Tahun Ini Ekspor Rotan di Kabupaten Cirebon Diprediksi Bangkit
Ekspor rotan dan furnitur di Kabupaten Cirebon diperkirakan kembali mengalami peningkatan pada 2026 setelah sempat jalan di tempat sepanjang 2025.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - ekspor rotan dan furnitur di Kabupaten Cirebon diperkirakan kembali mengalami peningkatan pada 2026 setelah sempat jalan di tempat sepanjang 2025.
Pemerintahan Kabupaten Cirebon menilai industri rotan daerah masih mampu bertahan di tengah tekanan pasar global dan kenaikan biaya bahan baku impor.
Data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten menyebutkan, nilai ekspor rotan dan furnitur pada 2025 tercatat sebesar US$126,84 juta. Nilai tersebut menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai US$156,97 juta. Namun, masih lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2023 sebesar US$102,79 juta.
Kepala Disperdagin Kabupaten Cirebon Suhartono mengatakan, tren industri rotan Cirebon sejauh ini masih menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.
“Secara umum ekspor rotan Cirebon masih cukup kuat. Penurunan tahun lalu belum memengaruhi prospek industri secara keseluruhan,” kata Suhartono, Kamis 7 Mei 2025.
Dia menyebutkan, peluang peningkatan ekspor pada tahun ini masih terbuka, terutama karena pelaku industri terus menjaga kualitas produk dan memperluas kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pasar internasional.
Alasannya, selama ini Kabupaten Cirebon dikenal sebagai salah satu pusat industri rotan terbesar di Indonesia. Produk furnitur rotan dari daerah tersebut telah dipasarkan ke sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat, kawasan Eropa, dan Timur Tengah.
Menurut Suhartono, tren penggunaan produk ramah lingkungan di pasar global turut menjadi faktor yang menjaga permintaan furnitur berbahan rotan tetap tinggi.
Meski demikian, industri rotan masih menghadapi tantangan, terutama ketergantungan pada bahan penunjang impor seperti bahan finishing dan pernis berbasis minyak bumi.
“Kebutuhan bahan impor memang masih ada, tetapi pengaruhnya terhadap ekspor belum terlalu besar,” ujarnya.
Untuk mengurangi dampak tersebut, pelaku usaha disebut mulai melakukan efisiensi produksi serta menghadirkan inovasi desain agar produk tetap kompetitif di pasar luar negeri.
"Pemerintahan daerah juga terus melakukan pendampingan terhadap pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) rotan dan furnitur. Salah satunya melalui program pembinaan yang digelar pada 14–17 April 2026 dengan melibatkan 30 pelaku usaha di Kabupaten Cirebon," paparnya.
Dia mengaku, program itu difokuskan pada peningkatan desain produk, inovasi model furnitur, kualitas produksi, hingga strategi diversifikasi pasar ekspor.
Suhartono menilai peningkatan kualitas industri menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan ekspor rotan Cirebon ke depan.
“Kalau kualitas dan kapasitas produksi meningkat, maka peluang ekspor juga akan ikut naik,” akunya.
Dia menambahkan, total nilai ekspor Kabupaten Cirebon secara keseluruhan juga menunjukkan pertumbuhan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023 nilai ekspor daerah tercatat sebesar US$354,59 juta, kemudian meningkat menjadi US$423,89 juta pada 2024 dan kembali naik menjadi US$432,05 juta pada 2025.
"Pertumbuhan ekspor ini menjadi indikator penting dalam penguatan ekonomi daerah, khususnya sektor industri pengolahan dan manufaktur yang selama ini menjadi penyumbang utama ekspor daerah," tukasnya.
Editor : Doni Ramdhani
