Wali Kota Bogor Dukung Golok Disahkan UNESCO Jadi Warisan Budaya Dunia
Wali Kota Bogor Dedie A Rachim berharap UNESCO segera meresmikan golok sebagai salah satu warisan budaya dunia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID- Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mendukung golok disahkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia.
Menurut Dedie A Rachim, jika golok disahkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO maka akan ada satu alat tradisional asal Indonesia selain keris yang mendapat pengakuan internasional.
"Karena ini menyangkut literasi kesejarahan yang kemudian bisa menjadi lebih dalam lagi untuk terus dilakukan penelitian. Kota Bogor baru saja menggelar pameran golok pada kegiatan munggahan pameran pusaka dan sarasehan budaya di Universitas Pakuan kemarin. Perjalanan panjang golok untuk diakui oleh UNESCO didukung berbagai dokumentasi, literasi, penelitian, serta upaya pelestarian yang melibatkan perguruan tinggi, di antaranya Universitas Pakuan. Ini diharapkan menjadi kebanggaan bersama," papar Wali Kota Bogor Dedie A Rachim pada Minggu 15 Februari 2026.
Dedie menerangkan, dalam mendukung pelestarian budaya, termasuk benda pusaka, Kota Bogor juga akan segera mewujudkan Museum Pajajaran di Bumi Ageung Batutulis yang direncanakan menjadi pusat edutainment.
"Ini adalah sebuah proses bagaimana kita melestarikan budaya bangsa melalui karya-karya para pendahulu yang tidak hanya indah, tetapi juga memiliki manfaat," tegasnya.
Terpisah, Ketua Dewan Pembina Golok Pedang Sepuh Nusantara, Gatut Susanta mengatakan terkait pengajuan golok ke UNESCO, pihaknya telah menyerahkan berbagai kelengkapan dokumen dan administrasi, termasuk studi literasi serta telah melakukan presentasi.
"Kami terus berjuang agar golok juga dipahami sebagai alat ketahanan pangan, kemudian sebagai alat pertahanan, dan kini diperjuangkan sebagai pusaka," terangnya.
Gatut menjelaskan, pihaknya juga telah melaksanakan pameran sebagai wujud sinergi dan kolaborasi dalam melestarikan budaya sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda, khususnya kalangan akademisi.
"Golok yang dipamerkan kami kurang lebih berjumlah 300 bilah, berasal dari koleksi terbaik yang sangat indah dan beragam. Yang paling lama berasal dari tahun 800-an pada masa Singosari," jelasnya.
Rektor Universitas Pakuan, Didik Notosudjono mengatakan, bahwa sebagai pihak akademisi, Universitas Pakuan berharap upaya ini dapat menarik minat mahasiswa untuk mengembangkan kajian dan penelitian dalam mendukung budaya Nusantara.
"Sehingga Universitas Pakuan juga mendukung golok disahkan oleh UNESCO. Langkah ini sangat baik dalam menjaga tradisi dan melestarikan budaya agar lebih dikenal dan menyebar luas," pungkasnya.***
Editor : Bsafaat


