Deretan Bukti Ini Liga Champions Tergila dalam Sejarah

Perlukah mengubah Liga Champions dan berjudi mendirikan Liga Super Eropa (ESL). Ternyata tidak. Liga Champions 2018/19 membuktikan tak perlu memperbaiki sesuatu yang tidak rusak.

Deretan Bukti Ini Liga Champions Tergila dalam Sejarah

INILAH, London - Perlukah mengubah Liga Champions dan berjudi mendirikan Liga Super Eropa (ESL). Ternyata tidak. Liga Champions 2018/19 membuktikan tak perlu memperbaiki sesuatu yang tidak rusak.

Liga Champions tidak rusak. Liverpool, seperti Ajax, Tottenham Hotspur, Manchester United, dan Juventus sebelumnya, menunjukkan tak ada yang tak mungkin dalam sepak bola. Itu semua terjadi di Liga Champions kali ini.

Liga Champions musim ini dilabeli sebagai turnamen sarat drama. Comeback-comeback yang terjadi di banyak pertandingan menjadikan ini Liga Champions paling liar, paling ganas, sepanjang sejarah. Sesuatu yang takkan mungkin bisa dilupakan publik.

Ini sejumlah Kegilaan Liga Champions musim ini

Trigol Lucas Moura

Tak ada yang percaya Tottenham Hotspur bisa maju ke final, kecuali mereka sendiri. Datang ke Amsterdam dalam posisi kalah 0-1 di kandang sendiri. Mereka pun tertinggal 0-2 sebelum masa istirahat.

Tapi, tiba-tiba Lucas Moura muncul jadi pahlawan --bukan Hary Kane, bukan Son Heung Min, bukan Dele Alli. Penyerang Brasil itu mencetak trigol, termasuk gol terakhirnya saat waktu normal pertandingan sudah selesai enam menit.

Tottenham lolos ke final. Mereka menyingkirkan Ajax Amsterdam yang jadi pembunuh raksasa di turnamen kali ini.

Liverpool Bikin Barca Gigit Jari

Tanpa Mohamed Salah arau Roberto Firmino, mereka masih sanggup mengatasi Barcelona yang sudah unggul tiga gol lebih dulu. Di kandang sendiri, Barca menang 3-0 dan nyaris tak ada yang yakin Liverpool bisa membalikkannya, terlebih tanpa Salah dan Firmino.

Tapi, Liverpool mewujudkannya dengan barisan penyerang kelas dua, pemain pelapis lini depan. Georgino Wijnaldum dan Divock Origi masing-masing mencetak dua gol.

Liverpool menjadi klub pencatat kebangkitan terhebat di dalam sejarah Liga Champions. Mereka hanya dianggap di bawah Barcelona yang bangkit untuk menang 6-1 atas Paris St Germain pada musim 2016/17.

Ajax Akhiri Dominasi Real Madrid

Kejutan pertama Liga Champions musim ini datang dari Ajax. Kalah 1-2 di kandang sendiri dari Real Madrid, apalagi yang mereka harapkan saat melawat ke Stadion Santiago Bernabeu? Terlebih, Real Madrid adalah juara Liga Champions tiga musim berturut-turut.

Tapi, gol-gol dari David Neres, Dusan Tadic, Hakim Ziyech, dan Lasse Schone menyudahi harapan pasukan Santiago Solari. Inilah kekalahan terbesar Real Madrid di kandang sendiri di ajang Liga Champions.

Trigol Ronaldo

Klub ketiga Spanyol tersingkir dengan cara yang mengejutkan. Atletico Madrid datang ke Turin. Tapi, keunggulan 2-0 di kandang sendiri ternyata tak cukup buat mereka lolos.

Trigol Cristiano Ronaldo mencetak trigol untuk menyingkirkan pasukan Diego Simeone di perempat final. Itu sekaligus merampas harapan mereka untuk tampil pada laga final yang justru digelar di Stadion Wanda Metrpolitan, markas Atletico.

Kebangkitan Man-U

Bagaimana mungkin Manchester United bisa lolos dari sergapan Paris St Germain. Di Old Trafford, Man-U kalah 0-2. Melawat ke Paris, sedertan pemain mereka absen: Paul Pogba, Nemanja Matic, Ander Herrera, Anthony Martial, Phil Jones, Jesse Lingard, Matteo Darmian, Juan Mata, Alexis Sanchez, dan Antonio Valencia.

Tapi, masih ada Romelu Lukaku. Dia mencetak gol dan membangkitkan harapan. Manchester United lolos berkat gol eksekusi penalti Marcus Rashford menjelang akhir pertandingan.

Malam Kejayaan Casillas

Setelah kalah 1-2 di ibu kota Italia, FC Porto menjamu AS Roma di Stadion Dragao. Mereka sadar, perlu memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk menaklukkan AS Roma dan begitulah akhirnya yang terjadi meski lewat waktu melelahkan.

Alex Telles mencetak gol dari titik penalti, ketika perpanjangan waktu tinggal tersisa tiga menit, dan memastikan tiket ke perempatg final bagi Iker Casillas dan kawan-kawan.

Kejutan Ajax

Ajax membuat Liga Champions seperti miliknya sendiri di bawah pelatih Erik ten Hag. Setelah bermain imbang 1-1 di Amsterdam, mereka menyingkirkan Cristiano Ronaldo dan Juventus dengan kemenangan 2-1 di Turin. Matthis de Ligt, kapten termuda mereka, memastikan kemenangan itu lewat sundulan di babak kedua.

Itu membuat Ajax tampil di semifinal Liga Champions untuk pertama kali dalam 22 tahun. Mereka sekaligus menggusur mimpi Ronaldo membukukan quattrick Liga Champions.


Saling Bunuh di Inggris

Manchester City kalah 0-1 di kandang Tottenham Hotspur dan menyamakannya dengan mencetak gol saat laga kedua jalan empat menit. Saat pertandingan jalan satu jam, Manchester City masih unggul 4-3 dalam agregat. Tapi, Fernando Llorente mencetak gol kontroversial yang banyak diklaim harusnya dianulir karena sebelumnya terjadi hands ball.

Raheem Sterling menjebol gawang Hotspur memasuki masa injury time. Harusnya City lolos. Tapi, teknologi VAR membatalkan gol tersebut karena sudah terjadi offside lebih dulu sebelum gol terjadi.
 


Editor : Zulfirman