Dosen IPB Ingatkan Mahasiswa soal Etika Penggunaan AI dan Privasi Data
Dosen IPB University Hafidlotul Fatimah Ahmad mengingatkan mahasiswa soal etika penggunaan AI, verifikasi informasi, privasi data, dan integritas akademik.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang besar dalam dunia pendidikan. Namun, penggunaannya perlu disertai pemahaman etika, kemampuan memverifikasi informasi, serta kesadaran menjaga privasi data.
Dosen Sekolah Sains Data, Matematika, dan Informatika IPB University, Hafidlotul Fatimah Ahmad, mengatakan AI dapat membantu mahasiswa mencari referensi, menganalisis data, hingga mengembangkan aplikasi. Meski demikian, teknologi tersebut tidak boleh digunakan tanpa pemeriksaan dan pertimbangan yang matang.
"Memang teknologi ini dapat membantu mahasiswa mencari referensi, menganalisis data, hingga mengembangkan aplikasi. Namun, di tengah kemudahan yang ditawarkan, penggunaannya perlu disertai pemahaman etika," ungkap Fatimah dalam keterangan tertulis, Senin (12/10/2026).
Menurut Fatimah, terdapat dua aspek etika yang kerap diabaikan dalam penggunaan AI, yakni human oversight atau pengawasan manusia dan data privacy atau privasi data.
AI generatif seperti ChatGPT dan Gemini bekerja dengan memprediksi kata berikutnya berdasarkan pola dari data yang telah dipelajari. Karena itu, hasil yang diberikan tidak selalu akurat dan tetap membutuhkan pemeriksaan manusia.
"Karena itu, hasilnya tidak selalu benar dan perlu diperiksa kembali. Tidak bisa kita menjadikan AI ini satu-satunya sumber kebenaran," terangnya.
Fatimah mengingatkan mahasiswa agar tidak langsung mempercayai jawaban yang dihasilkan AI, termasuk referensi dan tautan artikel ilmiah. Sebab, tautan yang diberikan bisa saja tidak valid atau mengarah pada sumber yang sebenarnya tidak tersedia.
Selain memeriksa kebenaran informasi, pengguna juga perlu menjaga kerahasiaan data pribadi maupun data penelitian yang bersifat rahasia.
"Selain memverifikasi informasi, pengguna perlu menjaga kerahasiaan data. Data sensitif, seperti nomor induk kependudukan (NIK), maupun data penelitian yang bersifat rahasia tidak boleh sembarangan dimasukkan ke layanan AI," jelasnya.
Ia juga menyarankan pengguna memeriksa pengaturan privasi pada setiap layanan AI. Sejumlah layanan menyediakan opsi agar percakapan tidak digunakan untuk pelatihan model, tetapi ketersediaan dan pengaturan fitur tersebut perlu dipastikan terlebih dahulu.
Dalam dunia pendidikan, AI dapat dimanfaatkan untuk mencari ide, melakukan brainstorming, hingga membuat latihan soal. Namun, mahasiswa tetap harus memahami materi dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya.
Fatimah menilai, menyalin hasil AI tanpa pemeriksaan lalu mengumpulkannya sebagai karya sendiri berpotensi melanggar integritas akademik.
Menurutnya, penggunaan AI tidak serta-merta melemahkan kemampuan manusia. Mahasiswa justru perlu meningkatkan keterampilan analisis dan penalaran agar mampu mengerjakan tugas yang membutuhkan pemikiran kritis, sementara pekerjaan berulang dapat dibantu teknologi.
Karena itu, mahasiswa diminta tetap memegang kendali dalam menggunakan AI, menjaga privasi data, dan terus meningkatkan keterampilan seiring perkembangan teknologi.
"Pesan saya simpel, ingat bahwa tugas yang teman-teman kumpulkan, itu membawa nama teman-teman, bukan nama AI," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti
