Benarkah Screen Time Merusak Otak Anak? Faktanya Tak Sesederhana Itu
Waktu di depan layar atau screen time kerap disebut penyebab masalah pada anak. Mulai dari depresi, gangguan perilaku, hingga menurunnya kemampuan berpikir.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Waktu di depan layar atau screen time kerap disebut sebagai penyebab berbagai masalah pada anak. Mulai dari depresi, gangguan perilaku, hingga menurunnya kemampuan berpikir. Namun, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan kenyataannya tidak sesederhana itu.
Profesor psikologi dari Bath Spa University Pete Etchells dikutip dari https://www.bbc.com/news/articles/c9d0l40v551o mengatakan, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang benar-benar kuat bahwa screen time secara langsung merusak otak anak.
Menurutnya, banyak penelitian sebelumnya hanya mengandalkan pengakuan anak soal berapa lama mereka menghabiskan waktu di depan layar, sehingga hasilnya belum tentu akurat.
Kesimpulan serupa juga ditemukan American Psychological Association. Setelah menelaah puluhan penelitian, para peneliti menyebut penggunaan ponsel, media sosial, dan video gim hanya berpengaruh kecil terhadap kesehatan mental anak dan remaja.
Studi lain yang melibatkan sekitar 11.500 anak berusia 9–12 tahun juga menemukan tidak ada kaitan antara screen time dengan penurunan kemampuan berpikir atau kesehatan mental. Meski ada perubahan pada pola kerja otak, perubahan itu tidak terbukti berdampak buruk.
Menurut para ahli, yang lebih penting justru bukan lamanya menatap layar, melainkan apa yang dilakukan di depan layar. Mengikuti kelas online, mengobrol dengan teman, atau mencari informasi tentu berbeda dampaknya dengan terus menggulir media sosial tanpa tujuan atau melihat konten negatif.
Meski begitu, bukan berarti penggunaan gawai sepenuhnya aman. Anak tetap berisiko terpapar konten yang tidak pantas, perundungan siber, hingga penipuan di dunia digital. Namun, sebagian peneliti juga mengingatkan bahwa aturan yang terlalu ketat bisa membuat screen time terasa seperti "barang terlarang" yang justru makin ingin digunakan anak.
Di sisi lain, psikolog dari San Diego State University Jean Twenge memiliki pandangan berbeda. Berdasarkan penelitiannya, semakin sering remaja menggunakan media sosial, semakin tinggi pula risiko mengalami depresi. Karena itu, ia menyarankan anak baru menggunakan smartphone saat berusia sekitar 16 tahun.
Penelitian di Denmark juga menunjukkan anak yang mengurangi screen time selama dua minggu mengalami kondisi emosional yang lebih baik dan lebih mudah berinteraksi dengan orang lain. Sementara studi di Inggris menemukan penggunaan media sosial yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya gejala depresi, terutama pada remaja perempuan.
Sampai sekarang, belum ada aturan pasti soal berapa lama anak boleh menggunakan screen time. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan anak di bawah satu tahun tidak terpapar layar sama sekali, sedangkan anak di bawah empat tahun sebaiknya tidak lebih dari satu jam per hari.
Pada akhirnya, para ahli sepakat bahwa yang paling penting adalah menjaga keseimbangan. Anak tetap perlu waktu untuk bermain di luar, berolahraga, tidur cukup, dan berinteraksi langsung dengan keluarga maupun teman. Screen time memang perlu diawasi, tetapi dampaknya tidak bisa dinilai hanya dari lamanya anak menatap layar.
Sumber asli: https://www.bbc.com/news/articles/c9d0l40v551o
Editor : Doni Ramdhani
