Stella Christie: AI Berpotensi Tentukan Posisi Strategis Indonesia
Wamendiktisaintek Stella Christie menyebut AI berpotensi menentukan posisi strategis Indonesia melalui data, energi, infrastruktur, talenta, dan teknologi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID– Wakil Menteri pendidikan tinggi, Sains, dan teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menyatakan perkembangan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) berpotensi membawa Indonesia menuju perubahan yang menentukan posisi strategis negara.
Menurut Stella, perkembangan AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyangkut sejumlah aspek strategis seperti data, energi, infrastruktur, talenta, hingga kemampuan manusia dalam memahami konteks.
"Indonesia punya peluang besar, kita punya infrastruktur, kebijakan, dan talenta. Indonesia memiliki energi terbarukan yang luar biasa besar. Kita bisa menang dan maju kalau kita memikirkannya bersama," kata Stella dalam keterangannya di Jakarta, Senin.
Ia menyoroti perkembangan AI yang berlangsung secara eksponensial dan berpotensi memberikan dampak besar terhadap berbagai sektor kehidupan.
Karena itu, menurut Stella, perkembangan AI perlu dipahami tidak hanya dari sisi kemampuan teknologinya, tetapi juga perubahan yang ditimbulkan terhadap cara manusia bekerja, mengambil keputusan, serta membangun kepercayaan.
Stella menilai Indonesia perlu memiliki kemampuan untuk membaca posisi strategisnya dan menentukan ruang yang dapat dikembangkan sesuai dengan kekuatan nasional.
Dalam ekosistem AI, terdapat tiga komponen utama yang menjadi penopang, yakni computing power, data, dan algoritma.
Indonesia Punya Potensi Besar dari Sisi Data
Dalam konteks tersebut, Stella menyebut Indonesia memiliki potensi besar dari sisi data. Jumlah penduduk yang besar membuat Indonesia memiliki sumber data yang luas dan menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem AI.
Namun, potensi tersebut perlu diiringi dengan pengelolaan dan perlindungan data yang lebih baik, baik pada tingkat negara, institusi, perusahaan, maupun individu.
"Potensi tersebut perlu diiringi dengan pengelolaan dan perlindungan data yang lebih baik, baik pada tingkat negara, institusi, perusahaan, maupun individu," ujarnya.
Selain data, Stella melihat computing power sebagai salah satu ruang strategis yang dapat dikembangkan Indonesia melalui investasi pusat data atau data center.
Kebutuhan terhadap pusat data diperkirakan terus meningkat seiring dengan perkembangan AI. Di sisi lain, pembangunan pusat data membutuhkan dukungan teknologi, kebijakan, pembiayaan, infrastruktur, serta talenta.
energi terbarukan Jadi Kekuatan Strategis
Stella juga menilai Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Menurut dia, kekuatan tersebut dapat menjadi salah satu modal strategis Indonesia dalam menghadapi perkembangan ekosistem AI.
"Kalau kita bisa menjadi supplier, maka kita punya posisi. Kita tidak hanya dikontrol oleh orang lain, tetapi kita punya sovereignty," katanya.
Menurut Stella, kemampuan Indonesia dalam menyediakan kebutuhan penting bagi ekosistem AI dapat memperkuat posisi negara sekaligus membuka ruang untuk membangun kemandirian teknologi.
Di sisi lain, perkembangan AI juga membawa tantangan terhadap kepercayaan dan hubungan manusia dengan teknologi.
Stella yang merupakan pakar psikologi kognitif mengingatkan bahwa kemampuan AI dalam menghasilkan informasi dan membantu mengambil keputusan menuntut manusia untuk semakin memahami konteks penggunaannya.
Menurut dia, manusia tetap perlu mempertimbangkan nilai, preferensi, konteks, serta konsekuensi dalam menggunakan teknologi AI.
Dengan demikian, perkembangan AI tidak hanya membutuhkan kesiapan teknologi dan infrastruktur, tetapi juga kemampuan manusia untuk memahami dan mengelola dampaknya secara tepat.***
Editor : JakaPermana

