Ranggajati Nasibmu Kini...
KONDISI Gedung Olahraga (GOR) Ranggajati Kabupaten Cirebon begitu memprihatin-kan. Perawatan terlupakan, pembenahan tak kunjung dilakukan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Maman Suharman
Di balik megahnya nama Ranggajati, ada jerit senyap dari para atlet dan pencinta olahraga di Kabupaten Cirebon yang harus berteman dengan keterbatasan.
Gedung yang seharusnya menjadi kawah candradimuka tempat lahirnya prestasi, kini kondisinya kian memprihatinkan dan tak lagi ramah bagi mereka yang berkeringat demi mengharumkan nama daerah.
Bukan rahasia lagi, berjalan masuk ke dalam GOR ini seperti menyaksikan ruang yang terlupakan.
Kursi tribun penonton banyak yang patah dan rusak, sementara saat hujan turun, atap yang bocor memaksa para atlet mengalah pada air yang menggenangi lantai lapangan.
Ironisnya, di tengah fasilitas yang “sakit” ini, denyut nadi aktivitas olahraga tak pernah mati. GOR Ranggajati tetap menjadi tumpuan utama, bahkan saking minimnya sarana, sejumlah cabang olahraga harus rela mengantre dan bergantian jadwal latihan Pemerintah Kabupaten Cirebon bukannya tutup mata, namun mereka terbentur dinding tebal bernama keterbatasan anggaran.
Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) yang menaungi aset ini mengaku tangannya terikat. “Kami mengelola sejumlah aset olahraga, sehingga anggaran yang tersedia harus dibagi untuk pemeliharaan berbagai fasilitas,” ujar Kepala Dispora Kabupaten Cirebon, Jois Putra, Kamis (24/9).
Jois menceritakan realita pahit di balik pengelolaan fasilitas publik ini. Pendapatan dari penyewaan gedung yang mengalir setiap hari tidak bisa langsung diputar untuk menambal atap yang bocor atau mengganti kursi yang patah, karena semua uang sewa tersebut harus disetorkan langsung sebagai pendapatan daerah.
Tahun ini, secercah harapan sebenarnya muncul lewat alokasi anggaran revitalisasi Stadion Ranggajati sebesar Rp830 juta.
Namun sayangnya, dana tersebut baru bisa menyentuh area stadion luar, belum untuk GOR utama tempat para atlet dalam ruangan bernaung.Bagi para atlet yang setiap hari meneteskan keringat di sana, mereka masih harus bersabar dan memupuk asa di atas lantai yang bocor, setidaknya hingga tahun depan.
“Anggaran baru dialokasikan untuk revitalisasi GOR Ranggajati. Tapi untuk gedungnya, kita baru alokasikan tahun depan,” pungkas Jois.
Sementara itu pengamat kebijakan publik, Supirman alias Tong Eng mengatakan, kondisi GOR Ranggajati saat ini dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Selain kebijakan efisiensi anggaran, menurut dia, persoalan tersebut juga perlu dilihat dari perencanaan anggaran pemeliharaan aset sejak awal.
“Terbengkalainya GOR Ranggajati ini bisa dipengaruhi banyak faktor. Selain adanya efisiensi anggaran, perlu dilihat juga apakah sejak awal biaya pemeliharaannya sudah dialokasikan atau belum,” kata Tong Eng Menurutnya, pemeliharaan aset tidak seharusnya menunggu sampai kondisi bangunan mengalami kerusakan berat. Sebab, semakin lama kerusakan dibiarkan, biaya yang dibutuhkan untuk memperbaikinya berpotensi semakin besar.
“Kalau kerusakan kecil dibiarkan terus, lama-lama menjadi kerusakan besar. Kalau tahun depan baru dianggarkan, bisa saja biaya yang harus dikeluarkan justru jauh lebih tinggi dibandingkan apabila pemeliharaan dilakukan secara rutin,” ujarnya.
Tong Eng menilai persoalan tersebut seharusnya menjadi bahan evaluasi Pemerintah Kabupaten Cirebon dalam pengelolaan aset daerah. Pemerintah, kata dia, perlu memiliki data kondisi setiap aset sehingga dapat menentukan prioritas pemeliharaan maupun perbaikan.
Ia meminta Pemkab Cirebon segera menginventarisasi seluruh aset, khususnya gedung dan fasilitas publik yang berada di bawah pengelolaan organisasi perangkat daerah (OPD).
“Pemda harus segera menginventarisasi seluruh aset yang dimiliki. Jangan hanya GOR Ranggajati, tetapi seluruh bangunan dan fasilitas milik Pemkab harus dicek kondisinya, mana yang masih baik, mana yang perlu dipelihara dan mana yang harus segera diperbaiki,” tegasnya. (bsf)
Editor : Inilahkoran

