Talenta ITB Menembus Panggung AI Dunia
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Berawal dari bangku kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB), perjalanan Dani Yogatama membawanya ke panggung persaingan teknologi dunia.
Alumnus ITB itu kini membangun perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang menembus pasar global, sekaligus memperlihatkan potensi talenta Indonesia dalam pengembangan teknologi masa depan.
Dani, pendiri sekaligus CEO Reka AI, terpilih sebagai Endeavor Entrepreneur Indonesia ke-120 melalui seleksi internasional di Montreal, Kanada. Pengakuan tersebut menambah langkah penting dalam perjalanan perusahaan yang didirikannya bersama sejumlah peneliti teknologi pada 2022.
Reka AI dikembangkan dengan ambisi menghadirkan teknologi AI mutakhir yang mampu memahami beragam bentuk informasi. Tak hanya teks, model yang dikembangkan perusahaan ini dirancang untuk memproses gambar, audio, dan video dalam satu ekosistem teknologi.
"Fokus kami tetap jelas, membangun dan mengembangkan teknologi AI frontier untuk pasar global," kata Dani seperti dikutip dari ANTARA, Selasa (20/10).
Pilihan membangun teknologi untuk pasar global bukan tanpa tantangan. Pengembangan AI membutuhkan perpaduan riset mendalam, tenaga ahli, infrastruktur komputasi, serta kemampuan menerjemahkan inovasi menjadi solusi yang dapat digunakan industri.
Dani memahami tantangan tersebut dari perjalanan akademik dan profesionalnya. Setelah menyelesaikan pendidikan di ITB, dia melanjutkan studi ke University of Tokyo, Jepang, sebelum meraih gelar doktor bidang ilmu komputer dari Carnegie Mellon University, Amerika Serikat.
Kariernya di bidang kecerdasan buatan juga ditempa melalui pengalaman di Baidu Silicon Valley AI Lab. Ia kemudian menghabiskan sekitar enam tahun sebagai peneliti senior di Google DeepMind, London, sebelum mendirikan Reka AI.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari bekal untuk membangun perusahaan yang berfokus pada pengembangan model AI. Bersama timnya, Dani mengembangkan teknologi yang tidak hanya mengejar kemampuan komputasi, tetapi juga efisiensi dan penerapan nyata dalam kegiatan usaha.
Reka memiliki model AI bernama Reka Flash dengan 21 miliar parameter yang dirancang untuk memproses berbagai jenis informasi. Perusahaan itu juga mengembangkan Reka Vision untuk pencarian dan analisis informasi visual, serta Reka Research untuk membantu menjawab pertanyaan kompleks melalui penelusuran informasi dari web dan dokumen.
Teknologi Reka Quant turut dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan model AI, termasuk mengurangi kebutuhan komputasi ketika teknologi diterapkan dalam operasional perusahaan.
"Kami ingin membangun teknologi yang bukan hanya kuat secara riset, tetapi juga efisien dan dapat digunakan perusahaan di berbagai industri," ujar Dani.
Ambisi tersebut memperoleh dukungan investor. Pada 2025, Reka AI mendapatkan pendanaan sebesar 110 juta dolar AS atau sekitar Rp1,99 triliun dari sejumlah investor, termasuk NVIDIA dan Snowflake. Pendanaan itu mengantarkan valuasi perusahaan melampaui 1 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp18,05 triliun. (gin)
Editor : Inilahkoran
