Tak Hanya Seni Beladiri, Dosen UPI Ini Kembangkan Silat sebagai Media Penyembuhan Penyakit Gerd

Keberadaan pencak silat sebagai salah satu seni beladiri nusantara yang diwariskan secara turun-temurun dan kini menjelma menjadi seni beladiri yang diperhitungkan di kancah internasional.

Tak Hanya Seni Beladiri, Dosen UPI Ini Kembangkan Silat sebagai Media Penyembuhan Penyakit Gerd
Pencipta Jurus Ngaguar Diri, Yuliawan Kasmahidayat mengembangkan pencak silat tidak saja sebatas seni beladiri prestasi, namun telah menjajal dunia kesehatan. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Keberadaan pencak silat sebagai salah satu seni beladiri nusantara yang diwariskan secara turun-temurun dan kini menjelma menjadi seni beladiri yang diperhitungkan di kancah internasional.

Kendati demikian, saat ini perkembangan pencak silat tidak saja sebatas seni beladiri prestasi, namun telah menjajal dunia kesehatan.

Hal itu dibuktikan dengan riset atau penelitian yang dilakukan Pencipta Jurus Ngaguar Diri, Yuliawan Kasmahidayat yang sekaligus menjabat Kepala Pusat Pengembangan Ekonomi Kreatif Kewirausahaan dan Industri Pariwisata (Ekif).

Ia berhasil menciptakan empat jurus yang disebut Jurus Ngaguar Diri yang diyakini mampu menjadi media terapi penyembuhan untuk penyakit, salah satunya gerd atau lambung.

Berawal dari pengalaman pribadinya yang sempat mengalami sakit gerd, menjadi motivasi awal dirinya menciptakan Jurus Ngaguar Diri yang diadaptasi dari pencak silat aliran Cimande.

Ia menjelaskan, nama Jurus Ngaguar Diri tersebut dirinya ciptakan sendiri sebagai jurus yang digunakan sebagai media terapi untuk penyembuhan.

"Kalau itu dikatakan sebagai metode bisa, tetapi kita lebih mengedepankan masuknya lebih ke media alternatif dari sekian banyak media untuk penyembuhan," katanya saat ditemui di Dusun Bambu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu 16 November 2022.

Ia menjelaskan, penyembuhan yang dimaksud secara umum antara lain mulai dari kebugaran dan penyakit.

"Jurus Ngaguar Diri itu sebenarnya saya ciptakan berdasarkan pengalaman pribadi saat saya terkena COVID-19 dan harus dirawat di rumah sakit selama 14 hari," jelasnya yang juga Dosen Prodi Seni Tari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini.

Setelah dua bulan kemudian, sambung dia, dirinya juga terkena gerd atau secara medis adalah kadar asam lambung tinggi yang kemudian jika tidak diantisipasi bakal naik ke jantung dan paru-paru.

Namun, jika masih bisa ditahan jantung dan paru-paru, dengan persiapan dan cara-cara efektif, maka insyaallah bisa diatasi.

"Apabila tekanan asam lambung tersebut telah sampai ke jantung, paru-paru, hingga ke tenggorokan. Bahkan, sampai ke otak, itu yang secara medis biasa ditemukan langsung meninggal," jelasnya.

"Kebetulan basic saya adalah di Departemen Pendidikan Seni Tari UPI yang selama setahun ke belakang melakukan riset di beberapa padepokan, atau perguruan persilatan di Tasikmalaya, Padalarang, Cianjur dan Ciamis," sebutnya.

Selanjutnya, dirinya mencoba meramu sebuah jurus yang baru tahap awal dalam dua tahun kebelakang. Alhasil, ada empat jurus yang diciptakan, di mana dalam setiap jurus diprediksi bisa meminimalisir kadar asam lambung, khususnya tekanannya.

"Kalau untuk kadar sendiri sebenarnya bisa dikondisikan melalui pola makan, pola hidup dan aktivitas. Tapi, yang jurus ini meminimalisir pengkondisian syaraf-syaraf, sehingga pada saat terserang gerd itu tidak sekaligus," bebernya.

Menurutnya, karena kemarin inovasinya adalah inovasi pendidikan, itu bisa menjadi sebuah model yang diimplementasikan melalui jurus silat yang dilakukan secara intensif dan dengan benar.

"Insyaallah pada jurus kesatu, kita bisa mengetahui bagaimana mengatur saturasi oksigen dalam tubuh, bagaimana mengatur peredaran darah di perut, dada, tangan dan otak," tuturnya.

Kemudian, masuk ke jurus dua, tiga dan jurus empat kombinasi. Dalam hal ini, manakala dilakukan secara utuh total termasuk dengan penyerahan diri kepada Sang Pencipta, dirinya pun memprediksi Jurus Ngaguar Diri bakal bisa digunakan sebagai salah satu jalan penyembuhan penyakit itu sendiri.

"Kemarin saya uji coba di mahasiswa, kebetulan mahasiswa tingkat satu itu masih penyesuaian dengan lingkungan dan dalam satu kelas itu ada yang tumbang (sakit)," paparnya.

Kemudian, lanjut dia, usai ditanya sakitnya apa, ternyata diketahui rata-rata sakit karena gangguan kadar asam lambung, mulai dari gejala maag, gerd, dan yang paling tinggi itu serangan jantung.

"Dari uji coba tersebut, dalam satu minggu manakala mereka melakukan secara intensif, yakni satu minggu tiga kali, itu di minggu kedua akan menemukan kesegaran tubuh. Artinya, penyakit tersebut belum hilang, namun mulai berkurang," tandasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Doni Ramdhani