IPB Luncurkan 4 Varietas Cabai Habanero Lokal Pertama di Indonesia
IPB berhasil menggabungkan 4 varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia dan salah satunya memiliki tingkat kepedasan ekstrem
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil menggabungkan 4 varietas cabai habanero lokal pertama di Indonesia. Salah satu dari varietas inovatif ini memiliki tingkat kepedasan ekstrem yang mencapai 1,3 juta Scoville Heat Units (SHU).
Ahli pemuliaan tanaman IPB , Muhamad Syukur, mengungkapkan keempat varietas tersebut dinamai Tabia Sala 1 IPB, Margi 2 IPB, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB. Keempatnya kini resmi menjadi varietas habanero pertama yang terdaftar di Kementerian Pertanian RI dan telah mendapatkan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT).
"Pada dasarnya cabai habanero di Indonesia itu belum ada. Baru ada Katokkon Sayang dari Sulawesi Selatan yang terdaftar. Jadi, yang mendapat perlindungan varietas pertama kali untuk jenis habanero adalah rakitan kami dari IPB University," kata Syukur saat memberikan keterangan di Bogor, seperti dikutip dari Antara, Kamis (16/7/2026).
Guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB University itu menjelaskan, salah satu daya tarik utama dari cabai habanero lokal ini adalah tingkat kepedasannya yang dapat mencapai lima kali lipat dibandingkan cabai rawit biasa.
Varietas Tabia Sala 1 IPB yang berwarna merah menjadi primadona karena memiliki tingkat kepedasan tertinggi, yakni berkisar antara 1 juta hingga 1,3 juta SHU. Sementara itu, Margi 2 IPB yang berwarna peach, Tabia Sala Oranye IPB, dan Tabia Sala Kuning IPB masing-masing memiliki tingkat kepedasan antara 350 ribu hingga 500 ribu SHU.
Selain super pedas, Syukur menyebut keunggulan utama cabai habanero rakitan IPB University ini terletak pada kemampuan adaptasinya terhadap iklim tropis. Berbeda dengan cabai habanero impor yang umumnya memiliki daya adaptasi rendah di Indonesia, empat varietas lokal ini dirancang agar lebih tangguh serta tahan terhadap serangan hama dan penyakit keriting kuning.
Saat ini, benih dari keempat varietas tersebut telah didiseminasikan oleh Benih Dramaga, sehingga sudah dapat diakses dan ditanam secara massal oleh para petani di tanah air. Syukur berharap varietas baru ini dapat dikembangkan secara luas oleh petani maupun sektor industri karena memiliki potensi pasar domestik hingga ekspor yang sangat menjanjikan.
"Di dalam negeri, kebutuhan akan cabai dengan kepedasan tinggi sangat besar karena dapat mengurangi volume penggunaan cabai secara keseluruhan. Bahkan, ada perusahaan pengolahan di Bogor yang sudah berminat mengembangkan cabai bubuk dari varietas habanero IPB University ini," ujarnya.
Tidak hanya pasar lokal, cabai habanero ini juga melirik peluang ekspor ke Korea Selatan sebagai bahan baku pembuatan hot pack yang digunakan untuk menghangatkan tubuh selama musim dingin.
Syukur mengungkapkan, proses perakitan empat varietas ini merupakan buah dari riset panjang yang dimulai sejak tahun 2020. Selama enam tahun penelitian, tim menghadapi sejumlah tantangan klasik, mulai dari kebutuhan pendanaan yang berkelanjutan, keterbatasan lahan dan rumah kaca, hingga ketersediaan sumber daya manusia pendukung.
"Fasilitas pendukung seperti alat untuk analisis kepedasan juga tergolong mahal," pungkas Syukur, yang sepanjang kariernya telah berhasil menelurkan lebih dari 30 varietas cabai unggul," ujarnya.
Editor : Ahmad Sayuti

