Sekjen PBB Guterres Sebut Batik Indonesia Jadi Pelajaran Multilateralisme
Antonio Guterres menilai batik Indonesia memberi pelajaran tentang multilateralisme, reformasi institusi internasional, perdamaian
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menilai batik Indonesia mengandung pelajaran penting tentang bagaimana multilateralisme harus dibangun di tengah perubahan dunia.
Hal itu disampaikan Guterres dalam agenda Foreign Policy Circle Talks di Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Jakarta, Senin. Ia menilai batik merupakan tradisi yang berkembang melalui perjumpaan berbagai pengaruh budaya, mulai dari Arab, China, Eropa, Jepang, Asia Selatan, hingga Persia, tanpa kehilangan identitas Indonesia.
“Melalui perjumpaan-perjumpaan itu batik tetap terjalin erat dengan identitas budaya Indonesia sendiri. Ada pelajaran di sini bagi multilateralisme,” kata Guterres.
Menurutnya, motif batik tidak pernah benar-benar berhenti berkembang. Garis-garis baru dan perpaduan warna yang beragam terus membentuk corak yang kaya, mencerminkan proses pertemuan dan perkembangan budaya.
“Hal yang sama juga berlaku bagi dunia kita. Seiring munculnya kekuatan baru dan tantangan baru, institusi kita harus memberi ruang bagi suara dan realitas baru,” ujarnya.
Guterres mengibaratkan proses penciptaan motif batik sebagai upaya komunitas internasional membangun tatanan dunia yang lebih mencerminkan kondisi saat ini sekaligus aspirasi masa depan umat manusia.
Karena itu, menurutnya, masyarakat internasional perlu bersama-sama membentuk “corak batik” dunia melalui reformasi institusi multilateral serta dukungan terhadap pemajuan hak asasi manusia (HAM), perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya memastikan aspirasi dan posisi setiap negara mendapat ruang dalam proses membangun dunia berdasarkan tujuan bersama.
“Motif ini milik kita untuk dibentuk bersama-sama,” tambahnya.
Batik Jadi Simbol Keberagaman Budaya
Dalam kesempatan tersebut, Guterres turut mengapresiasi batik sebagai tradisi khas masyarakat Indonesia. Ia menyinggung pengakuan UNESCO terhadap batik sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan.
Bagi Guterres, perkembangan batik menunjukkan bahwa perjumpaan berbagai pengaruh budaya dapat memperkaya sebuah tradisi tanpa menghilangkan identitas yang melekat padanya. Nilai tersebut, menurut pesannya, relevan dengan upaya membangun kerja sama internasional di tengah perubahan kekuatan dan tantangan global.
Guterres Kunjungi Indonesia
Dalam kunjungannya ke Indonesia pada 17–19 Oktober 2026, Guterres melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto. Ia juga mengunjungi Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI di Kabupaten Bogor dan menyampaikan pidato mengenai multilateralisme di Kementerian Luar Negeri RI.
Saat bertemu Presiden Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Guterres terlihat mengenakan kemeja lengan panjang bermotif batik parang.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian agenda Sekjen PBB di Indonesia, termasuk pembahasan mengenai kerja sama internasional dan pentingnya memperkuat peran institusi multilateral dalam menjawab tantangan dunia.***
Editor : JakaPermana
