Tak Miliki Biaya untuk Pulang, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo Asal KBB Terpaksa Tinggal di Asrama

uhammad Ridwan (23) seorang warga Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terpaksa belum bisa pulang ke tanah air usai menyelesaikan kuliahnya di Universitas Al Azhar, Kota Kairo, Mesir.

Tak Miliki Biaya untuk Pulang, Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo Asal KBB Terpaksa Tinggal di Asrama
Sopyan Ganda Ridwan memperlihatkan foto anaknya yang sudah diwisuda dan hingga kini belum pulang lantaran tidak memiliki ongkos. (Agus Satia Negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Muhammad Ridwan (23) seorang warga Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB) terpaksa belum bisa pulang ke tanah air usai menyelesaikan kuliahnya di Universitas Al Azhar, Kota Kairo, Mesir.

Kondisi tersebut disampaikan sang ayah Sopyan Ganda Ridwan yang berharap bantuan dari pemerintah agar bisa memulangkan anaknya kembali ke tanah air dari Al Azhar Mesir, dan berkumpul bersama keluarga.

"Tujuh bulan lalu anak saya (Ridwan) diwisuda. Harusnya setelah beres, langsung pulang ke Indonesia," ungkap Sopyan kepada wartawan, Selasa 15 Agustus 2023.

"Tapi karena saya tak punya uang buat ongkos pesawat,  Ridwan sampai sekarang tidak bisa pulang," sambungnya.

Sopyan menyebut, untuk sementara dia (Ridwan) tinggal di asrama yang dihuni mahasiswa Indonesia.

Pria yang sehari-hari berprofesi sebagai pengemudi ojek online ini mengaku, memiliki penghasilan berkisar antara Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu per hari. 

"Dengan penghasilan sebesar itu saya gak sanggup untuk menyiapkan ongkos pesawat terbang dari Mesir ke Indonesia," ungkapnya.

Sopyan menuturkan, ongkos pesawat dari Mesir ke Indonesia rata-rata Rp 8 juta sampai Rp 12 juta. Namun, Agustus ini ada promo sekitar Rp 6 juta.

"Teman-teman seangkatannya sudah pada pulang, ya mungkin sekarang tinggal anak saya yang bertahan di asrama," tuturnya.

"Untung saja teman-temannya dari Indonesia yang tinggal satu asrama pada baik sehingga Ridwan bisa menumpang tinggal dan makan," terang warga Perumahan Taman Bunga Blok C2, Nomor 44, RT 3/RW 23, Desa Cilame, Kecamatan Ngamprah ini.

Sopyan mengaku, hampir setiap hari Ridwan menghubunginya untuk meminta kepastian kapan dirinya bisa pulang agar bisa berkumpul kembali dengan keluarga.

"Uang Rp 6 juta itu, bukan uang sedikit bagi saya yang berpenghasilan pas-pasan," ujarnya .

"Jangankan buat ongkos pesawat, untuk makan sehari-hari saja sulit. Apalagi kedua adiknya juga butuh biaya sekolah," keluhnya yang juga
mantan pegawai honorer di Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) KBB ini.

Meski begitu, sambung Sopyan, dirinya sudah mencoba minta bantuan ke Dinas Pendidikan (Disdik) KBB, dan Bagian Kesra Setda KBB, namun tak membuahkan hasil.

"Sekarang saya akan coba ke ke Kementrian Agama (Kemenag) Bandung Barat. Mudah-mudahan saja bisa, karena Ridwan bisa kuliah di Universitas Al-Azhar setelah mendapat bea siswa dari Kementerian Agama RI," ujarnya.

Lebih jauh Sopyan menjelaskan, 
Ridwan merupakan anak sulung dari tiga bersaudara. Adiknya yang terdekat baru lulus SMA tahun ini, sementara satunya lagi masih duduk di bangku kelas 2 SMP.

Sebelum kuliah di universitas ternama di dunia tersebut, Ridwan menamatkan sekolah di Madrasah Aliyah (MA) Al Firdaus Cipatat, KBB.

"Namun, karena memiliki prestasi akademik yang gemilang, Ridwan menjadi satu dari 9 siswa se-Bandung Raya yang mendapat bea siswa melanjutkan kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir. Bahkan, satu-satunya dari KBB," paparnya.

Masih kata Sopyan, Ridwan berangkat ke Mesir pada tahun 2017 dan di Universitas Al-Azhar, Ridwan mengambil Fakultas Syariah Islamiah.

"Biaya kuliahnya dari masuk sampai tamat ditanggung penuh pemerintah Indonesia. Hanya untuk biaya makan sehari-hari tidak gratis. Setiap bulan saya rata-rata mengirim uang Rp 1,5 juta," bebernya.

"Alhamdulillah uang sebesar itu cukup, karena memang katanya biaya hidup di Mesir tidak mahal. Terlebih, karena tinggal di asrama untuk biaya makan secara patungan," sambungnya.

Kendati demikian, lantaran kondisi ekonomi keluarga Sopyan yang sedang tidak stabil membuat dirinya tak bisa membelikan tiket pesawat terbang buat anaknya.

"Saya sempat menyampaikan keadaan saya ini kepada pak Asep Sudiro (Kabag Hukum Setda KBB). Beliau menjembatani ke Baznas, Alhamdulillah mendapat bantuan Rp1,5 juta," sebutnya.

"Memang tidak cukup buat beli tiket pesawat terbang tapi akan saya kumpulkan," pungkasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti