Komisaris Tinggi PBB: AI Bisa Jadi Ancaman Eksistensial bagi Umat Manusia
Komisaris Tinggi PBB Volker Turk memperingatkan AI canggih dapat menjadi ancaman eksistensial bagi umat manusia dan mendesak penguatan keamanan AI.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Kecerdasan Buatan (AI) dapat menjadi ancaman eksistensial bagi umat manusia sehingga perlu segera ditangani, kata Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Turk pada Senin.
Turk menyatakan kekhawatiran tersebut sejalan dengan peringatan sejumlah pelaku industri mengenai risiko yang mungkin ditimbulkan oleh perkembangan AI canggih.
"Saya sependapat dengan kekhawatiran para pelaku industri bahwa AI canggih dapat menimbulkan risiko eksistensial bagi umat manusia ... Saya menyerukan upaya habis-habisan untuk memastikan jaminan kuat atas keselamatan dan keamanan AI sebelum terlambat," kata Turk, menurut keterangan kantornya.
Turk menyampaikan pernyataan tersebut dalam sesi ke-63 Dewan HAM PBB.
Ia juga mengatakan akan mengirimkan surat kepada seluruh perusahaan pengembang AI terkemuka dalam beberapa hari mendatang untuk menyampaikan kekhawatirannya mengenai keselamatan dan keamanan Teknologi tersebut.
Selain risiko Teknologi, Turk menyoroti persoalan konsentrasi kekuasaan dalam pengembangan dan pemanfaatan AI.
Menurut dia, saat ini hanya segelintir orang yang memiliki "kekuasaan hampir tidak terbatas atas AI."
"Setidaknya, kita membutuhkan negara-negara tempat AI dikembangkan dan negara-negara yang terlibat dalam rantai pasoknya untuk bersama-sama menyepakati batas-batas yang tidak boleh dilanggar," kata Turk.
Pernyataan tersebut menekankan pentingnya kerja sama antarnegara untuk memastikan perkembangan AI tetap berada dalam batas-batas yang dapat dipertanggungjawabkan.
AI untuk Militer Juga Jadi Sorotan
Kekhawatiran mengenai dampak AI sebelumnya juga disampaikan oleh Program Pembangunan PBB (UNDP).
Pada Desember 2025, Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik UNDP Philip Schellekens memperingatkan bahwa penggunaan AI untuk kepentingan militer dapat menjadi ancaman eksistensial bagi umat manusia dan berpotensi menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar.
Schellekens menekankan perlunya regulasi yang sangat bertanggung jawab untuk mengendalikan penggunaan AI di bidang militer.
Sementara itu, pada Januari 2025, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyebut AI yang tidak terkendali sebagai salah satu ancaman eksistensial, bersama dengan perubahan iklim dan senjata nuklir.
Peringatan tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian lembaga internasional terhadap perkembangan AI, khususnya terkait keselamatan, keamanan, hak asasi manusia, serta potensi penggunaan Teknologi tersebut untuk kepentingan militer.***
Editor : JakaPermana

