Pelajar Cimahi Juara Fotografi UNESCO, Angkat Kisah Perajin Kayu Jepara

Yudha Pramudya, pelajar asal Cimahi, meraih juara pertama kompetisi fotografi UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads 2026 lewat foto perajin kayu Jepara.

Pelajar Cimahi Juara Fotografi UNESCO, Angkat Kisah Perajin Kayu Jepara
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Prestasi membanggakan ditorehkan pelajar asal Cimahi, Jawa Barat. Yudha Pramudya (14), siswa kelas IX SMP Negeri 2 Cimahi, berhasil meraih juara pertama kategori usia 14-17 tahun dalam kompetisi fotografi internasional UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads 2026 ke-8.

Yudha menjadi juara melalui karya fotografi berjudul “A Legacy in Every Carving” yang mengangkat aktivitas seorang perajin kayu Jepara.

Menurut siaran pers UNESCO, karya Yudha terpilih dari lebih dari 7.000 karya peserta dari 100 negara. Proses seleksi dilakukan secara internasional dengan mempertimbangkan orisinalitas, kekhasan, serta kekuatan visual karya.

Foto tersebut menampilkan seorang pengukir kayu Jepara yang tengah bekerja dengan penuh konsentrasi. Melalui karya itu, Yudha ingin menggambarkan keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan tradisional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Yudha mengaku mulai tertarik dengan dunia fotografi sejak duduk di bangku SMP melalui kegiatan ekstrakurikuler. Informasi mengenai kompetisi UNESCO tersebut kemudian ia temukan melalui media sosial Instagram.

“Awalnya ketemu postingan di Instagram tentang lomba foto UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads Photo Contest. Saya langsung berpikir mau coba saja. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali,” tutur Yudha.

Untuk menghasilkan karya tersebut, Yudha meminjam kamera milik temannya dan menyewa lensa. Ia awalnya berencana mengabadikan perajin wayang di Jelekong, Bandung.

Namun, rencana tersebut berubah hingga akhirnya Yudha mencari perajin kayu Jepara. Ia kemudian menemukan lokasi perajin di kawasan Antapani, Bandung.

“Saya ingin menyampaikan bahwa tradisi kayu Jepara jangan sampai punah. Saya juga ingin mengeluarkan emosi para pengukir kayu saat mengukir,” ujarnya.

UNESCO menilai karya Yudha berhasil memperlihatkan seorang pengukir kayu Jepara yang membuat motif rumit dengan tangan. Foto tersebut sekaligus menggambarkan upaya menjaga keterampilan tradisional yang diwariskan lintas generasi.

Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO I.G.A.K. Satrya Wibawa turut mengapresiasi pencapaian Yudha. Menurutnya, keberhasilan tersebut menunjukkan peran generasi muda dalam ikut melestarikan budaya melalui medium yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Yang lebih penting adalah bagaimana seorang anak berusia 14 tahun melihat warisan budaya Indonesia melalui perspektif generasinya sendiri. Kamera di tangannya menjadi alat untuk bercerita bahwa tradisi bukan sesuatu yang hanya disimpan di masa lalu, tetapi sesuatu yang perlu diteruskan oleh generasi berikutnya,” ujar Satrya.

Karya Yudha bersama foto para pemenang dan karya terpilih lainnya akan dimuat dalam album foto Youth Lens on the Silk Roads. Karya tersebut juga berpeluang ditampilkan dalam pameran UNESCO mendatang.

Bagi Yudha, kemenangan tersebut justru menjadi kejutan. Ia mengaku awalnya mengikuti kompetisi untuk mendapatkan pengalaman sekaligus mempersiapkan diri melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah kejuruan (SMK) yang diimpikannya.

“Ritual, karya seni, tari, dan segala macam tradisi harus terus kita lestarikan agar tidak hilang di masa-masa mendatang,” ujarnya.

Prestasi Yudha menjadi contoh bagaimana pelestarian budaya dapat disuarakan melalui kreativitas generasi muda. Dengan kamera pinjaman dan keberanian untuk mencoba, pelajar asal Cimahi itu berhasil membawa kisah perajin kayu Jepara ke panggung internasional.***


Editor : JakaPermana