Komite SMAN 3 Tasikmalaya Usulkan Antar-Jemput Siswa Usai Dugaan Perundungan
Peristiwa dugaan perundungan terhadap seorang siswa kelas X SMAN 3 Tasikmalaya menjadi perhatian Komite Sekolah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Peristiwa dugaan perundungan terhadap seorang siswa kelas X SMAN 3 Tasikmalaya menjadi perhatian Komite Sekolah.
Evaluasi tidak hanya diarahkan pada kejadian yang menimpa siswa, tetapi juga terhadap aktivitas peserta didik setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) berakhir.
Ketua Komite SMAN 3 Tasikmalaya Irfan Ramdani mengatakan, peristiwa tersebut menjadi tamparan keras bagi pihak sekolah. Salah satu langkah yang diusulkannya adalah memperkuat pengawasan siswa melalui sistem antar-jemput oleh orang tua.
Menurut Irfan, perhatian khusus perlu diberikan terhadap adanya pertemuan atau pemanggilan adik kelas oleh kakak kelas setelah KBM. Aktivitas tersebut, kata dia, perlu dicegah apabila berpotensi menimbulkan tekanan, doktrin, maupun praktik senioritas yang tidak sehat.
Irfan mengusulkan agar Gerakan Orang Tua Mengantar dan Menjemput Anak ke Sekolah diberlakukan, khususnya pada waktu-waktu tertentu setelah KBM selesai.
"Program ini bukan dimaksudkan untuk membatasi kemandirian siswa, tetapi sebagai bentuk sinergi antara sekolah, orang tua, komite, dan siswa dalam memperkuat pengawasan dan perlindungan peserta didik," kata Irfan, Senin, (28/9/2026).
Irfan mengatakan, usulan tersebut juga sejalan dengan instruksi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengenai larangan siswa membawa kendaraan ke sekolah. Menurutnya, kebijakan tersebut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat keterlibatan orang tua dalam aktivitas siswa, termasuk saat mereka berangkat dan pulang sekolah.
Selain sistem antar-jemput, Komite Sekolah mendorong adanya pengawasan terhadap siswa setelah KBM sebelum meninggalkan lingkungan sekolah. Setiap kegiatan yang melibatkan kakak dan adik kelas juga diharapkan diketahui serta berada dalam pengawasan guru.
Komunikasi antara wali kelas, guru Bimbingan dan Konseling (BK), orang tua, serta komite dinilai perlu diperkuat. Edukasi mengenai senioritas yang sehat, perundungan, tekanan teman sebaya, dan etika pergaulan antarsiswa juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Bagi Irfan, sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Lingkungan sekolah juga harus memberikan rasa aman bagi siswa hingga mereka benar-benar meninggalkan area sekolah.
"Mari kita bangun budaya senior membimbing, bukan menekan. Junior menghormati, bukan takut. Dengan keterlibatan orang tua dan sekolah secara bersama-sama, kita berharap potensi kejadian negatif dapat dicegah sebelum terjadi," pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

