Banjir Jakarta dari Tahun ke Tahun
BANJIR Jakarta pada awal tahun 2020 ini lumayan menyedot perhatian. Tidak hanya media lokal, peristiwa pembuka taun ini juga menjadi perhatian medial internasional.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
BANJIR Jakarta pada awal tahun 2020 ini lumayan menyedot perhatian. Tidak hanya media lokal, peristiwa pembuka taun ini juga menjadi perhatian medial internasional.
Media sosial juga turut dibanjiri dengan cuitan-cuitan. Ada yang turut prihatin, dan ada juga yang saling menyalahkan. Bahkan tagar #banjir sempat menjadi trending topik di lini masa twitter.
Akibat banjir Jakarta, nama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tentunya banyak dibicarakan netizen. Bahkan tagar #4nesHancurkanJakarta sempat menjadi trending topik. Tagar ini diramaikan oleh kedua kubu yang menyerang maupun yang membela Anies.
Belakangan, faktanya penanganan banjir di kawasan Jakarta mendapat penilaian positif dari beberapa instansi pemerintah. Selaian soal kecepatan waktu surut, upaya Pemprov DKI untuk fokus pada penyelematan korban juga mendapat pujian. Hal ini ditunjukan juga dengan kesigapan Anies yang turun langsung memimpin proses evakuasi dan pemulihan bencanan.

Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kementrian Koordinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kebudayaan (PMK) dan Pemprov DKI Jakarta pada 7 Jaunuari lalu, hasil olah data Pemprov DKI dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan jika banjir 2020 ini waktu surutnya menunjukan paling positif dibanding tahun 2002, 2007. 2013, 2015 lalu.
Pada tahun 2020 ini disebutkan, waktu surut banjir (95 persen wilayah genangan) hanya empat hari. Data ini lebih cepat jika dibandingkan dengan banjir tahun 2013 dan 2015 yang memakan waktu surut (95 persen wilayah genangan) selama satu pekan.
Genangan air yang mengepung ibu kota, tahun 2020 ini bisa disebut yang paling parah. Hal ini disebabkan siklus curah hujan yang paling tinggi dibandingkan beberapa tahun lalu. Yakni 377 milimeter perhari, sedangkan sebelumnya seperti pada tahun 2007 tertinggi hanya 340 milimeter per hari.
Dalam data disebutkan, dari tahun 2002 hingga tahun 2020 ini, tahun 2007 menjadi tahun yang cukup parah. Pada tahun itu diketahui dengan curah hujan 340 milimeter perhari, area yang tergenang mencapai 955 RW dengan luas area terendam seluas 455 kilometer persegi. Di tahun 2007 terdapat 276.333 jiwa pengungsi, dan membutuhkan waktu serut selama 10 hari, dengan korban jiwa sebanyak 48 orang.
Dalam data yang diolah Pemprov DKI juga menyebutkan, pada banjir saat ini dengan intensitas hujan tinggi menyebabkan area seluas 156 kilometer persegi dengan 390 RW tergenang. Jika dibandingkan dengan data banjir pada tahun 2013 dengan curah hujan rendah sekitar 100 milimeter perhari dan pada tahun 2015 dengan curah hujan 277 milimeter perhari, genangan yang dihasilkan pada tahun 2013 seluas 240 kilometer persegi, sementara tahun 2015 seluas 281 kilometer persegi.
Selain itu data menunjukan banjir pada tahun 2013 menyebabkan area strategis di ibu kota tergenang yang tersebar di 599 RW, pada tahun 2015 menunjukan angka 702 RW yang tergenang.
Masih dari data tersebut menunjukan jumlah pengungsi tahun 2013 mencapai 90.913 jiwa di 1.250 titik pengungsian dengan korban jiwa sebanyak 40 orang, pada tahun 2015 mencapai 45.813 jiwa yang tersebar di lokasi pengungsian sejumlah 405 titik dengan korban jiwa sebanyak 5 orang.
Sementara pada tahun 2020 ini, jumlah pengungsi sebanyak 36.445 jiwa yang tersebsar di 269 pengungsi dengan korbnan jiwa sebanyak 19 orang.
Editor : tantan

