UEFA Kritik FIFA saat Tahu Mereka akan Jual Saham: Sepak Bola Bukan untuk Dijual
UEFA mengkritik keras sikap FIFA yang berencana menjual saham untuk Piala Dunia yang berarti menjual sepak bola.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - FIFA saat ini berencana untuk menjual saham atau menciptakan anak perusahaan senilai $20 miliar (Rp361 triliun) untuk menjalankan Piala Dunia dan acara-acara lainnya.
Usulan tersebut menuai kritik keras dari UEFA, yang mengatakan bahwa usulan itu "melanggar batasan yang seharusnya tidak pernah dilanggar oleh lembaga pengatur sepak bola."
"UEFA menanggapinya dengan sangat serius," demikian pernyataan mereka.
"Begitu pula seharusnya setiap Asosiasi Sepak Bola Nasional. Begitu pula seharusnya setiap pemangku kepentingan: liga, klub, pemain, pendukung, pemerintah, dan semua orang yang peduli dengan masa depan permainan ini," jelas UEFA.
"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan terutama dengan tidak adanya transparansi mengenai siapa yang diuntungkan secara finansial," terang mereka.
UEFA melanjutkan, "Tak satu pun dari kita adalah pemilik sepak bola. Sepak bola bukanlah milik FIFA untuk dijual."
Hubungan antara UEFA dan FIFA memburuk dalam beberapa tahun terakhir, dan Presiden UEFA Aleksander Ceferin menolak untuk menghadiri final Piala Dunia 2026 setelah serangkaian perselisihan mengenai prosedur disiplin, logistik perwasitan, dan operasional pertandingan.
Seorang juru bicara FIFA mengatakan bahwa proposal tersebut akan segera dipresentasikan kepada 211 asosiasi anggota dan Dewan FIFA, yang akan menjadi satu-satunya pengambil keputusan akhir dalam masalah ini.
FIFA mengatakan bahwa dana dari penggalangan modal akan digunakan untuk membentuk program opsional yang memungkinkan asosiasi anggota untuk mengakses hingga $20 juta (Rp360 miliar) dalam bentuk modal sekali pakai yang dapat digunakan untuk infrastruktur, pelatihan, tim nasional, kompetisi, sepak bola akar rumput, dan sepak bola wanita.
Jumlah itu akan meningkat menjadi 24 juta dolar (Rp433 miliar) pada siklus 2035-2038.
Presiden FIFA Gianni Infantino, yang akan mencalonkan diri kembali sebagai kepala FIFA tahun depan, mengatakan bahwa setiap asosiasi anggota harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan bagian yang adil dari pendanaan yang tersedia untuk membentuk masa depannya sendiri.
"Ini tentang demokratisasi sepak bola di seluruh dunia," tutur Gianni Infentino.
Perdana Menteri Inggris yang baru, Andy Burnham, bergabung dengan para kritikus rencana tersebut, dengan mengatakan di media sosial bahwa olahraga itu bukan milik investor.
"Piala Dunia bukanlah sebuah produk. Ini adalah kompetisi terbesar dalam olahraga dunia, dan bukan milik siapa pun untuk dijual," tulis Andy Burnham di X.
"Kemasan kesepakatan itu bisa dibuat sesuka Anda. Begitu Anda menjual sebagian darinya, Anda telah mengkhianati prinsip Anda," tambahnya.
Richard Sheehan, seorang profesor keuangan di Universitas Notre Dame yang mempelajari ekonomi olahraga, menyebut proposal tersebut sebagai "upaya meraup uang" dari kepemimpinan FIFA saat ini.
"Dari sudut pandang organisasi nirlaba, yang secara teoritis mengumpulkan dana untuk membuat sepak bola tersedia bagi semua orang, langkah ini adalah lelucon," ujar Richard Sheehan.***
Editor : Irma Nurfajri

