaga, sebut Fitriani, sosialisasi juga melibatkan berbagai lembaga lain seperti Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A), Forum Anak, Forum Puspa, guru Bimbingan Konseling (BK), hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Namun, ungkap Fitriani, pendekatan dengan teman sebaya kerap kali lebih efektif dalam menyampaikan pesan edukasi.
"Kami pantau, MUI mulai bergerak melalui program MUI Goes to School. Mereka membahas tentang usia perkawinan, bahaya narkoba, serta judi online," sebutnya.
Melalui kolaborasi dengan guru BK di sekolah, DP3AKBP2KB bisa melakukan pemantauan secara lebih seksama.
Namun, kata Fitriani, bila guru menemukan tanda-tanda awal kecanduan, anak akan diarahkan ke layanan Puspaga untuk mendapatkan konseling yang tidak hanya melibatkan anak, tapi juga keluarganya.
"Karena di Puspaga yang akan dikonseling tidak hanya anak yang bermasalah, namun melibatkan keluarganya," katanya.
Lebih lanjut Fitriani menjelaskan, konseling di Puspaga bertujuan menggali akar persoalan dari perilaku adiktif yang muncul pada anak yang bisa jadi berasal dari kurangnya perhatian atau waktu bersama orang tua.
Sehingga, anak yang merasa sendiri bisa mencari pelarian melalui game atau dunia maya.
"Puspaga dikhususkan untuk menyelesaikan permasalahan yang belum berhadapan dengan hukum. Bila sudah masuk ranah hukum, maka akan diserahkan ke P2TP2A," bebernya.
Editor : Doni Ramdhani
