Turki vs Prancis: Romansa Legenda
LAWATAN ke markas Turki, Sabtu (26/9) dini hari WIB menandai era baru Timnas Prancis di bawah komando sang legenda, Zinedine Zidane.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Bsafaat
Ada romansa yang tak terucapkan ketika Zinedine Zidane akhirnya berjalan melewati gerbang pusat pelatihan Clairefontaine bulan ini.
Selama bertahun-tahun, publik sepak bola Prancis memimpikan momen ini: kepulangan sang anak emas untuk menakhodai armada Les Bleus.
Namun, bagi pria berusia 54 tahun tersebut, romansa hanyalah bumbu di Koran-koran pagi. Dia datang bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk menertibkan ego, mengembalikan kebanggaan yang sempat terkoyak di Piala Dunia, dan menuntut fokus mutlak.
Selama masa transisi pasca-Didier Deschamps, kedatangan para pemain Prancis ke Clairefontaine sering kali berubah menjadi panggung peragaan busana.
Kamera media menyoroti pakaian desainer, kacamata hitam mahal, dan senyum untuk media sosial. Hal pertama yang dilakukan Zidane secara mengejutkan adalah memangkas semua itu.
"Kami akan mengubahnya. Begitu kami tiba di sini, tidak perlu lagi menampilkan pertunjukan semacam itu," tegas Zidane dalam konferensi persnya.
Tindakan ini bukan bentuk arogansi, melainkan perlindungan seorang "ayah" kepada anak-anak asuhnya. Zidane, yang tumbuh dari kerasnya jalanan daerah miskin La Castellane di Marseille, tahu persis bahwa kilau lampu kilat kamera bisa membutakan fokus seorang atlet.
Ia ingin para pemainnya datang sebagai tentara yang siap bertempur untuk lambang ayam jantan di dada, bukan selebritas yang mencari atensi publik.
Sentuhan Personal untuk Skuad BaruSisi humanis Zidane juga terpancar dari bagaimana ia merangkul ketidaksempurnaan skuadnya. Alih-alih hanya mengandalkan megabintang, ia memanggil lima wajah baru yang belum pernah mencicipi seragam timnas senior.
Anak-anak muda seperti Guillaume Restes hingga Jérémy Jacquet mungkin dulu hanya bisa melihat kejeniusan Zidane lewat rekaman video. Kini, mereka punya kesempatan mewujudkan mimpi membela negara di ajang resmi.
Ia juga membuka pintu bagi mereka yang terasingkan, memberikan kesempatan kedua. Bahkan kepada seorang kapten seperti Kylian Mbappé, Zidane tidak segan-segan berkomunikasi secara personal dan taktis, memintanya kembali bermain di sayap kiri demi kenyamanan dan ketajaman sang pemain.
Ketika Mbappé dilaporkan sempat absen di latihan perdana karena kondisi kesehatan, kecemasan publik Prancis memuncak, namun Zidane tetap tenang.
Ia tahu kapan harus menuntut, dan kapan harus memahami kondisi manusia di balik seragam bernomor punggung tersebut.Takdir yang Menanti di Izmit.
Dua puluh tahun lalu, Zidane meninggalkan seragam Prancis dengan kepala tertunduk akibat kartu merah tragis di final Piala Dunia 2006. Sekarang, ia kembali mengenakan jaket pelatih dengan lambang yang sama.
Arda Guller Di kubu Turki, Arda Güler berdiri dengan kebanggaan penuh. Pemuda yang sehari-hari belajar dari megabintang seperti Mbappé di Madrid, kini memikul harapan seluruh bangsa Turki untuk menumbangkan sang raksasa Eropa.
Güler adalah representasi dari generasi baru sepak bola Turki yang berani, dinamis, dan tidak gentar menghadapi siapa pun, bahkan rekan setimnya sendiri.
Stadion Kocaeli dipastikan akan menjadi saksi bagaimana taktik bertabrakan dengan gairah. Di satu sisi, ada Prancis yang sedang mencari jati diri baru di bawah sang maestro.
Di sisi lain, ada Turki yang didorong oleh energi luar biasa dari suporter fanatiknya yang siap membakar semangat bertarung tim nasional mereka. Ketika peluit pertama dibunyikan, persahabatan di Madrid akan membeku selama 90 menit. (bsf)
HEAD TO HEAD
14/10/19: Prancis 1-1 Turki 08/06/19: Turki 2-0 Prancis 05/06/09: Prancis 1-0 Turki 26/06/03: Prancis 3-2 Turki 15/11/00 Turki 0-4 Prancis
5 LAGA TERAKHIR TURKI 31/03/26: Kosovo 0-1 Turki 01/06/26: Turki 4-0 Makedonia 06/06/26: Turki 2-1 Venezuela 14/06/26: Australia 2-0 Turki 20/06/26: Turki 0-1 Paraguay
5 LAGA TERAKHIR PRANCIS
26/06/26: Norwegia 1-4 Prancis 30/06/26: Prancis 3-0 Swedia 04/07/26: Paraguay 0-1 Prancis 09/07/26: Prancis 2-0 Maroko 14/07/26: Prancis 0-2 Spanyol
PRAKIRAAN PEMAIN
Turki (4-2-3-1) Cakir (GK) Elmali, Berdakci, Kabak, Celik (B) Yuksek, Ozcan (cdm) Akturkoglu, Guler, Uzun (T) Yilmaz (D) Pelatih: Vicenzo Montella
Prancis (4-2-3-1) Maignan (GK) Kounde, Upamecano, Lacroix, Diouf (B) Camavinga, Rabiot (cdm) Olise, Cherki, Douie (T) Mbappe (D) Pelatih: Didier Deschamps
Editor : Inilahkoran

