Siswa SMPN 2 Cimahi Juara 1 Kompetisi Foto UNESCO dari 7.000 Karya 100 Negara
Siswa SMPN 2 Cimahi Yudha Pramudya meraih juara pertama lomba fotografi UNESCO 2026 lewat karya tentang pengukir kayu Jepara.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID — Sebuah jepretan tangan pengukir kayu Jepara yang penuh ketelitian membawa nama Yudha Pramudya (15), siswa kelas IX SMPN 2 Cimahi, ke panggung dunia.
Karyanya yang berjudul "A Legacy in Every Carving" meraih Juara Pertama dalam kompetisi fotografi Internasional UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads edisi ke-8 tahun 2026 dengan kategori usia 14–17 tahun.
Karya tersebut dipilih dari lebih dari 7.000 kiriman peserta yang berasal dari 100 negara, berdasarkan penilaian orisinalitas, kekhasan tema dan kekuatan visual yang menyentuh makna warisan budaya hidup.
Kemenangan ini terasa luar biasa bagi Yudha bukan hanya karena skalanya internasional, namun karena bermula sekadar keinginan mencari pengalaman dan bekal untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah kejuruan impiannya.
Awalnya ia menemukan informasi lomba lewat unggahan di Instagram pada akhir Juni 2026, lalu langsung mendaftar tanpa menyangka akan menembus jajaran pemenang.
"Alhamdulillah, sama sekali tidak menyangka bisa juara pertama. Saat membuka email pemberitahuannya, saya kaget. Tujuannya sebenarnya hanya untuk pengalaman dan bekal masuk SMK impian saya," ujar Yudha, Kamis (1/10/2026).
Dari Pencarian Wayang Golek hingga Pengukir Kayu Jepara
Tema yang diusung UNESCO tahun ini , yakni "Living Heritage" atau Warisan Budaya yang Hidup. Yudha berangkat mencari objek yang sesuai, mula-mula ia menyasar pengrajin wayang golek di kawasan Jelekong, Kabupaten Bandung, namun belum menemukan yang cocok.
Tak menyerah, ia kemudian menjumpai pengrajin kayu Jepara di wilayah Antapani, Kota Bandung. Dengan kamera Sony A74 miliknya, ia memotret langsung di lokasi setelah meminta izin kepada pengrajin tersebut.
Dalam foto itu, Yudha menangkap momen pengrajin yang sedang menunduk berkonsentrasi menggoreskan pahat ke permukaan kayu.
Tak sekadar merekam aktivitas, ia ingin menampilkan jiwa di balik setiap goresan kesabaran, keterampilan, serta warisan yang diturunkan dari generasi ke generasi. Dua foto dikirimnya melalui laman resmi lomba, murni hasil jepretan sendiri tanpa bantuan kecerdasan buatan (AI), sesuai ketentuan yang berlaku.
"Saya ingin menunjukkan pengrajin kayu Jepara saat sedang mengukir motif, menampilkan perasaan dan ketelitiannya. Bahwa di setiap pahatan itu ada warisan yang terus hidup," ungkap Yudha.
Penantian berakhir pada 20 September 2026, ketika notifikasi masuk ke kotak surat elektroniknya, ia dinyatakan sebagai pemenang utama. Karya Yudha kini bakal dimuat dalam buku album foto resmi UNESCO berjudul "Youth Lens on the Silk Roads" dan berpeluang dipamerkan di berbagai kegiatan lembaga tersebut.
Berawal dari Ekstrakulikuler Ingin Menjadi Fotografer Istana Negara
Bagi Yudha, fotografi bukan sekadar hobi baru. Minatnya tumbuh sejak memasuki bangku SMP, terinspirasi dari teman yang kerap mengabadikan momen lewat kamera. Ia pun bergabung dengan kelompok ekstrakulikuler Fotografi di SMP Negeri 2 Cimahi, tempat ia belajar teknik dasar, komposisi, dan ketelitian memotret.
Prestasi ini bukan kemenangan pertamanya, justru sebaliknya, ia pernah mengikuti satu lomba di lingkungan Cimahi dan belum berhasil. Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti, melainkan mencoba lagi di tingkat yang lebih luas.
"Dulu pernah ikut lomba di Cimahi dan belum menang. Saya coba lagi, kali ini yang internasional, ternyata hasilnya berbeda. Saya langsung memberi tahu orang tua begitu pulang sekolah," ungkapnya.
Cita-citanya kini kian kuat, ia ingin melanjutkan ke SMK Negeri 1 Cimahi dan mengarahkan langkahnya menjadi fotografer di Istana Negara.
Bagi pembimbing ekstrakulikuler, Nugraha Mukti, pencapaian Yudha menjadi bukti ketekunan dan bakat yang dikembangkan secara sungguh-sungguh.
"Saya sudah melihat foto itu sebelum dikirim. Saya katakan saat itu fotomu bagus, teruslah berkarya. Tiba-tiba kabar kemenangan datang," kata Nugraha.
"Semua siswa di ekstrakulikuler sudah memahami teknik dasar, aktif berkarya, dan Yudha adalah salah satu yang membuktikannya," ungkapnya.
Editor : Ahmad Sayuti

