Unpad Bidik Reputasi Global: Data Terbaca Mutu Terjaga

PERSAINGAN perguruan tinggi tidak berhenti pada peringkat. Kualitas riset dan pengajaran menjadi kunci untuk terus berkembang.

Unpad Bidik Reputasi Global: Data Terbaca Mutu Terjaga
THE MASTERCLASS: Vice President Asia Pacific Times Higher Education (THE) Julie McMahon memaparkan materi bertajuk “From Data to Insight: Driving Institutional Performance” dalam kegiatan THE Masterclass yang diselenggarakan di Mason Pine Hotel, Bandung, Rabu (14/10), dengan Universitas Padjadjaran sebagai co-host.(UNPAD.AC.ID)

Pemeringkatan universitas bukan sekadar deretan angka yang menentukan posisi sebuah perguruan tinggi di tingkat global. Di balik hasil penilaian itu, tersimpan gambaran tentang kinerja akademik, kualitas riset, hingga peluang institusi untuk berkembang.

Data tersebut dapat menjadi pijakan bagi perguruan tinggi dalam mengevaluasi pencapaian sekaligus menyusun strategi menghadapi tantangan pendidikan tinggi.

Inilah yang ditekankan Times Higher Education (THE) dalam kegiatan THE Masterclass di Mason Pine Hotel, Bandung, Rabu (14/10), dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai tuan rumah pendamping (co-host).

Dalam pemaparan bertajuk “From Data to Insight: Driving Institutional Performance”, Vice President Asia Pacific THE Julie McMahon mengingatkan, pemeringkatan seharusnya tidak menjadi tujuan akhir perguruan tinggi.

Lebih dari itu, hasil penilaian perlu dibaca sebagai bahan untuk memahami posisi institusi dan menentukan arah perbaikan.

“Pemeringkatan merupakan cerminan kinerja sekaligus alat untuk memahami dan membandingkan perkembangan institusi dengan universitas lain,” ujar Julie, dalam keterangan persnya, Kamis (15/10).

Menurut dia, setiap sistem pemeringkatan memiliki metodologi dan indikator berbeda. Karena itu, perguruan tinggi perlu memahami aspek yang dinilai agar hasil pemeringkatan dapat diterjemahkan menjadi strategi pengembangan yang tepat.

Dalam THE World University Rankings (WUR), terdapat lima pilar utama yang menjadi dasar penilaian, yakni pengajaran (teaching), lingkungan riset (research environment), kualitas riset (research quality), pandangan internasional (international outlook), dan industri (industry).

Penilaian dilakukan dengan memanfaatkan data institusi, survei reputasi akademik, serta data bibliometrik melalui kerja sama THE dengan Elsevier.

Di antara indikator tersebut, kualitas riset menjadi salah satu aspek penting dalam metodologi THE WUR 2027. Penilaian tidak semata-mata bertumpu pada jumlah publikasi ilmiah, tetapi juga mencakup dampak sitasi, kekuatan riset, keunggulan riset, dan pengaruh riset.

Artinya, produktivitas akademik tidak cukup diukur dari banyaknya penelitian yang diterbitkan. Seberapa besar penelitian tersebut memberi pengaruh dan mendapat perhatian dalam komunitas ilmiah turut menentukan daya saing perguruan tinggi.

Namun, upaya meningkatkan kinerja akademik tidak serta-merta tercermin dalam hasil pemeringkatan pada tahun yang sama.

Menurut Julie, terdapat jeda waktu sekitar dua hingga lima tahun sebelum dampak berbagai upaya institusi terlihat dalam penilaian. (gin)


Editor : Inilahkoran