Berawal dari Ekskul Sekolah, Grup Musik Etnik Samara Berikan Warna Baru Belantika Musik Jabar
Meski baru dibentuk pada 13 Maret 2020 silam di Tanimulya Indah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Samara berhasil menelurkan sejumlah karya musik
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Keberadaan musikalitas di Tanah Air terus mengalami perkembangan yang sangat pesat, tidak terlepas dari keberagaman suku dan budaya yang ada di Nusantara. Begitu juga dengan Samara'>Etnik Samara.
Berbagai karya musik pun terlahir dengan ciri khas dan genre yang dibawakan masing-masing daerah. Bahkan, adanya akulturasi pun memberikan warna baru belantika musik Indonesia seperti lahirnya Etnik Samara.
Bahkan, itu menjadi keunikan tersendiri dan menjadi magnet bagi para musisi atau pecinta musik dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Hal itu pula yang melatarbelakangi terbentuknya Samara, sebuah grup musik etnik hasil kolaborasi dengan musik arumba.
Meski baru dibentuk pada 13 Maret 2020 silam di Tanimulya Indah, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Samara berhasil menelurkan sejumlah karya musik dengan karya pertamanya, 'Intro' yang telah diunggah di youtube dan selalu dimainkan saat pertunjukan.
Pentolan Samara sekaligus Manager Samara, Ari Kresnayuda mengatakan, Samara pada awalnya itu ekstrakulikuler dari SMPN 2 Ngamprah. Namun, karena banyak alumninya yang konsen di bidang musik akhirnya muncul inspirasi.
"Akhirnya, kita berkumpul dan berinisiatif memilih grup musik, hingga memutuskan untuk mengadopsi grup musik dari ekstrakulikuler sekolah" katanya saat ditemui, Rabu 16 November 2022.
Ia menyebut, nama grup musiknya tetap sama Samara, namun kepanjangannya berbeda menjadi 'Sabrang nu marengan rasa'.
"Filosofinya, setiap personel memiliki rasa yang berbeda, namun ketika berkumpul semuanya menjadi satu rasa. Intinya, semua harus sama," sebutnya.
Menurutnya, sejak awal genre musik yang diusung Samara lebih memunculkan musik kolaborasi lantaran banyaknya personel yang didominasi dari SMKN 10 yang notabenenya karawitan dan musik.
"Bahkan, saat ini fenomena musik sekarang kebanyakannya kolaborasi," imbuhnya.
Ia menilai, konsep musik kolaborasi lebih banyak dilirik, sebab genre musik Sunda yang benar-benar murni sudah mulai kurang.
"Oleh karenanya, Samara tetap menyuguhkan genre musik Sunda, hanya saja diselipkan genre musik jazz, blues, namun hanya di bagian tertentu. Tugas itu biasanya dilakukan komposer kita," jelasnya.
Ia menambahkan, perbedaan grup musik Samara dengan yang lainnya terletak pada garapan musik, selain per porsi ada beberapa part modern.
"Meski begitu, kita tidak menghilangkan harmonisasi dan orisinalitas musik Sunda itu sendiri," ucapnya.
Sempat Vakum Selama Pandemi COVID-19
Meski baru terbentuk, Samara juga langsung menghadapi kendala, yakni sempat mengalami mati suri lantaran pandemi COVID-19 yang terjadi selama beberapa tahun.
"Akibatnya, selama pandemi COVID-19, kegiatan Samara itu total berhenti lantaran sulit untuk beraktivitas di luar," ujarnya.
Kendati selama satu tahun pertama pandemi COVID-19 tidak ada kegiatan, sambung dia, para personel sama memanfaatkan waktu untuk membuat konsep guna melahirkan karya musik terbarunya.
"Kita mulai aktif tahun 2020 mulai nyicil karya, dan menghasilkan dua karya, pertama orisinil dan cover 'Emut Bae'. Sekarang kita lagi menggarap lagu ketiga yang masih dirahasiakan," ungkapnya.
Ia menyebut, Samara digawangi sembilan orang personel dengan kombinasi alat musik tradisional dan modern.
"Untuk alat musik Sunda yang dibawa, antara lain suling angklung, dan kendang. Sedangkan, kalau yang modern ada drum, gitar, keyboard dan lain sebagainya. Kalau untuk vokal atau lirik kita bawakan bahasa Sunda," terangnya.*** (agus satia negara).
Editor : Ahmad Sayuti
