202 Gempa Guncang Jabar Sepanjang September 2026

Sebanyak 202 gempa bumi tercatat BMKG mengguncang Jabar dan sekitarnya, sepanjang September 2026. 

202 Gempa Guncang Jabar Sepanjang September 2026
Data Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menunjukkan magnitudo gempa selama September 2026 berkisar antara 1,1 hingga 6,5. (ilustrasi)

INILAHKORAN.ID - Sebanyak 202 gempa bumi tercatat BMKG mengguncang Jabar dan sekitarnya, sepanjang September 2026. 

Dari jumlah tersebut, 84 kejadian merupakan gempa swarm yang terkonsentrasi di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung, sementara 16 gempa lainnya dirasakan masyarakat.

Data Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), menunjukkan magnitudo gempa selama September 2026 berkisar antara 1,1 hingga 6,5. 

Aktivitas tersebut tersebar di daratan maupun laut, dengan karakteristik kedalaman dan sumber gempa yang beragam.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung Suaidi Ahadi merinci, sebanyak 182 gempa memiliki magnitudo kurang dari 3, sebanyak 18 kejadian bermagnitudo 3 hingga kurang dari 5, serta dua kejadian bermagnitudo 5 atau lebih.

Berdasarkan kedalamannya, 184 gempa tergolong dangkal, 17 gempa berkedalaman menengah, dan satu gempa termasuk kategori dalam.

“Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi secara pasti terkait sumber penyebab gempa bumi tersebut,” kata Suaidi dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).

Dari total kejadian, sebanyak 134 gempa berpusat di daratan. Sebanyak 125 di antaranya memiliki kedalaman kurang dari 30 kilometer.

Selain 84 kejadian gempa swarm di Kertasari, BMKG mencatat 11 kejadian serupa di sekitar Gunung Salak. Sementara itu, 14 gempa bersumber dari sesar aktif yang belum teridentifikasi, tujuh kejadian berkaitan dengan Sesar Cimandiri, dan enam kejadian dengan Sesar Garsela.

Aktivitas gempa juga tercatat masing-masing satu kejadian di Sesar Citarik, Sesar Cipamingkis, dan Sesar Ciremai. Intensitas gempa harian tertinggi terjadi pada 16 September dengan 48 kejadian, disusul 17 September sebanyak 31 kejadian. 

Pada periode tersebut, sejumlah gempa dirasakan masyarakat di Pangalengan dan Kertasari dengan intensitas III MMI, termasuk gempa bermagnitudo 3,0 pada 16 September dan magnitudo 2,6 pada 17 September.

Sejumlah gempa selama September juga dirasakan di berbagai wilayah Jabar Pada 1 September pukul 17.53.11 WIB, gempa bermagnitudo 4,3 terjadi di darat, sekitar 10 kilometer barat daya Kabupaten Cianjur, dengan kedalaman empat kilometer.

Getaran gempa tersebut mencapai skala III–IV MMI di Cianjur dan skala II–III MMI di Kota Sukabumi, Cibadak, Nagrak, Warungkondang, Cimahi, dan Cilaku. Berdasarkan kajian BMKG, gempa itu dipicu aktivitas sesar aktif.

Gempa bermagnitudo 4,3 kembali terjadi pada 13 September dengan pusat di laut dan kedalaman 23 kilometer. Getarannya dirasakan pada skala III MMI di Cijati, Surade, Cipamingkis, dan Sindangbarang.

Sementara itu, gempa bermagnitudo 2,6 yang berpusat sekitar enam kilometer tenggara Kota Tasikmalaya pada 19 September dirasakan hingga Ciamis dengan intensitas III MMI.

Aktivitas tektonik juga terdeteksi di kawasan Sesar Lembang. Pada 20 September, gempa bermagnitudo 1,7 dirasakan pada skala II MMI di Cisarua dan Cijamil, Kabupaten Bandung Barat.

Waspadai Potensi Tsunami di Pantai Selatan

Perhatian juga tertuju pada aktivitas gempa di Samudra Hindia. BMKG mencatat 68 kejadian gempa berpusat di wilayah tersebut, sepanjang September 2026. Sebanyak 58 kejadian atau 85,29 persen di antaranya tergolong gempa dangkal.

Berdasarkan kajian tersebut, pesisir selatan Jabar berpotensi mengalami tsunami apabila persyaratan terjadinya tsunami terpenuhi. Namun, keberadaan gempa dangkal tidak serta-merta menandakan tsunami akan terjadi karena potensi tersebut bergantung pada karakteristik dan mekanisme gempa.

BMKG berharap, hasil pemantauan dan kajian aktivitas seismik tersebut dapat menjadi dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana geologi di Jabar.

“Semoga kajian ini bermanfaat, dan lebih jauh lagi dapat meningkatkan kewaspadaan akan pergerakan tektonik di wilayah Jabar,” kata Suaidi.


Editor : Doni Ramdhani