Hadapi Tantangan AI, YESI Rancang Politeknik Siber Indonesia di Bandung
Yayasan Edukasi Siber Indonesia (YESI) menyiapkan pendirian Politeknik Siber Indonesia di Bandung dengan tiga usulan program studi D4 berbasis AI
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN– Kekhawatiran terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang berpotensi menggerus kemampuan berpikir kritis generasi muda menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Yayasan Edukasi Siber Indonesia (YESI) menyiapkan pendirian Politeknik Siber Indonesia (PSI) di Bandung. Lembaga pendidikan tinggi vokasi ini dirancang untuk mencetak tenaga terampil yang mampu mengembangkan sekaligus mengamankan teknologi digital.
Rencana tersebut menjadi salah satu upaya YESI menjawab tantangan pendidikan di era AI. Generasi muda dinilai tidak cukup hanya menguasai cara menggunakan teknologi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan analitis, memahami cara kerja sistem digital, serta mampu mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya.
Ketua Pengurus YESI, Julia Rezeki, menyampaikan hal tersebut sebagai respons atas pandangan Wakil Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Saldi Isra mengenai risiko penggunaan AI tanpa kebijaksanaan.
Dalam pemberitaan pada 29 Oktober 2026, Saldi menyoroti potensi berkurangnya kebiasaan membaca, menulis, berkomunikasi, dan mengasah kemampuan analitis di kalangan anak muda akibat penggunaan AI yang tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis.
Julia menilai kekhawatiran tersebut perlu menjadi bahan evaluasi dalam pengembangan pendidikan. Namun, dampak AI tidak bisa digeneralisasi hanya berdasarkan pengalaman atau pilihan pribadi seseorang dalam menggunakan teknologi.
“Pandangan tersebut memiliki dasar kekhawatiran yang dapat dipahami. Akan tetapi, pengalaman dan pilihan pribadi dalam menggunakan teknologi tidak dapat dengan sendirinya dijadikan ukuran umum mengenai manfaat atau kerugian AI bagi seluruh generasi muda,” kata Julia dalam keterangannya, Jumat (30/10/2026).
Menurut dia, persoalan mendasar bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan pada pola penggunaannya. Ketergantungan yang membuat seseorang menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin tanpa melakukan verifikasi dapat menghambat pengembangan kemampuan analitis.
Sebaliknya, AI dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran apabila digunakan untuk menguji argumentasi, mempelajari pemrograman, mengolah data, hingga mendukung penelitian. Karena itu, kemampuan memanfaatkan teknologi harus berjalan beriringan dengan kecakapan mengevaluasi informasi dan mempertahankan kemandirian berpikir.
“Perkembangan teknologi harus dinilai berdasarkan bukti, metode penggunaan, kualitas pendidikan, dan kemampuan manusia mengendalikannya,” jelas Julia.
Pendidikan Harus Perkuat Nalar Kritis
YESI menilai lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam memastikan pemanfaatan AI tidak menghilangkan kemampuan dasar peserta didik untuk berpikir dan menyusun gagasan secara mandiri.
Mahasiswa, misalnya, harus tetap mampu membangun argumentasi, memeriksa validitas sumber, menjelaskan tahapan berpikir, serta mempertanggungjawabkan hasil penelitian. Penggunaan teknologi semestinya mendukung proses belajar, bukan menggantikan seluruh kemampuan intelektual penggunanya.
“Mahasiswa harus tetap mampu menyusun argumentasi sendiri, mempertanggungjawabkan hasil penelitian, menjelaskan proses berpikir, memeriksa sumber informasi, serta membedakan hasil kerja pribadi dengan bantuan teknologi,” terangnya.
Di sisi lain, penguatan kemampuan berpikir kritis perlu disertai penguasaan keterampilan teknis. Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya menjadi konsumen teknologi digital, tetapi juga mampu membangun sistem, mengembangkan inovasi, dan melindungi infrastruktur digital dari berbagai ancaman.
“Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang memahami matematika, algoritma, pemrograman, keamanan data, pengembangan model kecerdasan buatan, robotika, dan rekayasa sistem digital,” ujar Julia.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu dasar YESI merancang pendirian PSI sebagai lembaga pendidikan tinggi vokasi yang berorientasi pada penguasaan teknologi terapan.
PSI Usulkan Tiga Program Studi D4
Dalam rencana pendiriannya, PSI mengusulkan tiga program studi jenjang Diploma Empat (D4), yakni Kecerdasan Buatan dan Robotika, Rekayasa keamanan siber, serta Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak.
Ketiga program studi tersebut dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan yang relevan dengan perkembangan industri digital.
Bidang kecerdasan buatan dan robotika berfokus pada pengembangan teknologi cerdas dan otomatisasi. Rekayasa keamanan siber diarahkan pada perlindungan sistem digital, sedangkan teknologi rekayasa perangkat lunak mencakup perancangan dan pengembangan aplikasi.
Melalui program tersebut, YESI ingin memperluas peluang generasi muda untuk mengambil peran dalam pengembangan teknologi, bukan sekadar menggunakan produk yang diciptakan pihak lain.
“Dengan kemampuan tersebut, generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang dikembangkan pihak lain, tetapi memiliki kesempatan untuk turut menciptakan dan mengamankannya,” ungkap Julia.
Dari sisi administrasi, rencana pendirian PSI telah memperoleh Surat Rekomendasi Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV Nomor 816/DST/LL4/KL.00.00/2026 tertanggal 26 Oktober 2026.
Meski demikian, rekomendasi tersebut belum menandai dimulainya kegiatan perkuliahan. PSI masih berada dalam tahap persiapan dan YESI harus melanjutkan pemenuhan persyaratan pendirian sebelum politeknik tersebut dapat beroperasi.
YESI menilai pengembangan pendidikan tinggi perlu diarahkan pada keseimbangan antara penguasaan teknologi, kualitas kompetensi lulusan, dan kebutuhan masyarakat. Kemajuan AI tidak semestinya dipertentangkan dengan kemampuan manusia, tetapi harus diimbangi pendidikan yang memperkuat keduanya.
“Tantangan pendidikan tinggi bukan memilih antara mempertahankan kemampuan manusia atau mengembangkan teknologi. Tantangannya adalah memastikan keduanya tumbuh bersama,” pungkas Julia.
Melalui rencana pendirian PSI di Bandung, YESI berharap pendidikan vokasi dapat berkontribusi dalam menyiapkan generasi muda yang menguasai teknologi sekaligus memiliki integritas dan tanggung jawab.
Dengan demikian, tantangan AI tidak hanya dijawab melalui peningkatan keterampilan digital, tetapi juga melalui penguatan daya kritis agar generasi muda mampu menggunakan, mengembangkan, dan mengendalikan teknologi secara bertanggung jawab.***
Editor : JakaPermana

