Vinicius Memilih Melawan Badai

BAGI seorang pesepak bola, lapangan hijau adalah tempat perlindungan. Namun bagi Vinicius Jr, Spanyol kerap kali terasa seperti medan perang yang menguras emosi

Vinicius Memilih Melawan Badai
Net

Di tengah badai sanksi teranyar dan luka lama rasisme yang belum sembuh, kesetiaan sayap asal Brasil ini kepada Real Madrid justru bersinar makin terang, sebuah ketangguhan yang bahkan membuat seorang Jose Mourinho angkat topi.

Baru-baru ini, Komite Disiplin Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) menjatuhkan hukuman berat berupa larangan bertanding dalam empat laga domestik untuk Vinicius.

Sanksi ini menyusul kartu merah yang diterimanya setelah terlibat perselisihan fisik dengan Nathan Saliba saat El Real menang tipis 1-0 atas Villarreal.

Pihak klub meradang, menilai hukuman ini terlampau kejam dan tidak adil jika dibandingkan dengan kasus serupa lainnya.

Bagi banyak orang, sanksi ini seperti garam yang ditaburkan di atas luka. Sudah bukan rahasia lagi betapa seringnya pemuda berusia 26 tahun ini menjadi sasaran empuk pelecehan rasis yang keji di stadion-stadion lawan.

Tekanan demi tekanan, perlakuan tidak adil, hingga atmosfer yang terkadang terasa memusuhi, sewajarnya sudah cukup untuk membuat pemain mana pun angkat kaki demi ketenangan jiwanya.

Bahkan, Jose Mourinho sendiri mengaku tidak akan sanggup berdiri di posisi Vinicius. Pelatih legendaris yang kini menukari Real Madrid itu secara terbuka mengagumi mental baja sang anak asuh.

“Jika saya berada di posisinya, mungkin saya tidak akan berada di sini.

Saya pasti sudah mendesak untuk pindah ke negara di mana dia akan dihargai,” ungkap Mourinho jujur.

“Namun, karena loyalitas kepada Real Madrid dan rasa cintanya pada klub tersebut...” Pintu keluar sebenarnya terbuka lebar bagi Vinicius musim panas ini. Ketika kontraknya menyisakan satu tahun dan raksasa Inggris, Arsenal, datang mengetuk pintu dengan tawaran menggiurkan, ia punya segala alasan logis untuk pergi mencari kedamaian di London.

Namun, mantan bocah Flamengo ini memilih jalan yang berbeda.

Ia menolak menyerah pada keadaan. Vinicius memilih memperpanjang kontraknya, memilih untuk bertarung, dan memilih untuk tetap setia pada warna putih kebanggaan Madrid.

Kesetiaan itu bukan tanpa bukti nyata. Lewat tetesan keringat di 129 golnya, Vinicius telah mempersembahkan tiga gelar LaLiga, satu Copa del Rey, dan dua trofi Liga Champions untuk publik Santiago Bernabeu.

Di balik kontroversi dan ketegangan di lapangan, apa yang ditunjukkan Vinicius adalah sebuah kisah tentang cinta yang melampaui rasa sakit.

Dia membuktikan bahwa kesetiaan kepada klub yang dicintainya jauh lebih besar daripada rasa takut terhadap kebencian yang diarahkan kepadanya. (bsf)


Editor : Inilahkoran