Dari Panas Mesin Hingga Sapu Lidi : Wajah-Wajah yang Menjaga Kacapiring Bersih
Di sudut Kelurahan Kacapiring, Kota Bandung, setiap hari ada sosok yang tak kenal lelah menjaga kebersihan lingkungan. Muhammad Ridwan (45) adalah salah satunya. Ia bekerja di TPS3R Manungal Pituah, tempat penampungan sementara yang kini dilengkapi mesin pengolah sampah atau insinerator.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di sudut Kelurahan Kacapiring, Kota Bandung, setiap hari ada sosok yang tak kenal lelah menjaga kebersihan lingkungan. Muhammad Ridwan (45) adalah salah satunya. Ia bekerja di TPS3R Manungal Pituah, tempat penampungan sementara yang kini dilengkapi mesin pengolah sampah atau insinerator.
Ridwan mulai bekerja di TPS3R pada September, bersamaan dengan kedatangan mesin pengolah sampah. Pagi buta menjadi awal rutinitasnya. Shift pertama, dimulai pukul lima pagi hingga pukul satu siang kemudian dilanjutkan shift kedua dari pukul satu siang hingga sembilan malam. Setiap hari, Ridwan harus menghadapi panas mesin insinerator yang membakar sampah hingga suhu di atas 800 derajat celsius.
"Sudah terbiasa. Kami disini, mengakalinya supaya panas dari pembakaran mesin tidak terlalu terasa ke tubuh. Alhamdulillah aman," kata Muhammad Ridwan, Rabu 3 Desember 2025.
Sebagai operator mesin, Ridwan termasuk dua orang yang bertanggung jawab memastikan alat pengolah sampah berjalan lancar. Pengalaman pertamanya menyalakan mesin pun masih diingatnya, menggunakan kayu bakar dan sisa sampah yang sudah terbakar untuk memancing api sebelum memasukkan sampah baru. Dari satu kubik sampah, hanya tersisa sekitar lima kilogram residu yang kemudian akan diolah menjadi paving blok.
Ridwan lahir dan besar di Kacapiring. Sebelum bekerja di TPS, ia berprofesi sebagai pengemudi ojek. Kini, setelah shift selesai. Ia tetap menjalankan pekerjaan sampingannya sebagai pengojek. Meski menghadapi aroma sampah dan panas mesin setiap hari, Ridwan tetap semangat.
"Suka dukanya paling aromanya saja yang belum terbiasa," katanya sambil tersenyum.
Sementara itu, pagi hari menjadi waktu aktif bagi Asep (54) bersama tim Gober Kelurahan Kacapiring. Mereka membersihkan jalan, trotoar dan saluran gorong-gorong sejauh 400 meter mulai pukul 06.30 hingga 12.00. Tantangan datang dari sampah basah, saat musim hujan dan daun-daun yang berguguran di musim gugur.
"Mayoritas sampah yang dikumpulkan adalah daun, namun tak jarang juga kantong kresek dan plastik jajanan. Kami menggunakan peralatan sederhana seperti sapu lidi, pengki dan karung," kata Asep.
Dengan pengalaman 10 tahun, Asep memahami setiap tantangan di lapangan. Sukacita tim Gober muncul dari apresiasi kecil warga, yang memberi semangat meski pekerjaan mereka sering tak terlihat.
Ridwan dan Asep adalah wajah lain dari kerja keras menjaga kebersihan lingkungan. Dari mesin insinerator yang panas, hingga sapu lidi di trotoar. Dedikasi mereka menjadi pengingat, menjaga kota tetap bersih bukan pekerjaan mudah. Namun sangat berarti bagi warga yang menikmatinya setiap hari.***
Editor : JakaPermana

