Lewat Seni Bambu dan Kanvas, Pria Paruh Baya Asal Cimahi Ini Merajut Kenangan Leluhur
Alan Sobarna alias Om Yosh konsisten melukis dengan visa melalui media bambu
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Di sudut tenang Jalan Margamulya, RT01/03, Kelurahan Cimahi, Kecamatan Cimahi Tengah, Kota Cimahi terdengar irama khas dari gesekan pisau yang meraut serat bambu. Bunyi itu bukan sekadar suara kerja, melainkan detak jantung dari lahirnya sebuah karya seni bambu yang sarat makna.
Di sanalah, Alan Sobarna (50) atau yang lebih akrab disapa Om Yosh, mencurahkan segenap ketelitian dan cinta untuk merawat warisan budaya Sunda melalui miniatur leuit atau lumbung padi tradisional.
Bagi pria berusia 50 tahun ini, bambu bukanlah sekadar bahan baku mentah. "Bagi saya, setiap ruas dan seratnya adalah medium yang menyimpan cerita sejarah serta kearifan lokal," kata Om Yosh, Sabtu (4/4/2026).
Dengan tangan yang cekatan dan penuh kesabaran, ia merangkai potongan-potongan kecil tersebut menjadi replika leuit yang tak hanya memikat mata, namun juga menjadi cerminan filosofi kehidupan masyarakat Sunda tempo dulu tentang ketahanan pangan, kesederhanaan, dan rasa syukur.
"Perjalanan seni saya tidak berjalan sendiri. Saya bagian dari keluarga besar Komunitas Patlotart, yaitu sebuah wadah kreatif yang telah berdiri kokoh sejak tahun 2014," ujarnya.
Di komunitas ini, Om Yosh mengaku menemukan ruang untuk bertumbuh, bereksplorasi, serta menyebarkan semangat berkarya bersama sesama seniman yang memiliki visi sama, yakni melestarikan budaya lewat seni.
Namun, kreativitas Om Yosh tidak terkurung hanya pada bentuk tiga dimensi. Di sela-sela waktu merangkai bambu, imajinasinya juga mengalir bebas di atas kanvas.
"Ada banyak lukisan dengan nuansa mulai dari tradisional hingga ekspresi kontemporer saya ciptakan," ucapnya.
"Ini menjadi bukti kalau inspirasi dan bakat seninya tidak mengenal batas medium," sambungnya.
Satu hal yang menarik, karya seni bernilai tinggi ini tetap hadir dengan harga yang sangat terjangkau. Om Yosh membanderol setiap hasil karyanya mulai dari Rp200 ribu, disesuaikan dengan ukuran dan tingkat kerumitan detailnya.
"Angka tersebut bukan sekadar nilai jual, tapi representasi nyata dari waktu, tenaga, dan ketulusan hati yang saya tuangkan dalam setiap proses pembuatannya," ucapnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan budaya instan yang serba cepat, Om Yosh berharap karyanya bisa menjadi oase yang menenangkan.
Ia mengajak setiap orang yang melihat karyanya untuk sejenak berhenti dan mengingat kembali akar budaya.
"Tradisi tidak akan pernah mati, selama masih ada tangan-tangan yang setia merawatnya dan hati yang tulus mencintainya," ungkapnya.
Bagi Om Yosh, setiap miniatur leuit yang ia hasilkan lebih dari sekadar kerajinan tangan.
"Itu cara sederhana namun berharga untuk memastikan bahwa cerita nenek moyang dan nilai-nilai luhur bangsa tidak pernah benar-benar hilang, melainkan terus hidup dan dikenang," tandasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti

