Italia vs Belgia: Mimpi Azzurri
DUEL ini entang Gli Azzurri yang berani meremajakan mimpi kontra perjuangan The Red Devils menyatukan kepingan sisa dari generasi emas mereka.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh: Bsafaat
Italia vs Belgia menjadi salah satu laga pembuka Grup 1 UEFA Nations League A 2026-27. Kedua tim bentrok di Stadio Olimpico, Roma, Sabtu (26/9) dini hari WIB.
Bagi Italia, laga ini menjadi simbol dari sebuah keberanian yang radikal. Di bawah arahan taktis yang ketat, Gli Azzurri melangkah ke lapangan dengan membawa identitas baru yang segar.
Tidak ada lagi ketergantungan mutlak pada nama-nama besar masa lalu. Sebaliknya, ruang ganti Italia kini dipenuhi oleh energi serta ambisi menyala dari 11 pemain U-23 yang dipanggil ke dalam skuad.
Melihat anak-anak muda ini mengenakan jersei biru yang legendaris bukan lagi soal eksperimen, melainkan tentang menjaga api harapan.
Bagi para pendukung di Roma atau Milan, menyaksikan pemain muda ini bertarung memberikan kehangatan tersendiri. Ada rasa bangga yang humanis ketika melihat seorang pemain muda menahan napas saat lagu kebangsaan Il Canto degli Italiani berkumandang.
Pelatih Roberto Mancini memanggil 34 pemain untuk menghadapi laga ini. Davide Frattesi masuk dalam daftar 34 pemain yang dipanggil Mancini.
Mancini tak ragu memanggil Frattesi yang tampil apik bersama tim barunya Lazio. Ia mampu mengemas tiga gol dari lima laga awal Serie A musim ini.
Frattesi senang Mancini bisa kembali melatih Timnas Italia. Ia menilai Mancini kini sedang berusaha membangun kembali kejayaan Italia dengan para pemain muda. Ada 11 pemain yang berusia di bawah 23 tahun di skuad Italia saat ini.
Frattesi yang terbilang sudah punya pengalaman di Italia siap membimbing para juniornya. Gelandang 27 tahun tersebut telah mengemas 34 caps dengan torehan delapan gol bersama Italia.
"Skuad baru ini dipenuhi pemain muda," ujar Frattesi dikutip dari Football Italia "Kami mulai membangun sesuatu yang bagus. Banyak dari mereka adalah wajah baru, dan tugas kamilah untuk membantu mereka beradaptasi, namun saya melihat adanya pemain-pemain berkualitas yang saya yakin akan sangat membantu kami," jelasnya.
Di kubu seberang, Belgia datang dengan narasi yang jauh lebih melankolis. Selama satu dekade, dunia mengenal mereka sebagai "Generasi Emas" yang selalu menakutkan namun sering kali berakhir tragis tanpa trofi mayor.
Kini, fondasi itu mulai bergeser. Nama-nama ikonik satu per satu pamit, menyisakan sang mesin gol gaek seperti Romelu Lukaku untuk membimbing talenta-talenta baru seperti Amadou Onana dan Lois Openda.
Bagi publik Belgia, setiap laga Nations League saat ini adalah proses transisi yang emosional. Ini adalah tentang bagaimana sebuah bangsa belajar melepas bayang-bayang masa lalu yang indah demi merajut harapan baru.
Di atas lapangan, ketegangan itu terlihat nyata: ekspresi frustrasi yang bercampur dengan pelukan penyemangat dari sang senior kepada juniornya ketika sebuah operan meleset. (bsf)
HEAD TO HEAD
14/11/24: Belgia 0-1 Italia
10/10/24: Italia 2-2 Belgia
10/10/21: Italia 2-1 Belgia
02/07/21: Belgia 1-2 Italia
13/06/16: Belgia 0-2 Italia
5 LAGA TERAKHIR ITALIA
07/06/26: Yunani 0-1 Italia
03/06/26: Luksemburg 0-1 Italia
31/03/26: Bosnia 1-1 Italia
26/03/26: Italia 2-1 Irlandia Utara
16/11/25: Italia 1-4 Norwegia
5 LAGA TERAKHIR BELGIA
15/06/26: Belgia 1-1 Mesir
21/06/26: Belgia 0-0 Iran
27/06/26: Selandia Baru 1-6 Belgia
01/07/26: Belgia 3-2 Senegal
07/07/26: AS 1-4 Belgia
PRAKIRAAN PEMAIN Italia (4-3-3) Donnarumma (GK) Calafiori, Bastoni, Mancini, Kayode (B) Tonali, Ricci, Barella (T) Raspadori, Esposito, Zaniolo (D) Pelatih: Roberto Mancini Belgia (4-2-3-1) Lammens (GK) Castagne, Winter, Debast, Cuyper (B) Tielemans, Lavia (cdm) Lukebakio, Bruyne, Godts (T) Ketelaere (D) Pelatih: Mark van Bommel
Editor : Inilahkoran

