Festival Musikal Sachi, Siswa SMAN 1 Cimahi Gabungkan Sejarah, Budaya dan Kreativitas

Para siswa SMAN 1 Cimahi mengemas sebuah budaya, pendidikan hingga kreativitas dalam sebuah pagelaran Festival Musikal Sachi

Festival Musikal Sachi, Siswa SMAN 1 Cimahi Gabungkan Sejarah, Budaya dan Kreativitas
Siswa SMAN 1 Cimahi implementasikan Kurikulum Merdeka dan Kokurikuler lewas Festival Musikal Sachi.

INILAHKORAN.ID – Aula SMAN 1 Cimahi berubah menjadi panggung seni dan pendidikan yang meriah saat digelarnya Festival Musikal Sachi, 18–21 Mei 2026. 

Pertunjukan drama musikal hasil karya ratusan siswa kelas XI ini tak hanya sekadar ajang hiburan, melainkan wujud nyata penerapan Projek Kokurikuler dalam Kurikulum Merdeka yang mengintegrasikan delapan mata pelajaran berbeda menjadi satu karya utuh. 

Mulai dari penyusunan naskah, penciptaan lagu, hingga pembuatan properti, seluruh tahapan dikerjakan siswa sendiri, menggabungkan materi akademik dengan nilai budaya dan sejarah bangsa.

Koordinator Proyek sekaligus Guru seni budaya SMAN 1 Cimahi, Annisa Resti Fauziah menjelaskan, proyek ini dikembangkan sepanjang semester kedua sejak Januari 2026. 

"Kami mengangkat tema kesejarahan, mulai proklamasi, kemerdekaan, hingga perjuangan bangsa, karena setiap mata pelajaran memiliki peran spesifik," kata Annisa, Selasa (19/5/2026).

Annisa menyebut, Bahasa Indonesia dan Sunda melatih kemampuan menulis naskah yang memuat unsur budaya seperti sisindiran atau pantun, seni budaya mengasah kemampuan musik, tari, tata rias, hingga penciptaan lagu orisinal, Pendidikan Kewirausahaan dan Prakarya (PKWU) menugaskan siswa membuat seluruh properti panggung.

"Sementara PKN dan Sejarah menanamkan nilai nasionalisme, pemecahan masalah, dan pemahaman konteks peristiwa masa lalu. Pendekatan ini membuat materi pelajaran yang kaku menjadi hidup, relevan, dan dekat dengan gaya belajar generasi muda," sebutnya.

Lebih dari sekadar tampil di panggung, terang Annisa kegiatan ini melibatkan 11 kelas atau lebih dari 300 siswa dengan peran beragam, baik di depan maupun di balik layar. 

"Ada yang bertindak sebagai aktor, sutradara, penata cahaya, suara, kru panggung, hingga tim publikasi," terangnya.

Seluruh proses, ungkap Annisa, mulai audisi, latihan rutin, hingga gladi bersih, menjadi ruang pembentukan karakter. Penilaian pun tidak hanya berpatokan pada hasil akhir, melainkan mencakup konsistensi, kerja sama, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi pada nilai-nilai yang kini menjadi bobot penting dalam rapor siswa di bawah Kurikulum Merdeka yang lebih fleksibel. 

"Tantangan komunikasi dan dinamika khas karakter Gen Z menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi siswa maupun pendidik, yang justru membuat ikatan emosional dan pemahaman antarwarga sekolah semakin kuat," paparnya.

Annisa mengklaim, proyek ini membuktikan pendidikan dapat berjalan efektif lewat cara yang menyenangkan dan bermakna. Pemberian penghargaan untuk kategori seperti penampilan terbaik, tata rias, hingga publikasi menjadi pemicu semangat dan ambisi positif siswa. 

"Bagi sekolah, keberhasilan Festival Musikal Sachi menjadi bukti bahwa materi sejarah dan budaya tidak boleh hanya menjadi hafalan, tetapi harus dihidupkan agar tidak hilang ditelan zaman," imbuhnya. 

"Kini, setelah berbulan-bulan berproses, para siswa berharap karya mereka tidak hanya memuaskan penonton, tetapi juga mampu menanamkan kembali rasa cinta tanah air dan kebanggaan terhadap identitas budaya Sunda di hati setiap orang yang menyaksikannya," tandasnya. ***


Editor : Ahmad Sayuti