Di Tengah Gempuran Musik Modern, Komunitas Ini Bawa Seni Sunda Bersinar Kembali Lewat Kolaborasi
Di tengah hingar-bingar lagu pop, rock, dan hip-hop yang melengking di telinga generasi muda Indonesia, musik tradisi Sunda seolah tersesat di lorong masa lalu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Di tengah hingar-bingar lagu pop, rock, dan hip-hop yang melengking di telinga generasi muda Indonesia, musik tradisi Sunda seolah tersesat di lorong masa lalu.
Banyak anak muda menganggapnya kuno, ketinggalan zaman, jauh dari selera yang 'modern'. Padahal, di balik nada-nada yang terasa asing, tersimpan identitas, sejarah, dan nilai luhur yang menjadi ciri khas bangsa.
Di Jawa Barat, para pelaku seni tradisi sendiri kebanyakan yang sudah lanjut usia, sehingga mulai kehilangan harapan menemukan penerus.
Anak-anak memilih mengikuti arus globalisasi ketimbang mempelajari instrumen seperti karinding, yang dulunya bukan hanya hiburan, tetapi juga alat untuk mengusir hama, memikat lawan jenis, hingga mengiringi upacara adat.
Namun, di tengah gerusan zaman, ada cahaya kecil yang tetap menyala, yakni Komunitas Sasora di Cimahi.
Terletak di Jalan Sentral, Kelurahan Cibabat, Cimahi Utara, Komunitas Sasora tak hanya sekadar tempat latihan. Ini adalah rumah bagi mereka yang ingin menjaga akar budaya Sunda tetap tegas.
Melalui latihan rutin dan pembinaan generasi muda, mereka menghidupkan berbagai bentuk seni, mulai dari karinding, tarawangsa, beluk, hingga gamelan.
Gani Abdul Rahman (30), menjadi sosok penggerak di balik komunitas ini. Kecintaannya pada seni Sunda tumbuh sejak kecil, dari didikan orang tua dan kakek-nenek yang juga pelaku musik tradisi.
Instrumen pertama yang ia pelajari adalah degung saat masih duduk di kelas 4 SD, dan kemudian berkembang ke karinding pada tahun 2009.
"Musik yang kami jaga bukan hanya satu jenis, tapi berbagai bentuk seni tradisi Sunda," ujar Gani sambil memegang karinding yang selalu ia bawa.
Rata-rata anggota Sasora, katanya, memang berasal dari keluarga pelaku seni tradisi, tetapi itu tidak menjadi syarat untuk bergabung. Yang penting adalah hasrat untuk melestarikan budaya.
Menurutnya, yang membuat Sasora berbeda adalah cara mereka menghadapi musik modern, bukan dengan bertarung, melainkan menyatu.
"Saat ini, kami menggandeng sejumlah band modern yang sedang tumbuh di Cimahi, salah satunya Dawai and the Ethnicity," tuturnya.
Menurutnya, kolaborasi ini bukan sekadar upaya bertahan, tetapi cara mereka memperkenalkan seni Sunda dengan kemasan yang lebih relevan.
"Kami tidak merasa tersingkir atau terasingkan di era modern ini. Sebaliknya, kami mencoba bersatu," kata Gani sambil membetulkan totopong yang ia kenakan saat penampilan.
Gani mengungkapkan, gabungan nada karinding yang merdu dengan irama musik modern ternyata sangat harmonis, menarik perhatian anak muda yang sebelumnya tidak pernah mendengar seni tradisi.
Pada malam anugerah beberapa waktu lalu, Komunitas Sasora membawakan pertunjukan rajah, rampak karinding, dan monolog Sunda yang diiringi tarawangsa di hadapan pejabat Kota Cimahi.
"Tak hanya itu, kami juga mempertahankan identitas dengan memakai iket dan pangsi dalam setiap penampilan—meski hidup di tengah kemajuan teknologi," ujarnya.
Bagi Gani, seni tradisi bukan hanya hiburan, tetapi identitas yang tak ternilai harganya. Ia pun berpesan kepada anak muda yang menganggapnya ketinggalan zaman.
"Ini menjadi ciri khas pembeda kita dengan bangsa lain. Indonesia memiliki keragaman musik, tarian, dan adat yang sangat kaya itu adalah peninggalan yang harus kita jaga untuk masa depan," tegasnya.
Gani menilai, regenerasi menjadi hal terpenting bagi komunitas ini. Oleh karenanya, dirinya harus memastikan anak muda nantinya bisa melanjutkan pekerjaan ini.
Untuk itu, mereka juga berharap pemerintah daerah bisa memberikan ruang lebih luas bagi pelaku seni tradisi, bukan hanya di acara tertentu.
"Kita sudah punya Imah Seni yang membantu, tapi cita-citanya kita ingin ada gedung kebudayaan khusus yang bisa digunakan untuk pengembangan musik tradisi. Dengan adanya ruang seperti itu, generasi muda Cimahi bisa lebih mudah berbagi dan berekspresi," katanya.
"Keberadaan ruang budaya akan berdampak langsung pada peningkatan indeks kebahagiaan masyarakat," tandasnya. *** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti

