Tanpa Mina Jadid, Langkah Jitu Gus Men Sukseskan Penyelenggaraan Ibadah Haji 2024

Tanpa menyertakan Mina Jadid, menjadi langkah jitu Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau kerap disapa Gus Men sukseskan penyelenggaraan ibadah haji 2024.

Tanpa Mina Jadid, Langkah Jitu Gus Men Sukseskan Penyelenggaraan Ibadah Haji 2024

INILAHKORAN, Bandung - Tanpa menyertakan mina jadid, menjadi langkah jitu Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, atau kerap disapa Gus Men sukseskan penyelenggaraan ibadah haji 2024.

Kepala Kantor Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat Ajam Mustajam mengatakan, tanpa Mina Jadid membuat pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Mudzdalifah dan Mina Armuzna membuat pelaksanaannya kian lancar.

Kelancaran ini lanjut Ajam, tidak lepas dari upaya yang dilakukan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama, untuk berinovasi dalam penyelenggaraan haji, supaya jamaah haji nyaman.

“Pada operasional ibadah haji 2024, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, membuat terobosan atau inovasi yang spektakuler terutama di Armuzna yaitu dengan tidak menggunakan mina jadid sebagai tenda jamaah haji Indonesia,” ujar Ajam dalam keterangan resminya, Selasa 25 Juni 2024.

Kebijakan dari Gus Men Yaqut ini tambah dia, mempertimbangkan dua aspek yaitu teknis dengan tujuan mempercepat, mempermudah dan memberikan kenyamanan, serta keamanan bagi jamaah haji. 

"Aspek kedua, secara syariat, inovasi itu tidak bertentangan dengan syarat sahnya ibadah haji,” jelas Ajam.

Penempatan jamaah haji Indonesia di Mina yang mengalami perubahan lokasi, yakni maktab 1-9 dengan jumlah jamaah sekitar 27 ribu orang direlokasi ke wilayah Muaishim, dimana sebelumnya di Mina Jadid.

Keuntungannya kata Ajam, jamaah tidak lagi jauh dengan jamarat. Sehingga kenyamanan jamaah dalam beribadah, terutama lansia diharapkan lebih baik.

Bila ada yang mengatakan tidak menggunakan Mina Jadid dapat membuat antrian panjang di toilet kata Ajam, nyatanya tak terjadi pada tahun ini.

“Saya sebagai tim monitoring dan evaluasi tidak melihat demikian," ucapnya.

Tidak hanya itu, Kemenag juga melakukan skema murur di Mudzdalifah untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan jamaah haji.

Murur di Mudzdalifah atau bermalam dengan cara melintas, usai melakukan wukuf di Arafah, para jamaah haji lansia tetap berada di dalam bus kala melewati Mudzdalifah tanpa turun. Kemudian langsung membawa mereka ke tenda yang ada di Mina.

“Dengan skema murur dari Gus Men ini, Alhamdulillah berjalan sukses dan sangat membantu jamaah yang uzur. Sehingga jamaah yang uzur dapat melaksanakan prosesi haji tanpa menambah kepadatan di Muzdalifah,” ujar Ajam.

Sehingga jamaah haji yang mampu bermalam di Mudzdalifah mendapatkan ruang yang lebih lega, karena tidak padat berlebih.

Dua inovasi dari Gus Men ini sambung Ajam, tidak lepas hasil kerjasama dengan pihak Mashariq Motawif Pilgrims for Southeast Asian Countries Co. Perusahaan penyedia jasa haji dan umrah.

“Mashariq merupakan pihak yang menyediakan fasilitas di Armuzna. Fasilitas-fasilitas tersebut merupakan pendukung kelancaran pelaksanaan ibadah haji yang dimulai dari layanan administrasi jemaah (kartu nusuk), akomodasi, transportasi, hingga layanan konsumsi,” jelas Ajam.

Kelancaran pelaksanaan ibadah Haji 1445 hijiriah ini kata dia, tidak hanya dengan memberikan penyediaan fasilitas  yang memadai, tetapi juga kemudahan akses bagi jamaah dan PPIH untuk menyampaikan persoalan terkait dengan penyelenggaraan ibadah haji.

“Komitmen ini pun dituangkan dalam inovasi teknologi yang diberi nama oleh Kementerian Agama yaitu Aplikasi Kawal Haji,” terangnya.

Ajam berharap, dengan adanya perhatian yang serius oleh Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Agama terhadap ketiga aspek ini, seluruh jamaah haji dapat menjalankan ibadah dengan lancar dan penuh kekhusyukan. Sehingga mencapai predikat haji yang mabrur dan mabrurah. 

“Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan, pembinaan dan perlindungan kepada para jemaah haji Indonesia,” tandasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti