Mahasiswa KKN IPB Kenalkan Beras Pratanak Lewat Program Beras+ di Jombang

Mahasiswa KKN IPB mengenalkan beras pratanak melalui program Beras+ di Desa Sumberagung, Jombang, untuk meningkatkan nilai tambah komoditas padi

Mahasiswa KKN IPB Kenalkan Beras Pratanak Lewat Program Beras+ di Jombang
Mahasiswa KKN IPB berfoto bersama dengan warga di lokasi pengabdian.

INLAHKORAN.ID - Beras+ menjadi inovasi yang diusung oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) IPB University untuk mendorong peningkatan nilai tambah dan nilai jual komoditas padi di Desa Sumberagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Program ini dirancang sebagai upaya mengenalkan inovasi pengolahan gabah pascapanen melalui pembuatan beras pratanak atau parboiled rice, sekaligus memberikan edukasi mengenai budidaya tanaman sehat kepada masyarakat.

beras pratanak atau parboiled rice merupakan gabah yang melalui beberapa tahapan pengolahan sebelum digiling, yaitu perendaman, pengukusan, dan pengeringan.

Pengolahan tersebut menjadi salah satu alternatif diversifikasi produk beras yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah hasil panen.

Melalui program Beras+, masyarakat diperkenalkan pada konsep bahwa gabah tidak hanya dapat dijual dalam bentuk gabah atau beras putih biasa, tetapi juga memiliki peluang untuk diolah menjadi produk dengan karakteristik dan nilai jual yang berbeda.

Kegiatan ini melibatkan Kelompok KKNT IPB Desa Sumberagung bersama Kelompok Tani Sumberagung, serta beberapa perangkat desa.
Keterlibatan berbagai pihak tersebut menjadi bagian dari upaya untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai potensi pengembangan komoditas padi melalui pengolahan pascapanen.

“Beras+ kami hadirkan untuk mengenalkan kepada masyarakat mengenai peluang pengembangan komoditas padi melalui pengolahan pascapanen. Salah satunya dengan mengolah gabah menjadi beras pratanak yang memiliki karakteristik dan keunggulan tersendiri, sehingga diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap hasil pertanian,” ujar Fathani Nur Ardini, mahasiswa KKN IPB University Desa Sumberagung, Kamis (13/8/2026).

Dalam sesi penyampaian materi, mahasiswa KKNT IPB University menjelaskan perbedaan antara beras putih biasa dan beras pratanak.
Pada beras putih biasa, gabah kering dapat langsung digiling, sedangkan pada beras pratanak, gabah terlebih dahulu melalui proses perendaman dan pengukusan sebelum dikeringkan dan digiling.

Perbedaan proses tersebut menghasilkan karakteristik beras pratanak yang khas, antara lain warna kuning keemasan atau krem serta ketahanan butir beras yang lebih baik terhadap patah saat proses penggilingan.

Selain karakteristik fisik, materi Beras+ juga menjelaskan sejumlah keunggulan beras pratanak dari aspek kualitas dan pangan. beras pratanak memiliki kandungan beberapa gizi yang lebih tinggi dibandingkan beras putih biasa, serta menghasilkan nasi dengan tekstur yang lebih tidak lengket dan cenderung terpisah.

Materi juga memperkenalkan perbedaan indeks glikemik, dengan beras pratanak memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras putih biasa.

Proses parboiling juga memiliki sejumlah manfaat dalam meningkatkan nilai tambah gabah. Proses tersebut dapat membantu menurunkan jumlah broken rice atau beras patah sehingga berpotensi meningkatkan rendemen beras utuh.

Selain itu, proses parboiling membantu mempertahankan kandungan gizi serta meningkatkan ketahanan beras selama proses transportasi dan penyimpanan.

Masyarakat juga mendapatkan gambaran melalui video mengenai tahapan pembuatan beras pratanak pada skala rumah tangga maupun industri kecil dengan peralatan sederhana.

Tahap pertama adalah perendaman gabah bersih menggunakan air untuk gabah kering. Selanjutnya, gabah dikukus hingga pati melunak dan kemudian segera dikeringkan untuk mencegah pertumbuhan jamur. 

Setelah gabah mencapai kondisi kering, proses dilanjutkan dengan penggilingan hingga menghasilkan beras pratanak dengan warna kuning keemasan yang menjadi salah satu karakteristiknya.

Sejalan dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan nilai jual komoditas padi, peluang pengembangan beras pratanak juga diperkenalkan melalui pembahasan mengenai target pasar.

Produk ini berpotensi menyasar konsumen yang memperhatikan aspek gizi dan pola hidup sehat, restoran dan katering yang membutuhkan karakteristik nasi tidak lengket, serta pasar produk beras bernilai tambah.

Selain materi mengenai beras pratanak, kegiatan Beras+ juga diisi dengan penyampaian materi mengenai budidaya tanaman sehat yang dipaparkan oleh M. Yusuf Arifin selaku Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sumberagung.

Materi tersebut menjadi bagian pendukung dalam program karena pengembangan nilai tambah komoditas padi tidak hanya berkaitan dengan pengolahan setelah panen, tetapi juga perlu didukung oleh proses budidaya yang baik sejak tanaman berada di lahan.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN IPB University berupaya memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai peluang diversifikasi hasil panen melalui pengolahan beras pratanak serta pentingnya budidaya tanaman sehat. 

Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang berbagi pengetahuan antara mahasiswa, penyuluh pertanian, dan masyarakat dalam mengoptimalkan potensi komoditas padi yang dimiliki desa.

Setelah rangkaian kegiatan arisan, peserta mengikuti sesi penyampaian materi yang disampaikan oleh mahasiswa KKN IPB University dan Penyuluh Pertanian Lapangan. 

Mahasiswa menyampaikan materi mengenai beras pratanak, mulai dari pengertian, tahapan pengolahan, manfaat proses parboiling, hingga peluang pengembangan dan peningkatan nilai tambah komoditas padi. Selanjutnya, materi mengenai budidaya tanaman sehat disampaikan oleh M. Yusuf Arifin selaku PPL Desa Sumberagung.

Program Beras+ diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk melihat komoditas padi tidak hanya sebagai hasil pertanian yang dijual dalam bentuk gabah atau beras biasa, tetapi juga sebagai komoditas yang memiliki peluang untuk dikembangkan melalui inovasi pascapanen.

Melalui pengolahan menjadi beras pratanak dan edukasi mengenai budidaya tanaman sehat, mahasiswa KKN IPB University turut mendukung pemanfaatan potensi lokal Desa Sumberagung dalam meningkatkan nilai tambah dan nilai jual komoditas padi secara berkelanjutan.


Editor : Ahmad Sayuti