China Tanggapi Seruan Sam Altman dan Elon Musk untuk Perlambat Pengembangan AI
China menanggapi seruan Dario Amodei, Sam Altman, dan Elon Musk agar pengembangan AI tingkat lanjut diperlambat demi keamanan dan tata kelola global.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pemerintah China menanggapi seruan sejumlah tokoh industri Kecerdasan Buatan (AI), termasuk CEO Anthropic Dario Amodei, CEO OpenAI Sam Altman, dan pendiri Tesla serta SpaceX Elon Musk, yang meminta pengembangan AI tingkat lanjut dilakukan dengan lebih hati-hati.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan pengembangan AI harus diarahkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dunia.
"AI merupakan Teknologi yang sangat penting bagi kesejahteraan seluruh umat manusia. Semua pihak harus bersama-sama mendorong pengembangan AI yang terbuka dan inklusif demi kebaikan dan kepentingan bersama," kata Guo dalam konferensi pers di Beijing, Senin (14/9).
Guo juga mengingatkan agar persaingan Teknologi tidak berkembang menjadi ketakutan maupun konfrontasi antarnegara.
"Tindakan menyebarkan ketakutan, konfrontasi, dan persaingan yang tidak sehat hanya akan menghambat upaya mewujudkan tata kelola AI global yang baik, yang pada akhirnya tidak menguntungkan siapa pun," ujarnya.
Dario Amodei Serukan Perlambatan AI
Seruan untuk memperlambat pengembangan AI tingkat lanjut sebelumnya disampaikan CEO Anthropic Dario Amodei melalui esai berjudul "We Must Pace the Frontier" yang diterbitkan Sabtu (13/9).
Amodei menyerukan agar industri memperlambat pengembangan AI frontier, meskipun ia mengakui langkah tersebut tidak mudah dilakukan.
"Kita berutang kepada umat manusia untuk mencobanya," tulis Amodei.
Ia menyoroti dua faktor yang menurutnya dapat menjadi alasan untuk memperlambat pengembangan AI.
Pertama adalah recursive self-improvement (RSI), yakni kemampuan sistem AI untuk membantu menciptakan atau meningkatkan sistem AI lainnya.
Kedua adalah potensi penyalahgunaan AI untuk melakukan serangan siber. Amodei menyinggung insiden yang melibatkan agen AI OpenAI dan Hugging Face yang disebut memperlihatkan bagaimana sekumpulan AI dapat melakukan tindakan siber dan mencoba membobol sistem yang digunakan untuk mengevaluasi mereka.
Menurut Amodei, perkembangan tersebut menunjukkan potensi AI menimbulkan kerusakan dalam skala besar apabila tidak diiringi mekanisme pengaman atau guardrails yang memadai.
Ia bahkan memperkirakan dalam enam hingga 12 bulan ke depan, agen AI yang lebih canggih berpotensi menciptakan botnet dan mengambil alih bagian besar internet sehingga menimbulkan kerugian hingga ratusan miliar dolar AS.
Elon Musk dan Sam Altman Sepakat
Pandangan Amodei mendapat dukungan dari Elon Musk. Pendiri Tesla dan SpaceX itu menyatakan, "Dario benar."
Musk juga kembali mengingatkan mengenai potensi bahaya AI dan menyerukan kehati-hatian dalam mengembangkan Teknologi tersebut.
Musk sebelumnya termasuk pihak yang mendukung seruan Future of Life Institute pada 2023 agar pengembangan AI dihentikan sementara selama enam bulan. Langkah itu ditujukan untuk memberikan waktu bagi penerapan berbagai mekanisme keselamatan AI.
Sementara itu, CEO OpenAI Sam Altman juga menyatakan perlunya pengaturan terhadap laju pengembangan AI frontier.
"Kita perlu mengatur laju pengembangan AI tingkat lanjut (frontier AI)," kata Altman.
OpenAI disebut berencana mengadopsi sejumlah gagasan yang diajukan Anthropic, termasuk melibatkan evaluator independen yang memiliki akses terhadap model AI pada tingkat yang setara dengan karyawan perusahaan.
Altman sendiri telah lama memperingatkan mengenai potensi risiko Kecerdasan Buatan. Dalam esainya pada 2015 berjudul "Machine Intelligence, part 1", ia memperingatkan bahwa pengembangan kecerdasan mesin yang melampaui kemampuan manusia berpotensi menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup umat manusia.
Pendiri sekaligus pimpinan Google DeepMind, Demis Hassabis, juga memberikan pandangan serupa. Menurutnya, rincian mengenai upaya memperlambat pengembangan AI secara kolektif masih perlu dimatangkan, tetapi arah pembahasannya dinilai tepat untuk menghadapi periode penting dalam perkembangan AI.
China Dorong Tata Kelola AI Global
Di tengah perdebatan mengenai kecepatan pengembangan AI, China juga berupaya mendorong terbentuknya kerangka tata kelola AI internasional.
Pada Juli 2026, China menginisiasi pembentukan World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO) yang disebut melibatkan 29 negara, termasuk Indonesia.
Organisasi tersebut diarahkan untuk membangun kerangka kerja sama dan tata kelola AI global sehingga perkembangan Teknologi tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
China sendiri tengah mempercepat pengembangan dan penerapan AI di dalam negeri.
Tahun 2026 disebut menjadi periode penting dalam penerapan AI Agent, ketika Teknologi AI mulai bergeser dari sekadar kemampuan berkomunikasi menuju kemampuan mengerjakan tugas secara mandiri dan menghasilkan produktivitas nyata.
Industri AI China diperkirakan terus berkembang dengan cepat. Adopsi AI di perusahaan-perusahaan besar diproyeksikan mencapai lebih dari 80 persen, menunjukkan bahwa komersialisasi dan penerapan massal menjadi salah satu arah utama perkembangan AI di negara tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat pada awal Agustus 2026 menerapkan proses tinjauan keamanan sukarela terhadap model AI canggih sebelum dirilis. Namun, parameter dan mekanisme program tersebut masih menjadi perhatian dalam diskusi mengenai tata kelola AI.***
Editor : JakaPermana

