Badai Menanti
IGOR Tolic mengakui timnya bakal menghadapi laga-laga menguras energi periode Oktober 2026 mendatang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Muhammad Ginanjar
Menjadi pelatih Persib Bandung saat ini mungkin adalah salah satu pekerjaan paling menguras energi di sepak bola Indonesia. Igor tahu betul beban berat itu.
Sang juru taktik asal Kroasia secara terbuka mengakui bahwa badai besar tengah menanti anak asuhnya, tepat saat kalender memasuki bulan Oktober 2026.
Bayangkan saja, Maung Bandung tidak hanya harus bertarung di kompetisi domestik Super League. Di saat yang sama, mereka harus membagi fokus dan energi untuk tiga ajang kompetitif lainnya: AFC Champions League (ACL) Two, ASEAN Club Championship (ACC) Shopee Cup, dan League Cup.
Bagi Igor, ini bukan sekadar soal menghadapi lawan-lawan tangguh di lapangan, melainkan sebuah ujian ketahanan fisik dan mental. Mereka harus berpindah dari satu kota ke kota lain, melintasi negara, dengan waktu istirahat yang nyaris tidak ada.
Namun, di tengah bayang-bayang jadwal yang mencekik itu, Igor melihat sebersit cahaya dari ruang ganti. Sesuatu yang membuatnya percaya bahwa anak asuhnya punya modal lebih dari sekadar taktik: mereka punya hati.
"Tapi saya pikir para pemain sudah membuktikannya sejak pertandingan melawan Persija," ujar Igor dengan nada bangga, Rabu (23/9).
Kekalahan menyakitkan 1-2 dari sang rival abadi, Persija, sempat memukul batin tim. Namun, alih-alih terpuruk, Marc Klok dan kawan-kawan justru bangkit dengan kecepatan yang luar biasa.
Igor menyaksikan sendiri bagaimana luka kekalahan itu diubah menjadi bahan bakar untuk mencetak sejarah di panggung Asia.
"Kami pergi ke Seoul, meraih kemenangan pertama di kompetisi Asia di sana. Para pemain memberikan seratus persen kemampuan mereka. Semua orang yang berada di lapangan tampil dengan gairah yang fanatik," kenang pelatih berusia 48 tahun tersebut.
Skeptisisme sempat muncul ketika Persib harus langsung terbang kembali ke tanah air dan menyambangi markas Persijap Jepara. Kelelahan setelah laga melelahkan di Liga Champions Asia adalah musuh nyata.
Namun lagi-lagi, Persib menunjukkan kelasnya dengan membawa pulang kemenangan 1-2 dari Jepara.
"Tidak mudah datang ke Jepara setelah bertanding di Liga Champions, tetapi kami berhasil melakukannya lagi. Kredit sepenuhnya untuk para pemain," tambah Igor.
Ia merendah, menyebut perannya hanya sedikit mengorganisasi tim di luar lapangan, sementara keajaiban dua kemenangan tandang beruntun itu murni lahir dari kerja keras pemain.
Bagi Igor, pembuktian di Seoul dan Jepara barulah babak awal. Ujian sesungguhnya adalah konsistensi, karena mentalitas "fanatik" seperti ini harus dipertahankan dalam sepuluh laga ke depan yang tak kalah brutal .Di tengah keterbatasan waktu—di mana latihan taktik mendalam bahkan hampir mustahil dilakukan karena jeda laga yang terlalu mepet—Igor justru melihat sisi positif yang menyentuh.
Di dalam pesawat, di ruang ganti, dan di sela-sela perjalanan melelahkan antarkota, chemistry antarpemain justru tumbuh secara alami.
"Kami bahkan tidak memiliki waktu untuk latihan normal, tetapi mereka mulai saling memahami satu sama lain. Saya pikir tim ini akan menyatu dengan sangat cepat. Setelah ini, fokus kami adalah menjaga kesehatan dan memberikan yang terbaik di setiap pertandingan," pungkas Igor .Bagi Persib, Oktober nanti bukan lagi sekadar urusan menang atau kalah. Ini adalah pembuktian tentang seberapa jauh sebuah tim bisa melangkah ketika mereka menolak untuk menyerah pada rasa lelah.
Editor : Inilahkoran

