AI Percepat Ancaman Siber, Literasi Digital dan Tata Kelola Teknologi Dinilai Penting
Perkembangan AI mempercepat ancaman siber. Akademisi menilai literasi digital, tata kelola teknologi, dan etika penting untuk memperkuat keamanan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) mempercepat munculnya berbagai ancaman siber. Kondisi tersebut membuat penguatan literasi digital dan tata kelola teknologi menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat.
Wakil Rektor Tata Kelola, Sumber Daya, dan Kemitraan Strategis Universitas Binawan Farouk Abdullah Alwyni mengatakan keamanan digital tidak cukup hanya mengandalkan perkembangan teknologi.
“Keamanan digital tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Kita juga membutuhkan literasi digital, tata kelola yang baik, serta komitmen terhadap etika,” ujar Farouk dalam keterangannya yang dikutip di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Menurut Farouk, perkembangan AI memang memberikan peluang besar untuk meningkatkan inovasi dan produktivitas. Namun, teknologi tersebut juga menghadirkan risiko keamanan digital apabila digunakan tanpa pemahaman dan pengawasan yang memadai.
Ancaman keamanan digital kini tidak hanya menyasar perusahaan besar. Individu dan pelaku usaha kecil juga semakin berpotensi menjadi target serangan siber.
Berdasarkan laporan IBM Cost of a Data Breach 2025, rata-rata kerugian akibat kebocoran data secara global mencapai 4,44 juta dolar AS.
Laporan tersebut juga mencatat 97 persen organisasi yang mengalami insiden keamanan terkait AI belum memiliki pengendalian akses AI yang memadai.
Farouk menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai keamanan digital seiring semakin luasnya penggunaan AI.
“Perkembangan AI memberikan peluang besar bagi inovasi, tetapi teknologi tersebut juga menghadirkan risiko baru apabila tidak digunakan secara bertanggung jawab,” katanya.
Co-Founder dan CEO Cykube Shahril Ahmed mengatakan perubahan lanskap keamanan siber membuat ancaman semakin luas.
Menurut Shahril, perkembangan teknologi membuat individu dan usaha kecil juga perlu meningkatkan perlindungan terhadap risiko serangan siber.
“Ancaman siber kini tidak lagi terbatas pada perusahaan besar. Individu dan usaha kecil juga semakin menjadi sasaran,” kata Shahril.
Ia menilai kesenjangan perlindungan siber membutuhkan kolaborasi dan edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut diperlukan untuk meningkatkan ketahanan siber, terutama di tengah semakin luasnya pemanfaatan AI dalam berbagai aktivitas masyarakat.
Penguatan literasi digital menjadi semakin penting seiring dengan penggunaan AI yang meluas di masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan kalangan profesional.
Perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi AI, tetapi juga memahami risiko keamanan, aspek etika, serta tanggung jawab dalam pemanfaatannya.
Dengan literasi digital dan tata kelola yang lebih baik, masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mengantisipasi berbagai risiko keamanan yang menyertainya.
Editor : Ahmad Sayuti


