Asap Karhutla Jadi Kekhawatiran, Farhan Petakan Kelompok Rentan di Kota Bandung

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bersama Disdik dan Dinkes memetakan kelompok rentan polusi udara, termasuk siswa dan warga dengan riwayat gangguan pernapasan.

Asap Karhutla Jadi Kekhawatiran, Farhan Petakan Kelompok Rentan di Kota Bandung
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan memetakan kelompok rentan terdampak penurunan kualitas udara termasuk siswa dan penderita gangguan pernapasan.

INILAHKORAN.ID – Pemerintah Kota Bandung melakukan asesmen terhadap kelompok masyarakat yang rentan terdampak penurunan kualitas udara. Pemetaan yang melibatkan Dinas Pendidikan (Disdik) dan Dinas kesehatan (Dinkes) Kota Bandung itu menyasar siswa serta warga dengan riwayat gangguan pernapasan, seperti asma, bronkitis, dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, langkah antisipasi tersebut dilakukan menyusul kekhawatiran terhadap potensi penurunan kualitas udara akibat asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari Sumatera dan Kalimantan.

Meski Kota Bandung belum menunjukkan indikasi terdampak langsung asap karhutla, kualitas udara di kawasan Cekungan Bandung tetap perlu diwaspadai.

“Cekungan Bandung memiliki persoalan kualitas udara yang perlu diwaspadai. Pada beberapa titik dan waktu tertentu, kualitas udara bahkan berada dalam kategori sangat tidak sehat,” kata Farhan, Senin (19/10/2026).

Menurut Farhan, pemantauan kualitas udara dilakukan bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melalui EQMS dashboard atau dasbor kualitas udara. Aplikasi tersebut menampilkan hasil pengukuran dari lima titik pemantauan, dengan rata-rata kualitas udara Kota Bandung berada dalam kategori sedang berdasarkan data yang dilihatnya.

Farhan juga merujuk data IQAir yang mencatat indeks kualitas udara Kota Bandung berada di angka 110 saat pengukuran dilakukan. Angka tersebut menggunakan parameter dan metode pengukuran berbeda dari dasbor DLH sehingga keduanya menjadi bahan pembanding untuk memantau kondisi udara.

“Salah satu polutan yang menjadi perhatian adalah PM2.5, yaitu partikel halus yang dapat berdampak terhadap kesehatan. Berdasarkan indikator yang digunakan, kualitas udara pada angka tersebut masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif,” ucapnya.

Siswa dengan Riwayat Gangguan Pernapasan Jadi Perhatian

Asesmen bersama Disdik dan Dinkes dilakukan untuk mengidentifikasi kelompok yang berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat penurunan kualitas udara. Pemetaan juga mencakup siswa dengan riwayat penyakit pernapasan agar langkah pencegahan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

“Contohnya mereka yang memiliki riwayat asma dan bronkitis. Kita juga mengetahui bahwa di Kota Bandung masih ada ribuan penderita tuberkulosis atau TBC,” ujar Farhan.

Ia berharap hasil asesmen dapat membantu pemerintah mengidentifikasi kelompok rentan sekaligus memitigasi risiko kesehatan apabila kualitas udara memburuk. Upaya pencegahan dinilai penting agar masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan mendapat perhatian lebih.

Terkait penggunaan masker, Farhan mengatakan masyarakat secara umum belum diwajibkan mengenakannya. Namun, kelompok sensitif dan rentan dianjurkan lebih waspada, terutama warga dengan gangguan pernapasan.

“Untuk saat ini, masyarakat secara umum belum diwajibkan menggunakan masker. Namun penggunaan masker lebih dianjurkan bagi kelompok sensitif dan rentan,” jelasnya.

Selain pemantauan dan asesmen, Pemkot Bandung juga menyiapkan layanan kesehatan sebagai bagian dari langkah mitigasi. Rumah sakit, klinik, puskesmas, dan fasilitas kesehatan lainnya dipersiapkan untuk memberikan pelayanan apabila terjadi kondisi kedaruratan akibat gangguan kesehatan yang berkaitan dengan kualitas udara.

“Kami mempersiapkan seluruh rumah sakit, klinik, puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya agar siap memberikan pelayanan apabila terjadi kondisi kedaruratan,” pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti