Pengamat: Alih Fungsi Kebun Teh di Bandung Selatan Ancam Banjir Lumpur dan Longsor
Tindakan alih fungsi perkebunan teh menjadi kebun sayur di kawasan Bandung Selatan berpotensi meningkatkan risiko banjir lumpur dan tanah longsor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Tindakan alih fungsi perkebunan teh menjadi kebun sayur di kawasan Bandung Selatan, Kabupaten Bandung, berpotensi meningkatkan risiko banjir lumpur dan tanah longsor.
Pengamat geologi dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Cipta Endyana mengingatkan, perubahan tutupan lahan di kawasan perbukitan dapat memperbesar limpasan air hujan dan mempercepat erosi.
Peringatan tersebut mengemuka setelah dugaan perusakan kebun teh di Kertamanah, Pangalengan, Kabupaten Bandung, viral di media sosial. Sejumlah pohon teh di lahan milik PTPN I Regional 2 dilaporkan digergaji untuk diduga dialihkan menjadi kebun sayur.
Cipta menjelaskan, tanah yang diolah untuk budidaya sayuran cenderung lebih mudah tererosi. Ketika hujan turun, material tanah dapat terbawa aliran air menuju wilayah yang lebih rendah dan meningkatkan potensi banjir lumpur.
“Kalau misalkan kita ada hujan, itu akan tererosi, banyak membawa sedimen. Sehingga banjir itu akan membawa banyak erosi sedimen. Nah, itu yang menyebabkan ada lumpur, banyak lumpur,” kata Cipta saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, perubahan perkebunan teh menjadi kebun sayur juga berpotensi meningkatkan limpasan air permukaan atau run-off. Risiko tersebut semakin besar apabila alih fungsi lahan berlangsung secara masif tanpa pengelolaan yang tepat.
“Kalau tidak dikelola dengan baik, itu akan menjadi banjir ya, banjir dan membawa tadi lumpur tadi, banjir lumpur,” ujarnya.
Sebab itu, Cipta menegaskan perubahan fungsi lahan di kawasan perbukitan harus disertai perencanaan teknis. Pengaturan irigasi, pembuatan terasering, dan pengendalian erosi diperlukan untuk menekan volume sedimen yang terbawa aliran air.
“Jadi misalkan irigasinya, jadi tidak bisa miring, itu harus ada terasiringnya dan lain sebagainya, seperti itu. Sehingga laju sedimennya dan erosinya itu terkendali,” tuturnya.
Bandung Selatan Rentan Longsor
Cipta menjelaskan, karakteristik wilayah pegunungan dan perbukitan di Jawa Barat bagian selatan membuat kawasan tersebut perlu mendapat perhatian dari sisi mitigasi bencana. Pelapukan batuan vulkanik dan berkurangnya tutupan vegetasi dapat menambah kerentanan tanah terhadap longsor.
Ketika lahan dibuka dan diganti dengan tanaman yang sistem perakarannya tidak sekuat vegetasi sebelumnya, kemampuan tanah mengikat material dan menyerap air berpotensi menurun. Akibatnya, air hujan lebih banyak mengalir di permukaan.
“Apalagi dia dibuka nih, dialihfungsikan nih, menjadi tanaman-tanaman yang tidak memiliki akar yang kuat. Sehingga dia akan lebih mudah, jadi kalau ada hujan nih, dia tidak menyerap, tapi langsung menjadi air permukaan,” katanya.
Cipta menilai, perubahan penggunaan lahan di Bandung Selatan tidak boleh dilakukan secara sporadis tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan. Perlu ada perencanaan mitigasi untuk menentukan kawasan yang dapat dimanfaatkan dan area yang harus dipertahankan fungsi ekologisnya.
“Dampaknya, ya ada, ada kemungkinan seperti itu jika tidak ada rekayasa lain dengan pengelolaan tadi, jadi istilahnya mitigasi bencana seperti ini. Jadi mana yang harus diperbaiki, misalkan, atau ditingkatkan, diantisipasi, kemudian mana yang misalkan yang harus dipertahankan,” ujarnya.
Dia menambahkan, perkebunan teh berperan membantu menjaga kestabilan tanah di kawasan perbukitan. Sistem perakaran tanaman dapat mengikat tanah dan mengurangi potensi erosi, sedangkan pengolahan tanah untuk tanaman sayuran perlu disertai teknik konservasi yang memadai.
“Akarnya kuat ya. Sehingga dia, kan kalau kita lihat teh kan akarnya gede. Kalau sayuran kan enggak,” katanya.
Meski demikian, pemanfaatan lahan untuk budidaya sayuran tetap perlu mempertimbangkan kondisi geografis dan menerapkan teknik pengelolaan yang tepat. Penataan irigasi, pengendalian aliran air, dan konservasi tanah menjadi bagian penting untuk menekan risiko erosi.
Peringatan serupa disampaikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Dia mengingatkan potensi bencana akibat perubahan fungsi lahan di Pangalengan dan Ciwidey, Kabupaten Bandung, terutama jika kebun teh ditebang untuk digantikan dengan tanaman sayuran.
Dedi menegaskan, perhatiannya tertuju pada fungsi konservasi tanaman dan keselamatan lingkungan, bukan pada konflik agraria yang mungkin menyertai persoalan tersebut.
“Saya tidak ada urusan dengan konflik agrarianya, tapi yang saya tekankan adalah jangan menebang tanaman yang memiliki fungsi konservasi, menjaga lingkungan dari ancaman bencana,” ujar Dedi dikutip dari akun media sosialnya, Kamis (29/10/2026).
Menurut Dedi, kawasan Bandung Selatan yang berada di lereng pegunungan membutuhkan perlindungan lingkungan. Perubahan tutupan lahan tanpa mempertimbangkan fungsi ekologis dikhawatirkan meningkatkan risiko longsor.
“Kalau kebun teh terus ditebangin, diganti dengan perkebunan sayur, nanti longsor. Bandung itu lereng gunung. Kalau kemudian semuanya berubah jadi kebun sayur, sudah, tunggu kehancurannya,” ucapnya.
Dedi mengingatkan, dampak kerusakan lingkungan tidak selalu langsung terlihat. Perubahan penggunaan lahan yang berlangsung berulang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem dan meningkatkan risiko bencana yang pada akhirnya berdampak terhadap masyarakat.
“Kalau sudah jadi bencana nanti yang repot kita semua. Untuk itu semoga ini menjadi kesadaran, tidak melakukan tindakan berulang,” katanya.
Dia juga meminta masyarakat tidak mengabaikan kelestarian lingkungan demi kepentingan ekonomi jangka pendek.
“Jangan menjadi alat bagi orang-orang yang hanya mementingkan kepentingan kekayaannya saja, tidak memperhatikan keselamatan lingkungan,” tegasnya.
Sebelumnya, dugaan perusakan kebun teh di Kertamanah, Pangalengan, menjadi sorotan setelah beredar di media sosial.
Sejumlah warga yang mengatasnamakan Aliansi Petani Pangalengan (APP) menyampaikan kekecewaan atas tindakan oknum yang diduga merusak tanaman teh milik PTPN I Regional 2.
Dalam informasi yang beredar, lahan yang terdampak disebut mencapai 0,4 hektare dengan perkiraan sekitar 5.000 pohon teh digergaji. Lahan tersebut diduga hendak dialihkan menjadi kebun sayur.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya pengawasan perubahan penggunaan lahan di kawasan Bandung Selatan. Selain mempertimbangkan aspek pemanfaatan ekonomi, pengelolaan lahan di wilayah perbukitan perlu memperhitungkan fungsi resapan air, kestabilan tanah, dan risiko bencana.
Tanpa pengelolaan dan mitigasi yang memadai, perubahan tutupan lahan berpotensi memperbesar ancaman erosi, banjir lumpur, dan tanah longsor saat hujan.
Editor : Doni Ramdhani

