Dinkes Jabar Pantau ISPA di Tengah Kekhawatiran Asap Karhutla

Dinkes Jabar memantau tren ISPA di tengah kekhawatiran asap karhutla. Warga diimbau menggunakan masker dan menjaga kesehatan, terutama kelompok rentan.

Dinkes Jabar Pantau ISPA di Tengah Kekhawatiran Asap Karhutla
Dinkes Jabar memantau tren ISPA di tengah kekhawatiran asap karhutla. Warga diimbau menggunakan masker dan menjaga kesehatan, terutama kelompok rentan.

INILAHKORAN.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat terus memantau perkembangan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tengah kekhawatiran dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Raden Vini Adiani Dewi, mengatakan pemantauan tren kasus ISPA menjadi salah satu indikator untuk mengantisipasi potensi gangguan kesehatan masyarakat. Meski demikian, hingga kini Dinkes Jabar belum menerima peringatan dari Kementerian Kesehatan terkait dampak asap karhutla tersebut.

“Pada prinsipnya semua penyakit saluran pernapasan itu sama, itu semua pasti terhirup,” ujar Vini di DPRD Jabar, Minggu (18/10/2026).

Menurut dia, langkah pencegahan tetap perlu dilakukan tanpa harus menunggu kepastian penyebab gangguan pernapasan. Dinkes Jabar pun telah menerbitkan surat edaran sebagai langkah antisipasi terhadap potensi peningkatan kasus ISPA.

Vini mengimbau masyarakat menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah maupun berada di tengah kerumunan. Selain itu, masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk mencuci tangan, beristirahat cukup, serta menjaga kondisi tubuh.

“Pada prinsipnya kami sudah mengeluarkan surat edaran terkait dengan antisipasi terjadinya, kita tidak melihat penyebabnya. Ketika terhirup ya harus waspada,” katanya.

Terkait kemungkinan kasus ISPA di Jawa Barat yang berhubungan langsung dengan paparan asap karhutla, Vini menjelaskan bahwa Dinkes masih mengandalkan pemantauan tren peningkatan kasus ISPA. Perkembangan tersebut menjadi perhatian dalam menentukan langkah antisipasi selanjutnya.

influenza A Bukan Penyakit Baru

Di sisi lain, Vini menjelaskan bahwa influenza tipe A bukan penyakit yang baru muncul. Menurut dia, infeksi tersebut telah lama dikenal dalam pelayanan kesehatan dan tersedia vaksinnya.

Meski demikian, influenza A dapat menimbulkan kondisi lebih berat pada kelompok rentan, terutama anak-anak dan orang yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Vini mencontohkan, anak-anak yang mengalami komplikasi seperti radang paru-paru serta pasien dengan diabetes atau hipertensi yang tidak terkontrol berisiko mengalami gejala lebih berat sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

“Jadi influenza tipe A ini sebetulnya sudah ada vaksinnya. Memang tapi pada seperti pada penyakit lain ya, seperti misalnya diabetes, jantung, atau penyakit yang lainnya kalau terjadi pada orang yang rentan, misalnya punya penyakit dasar, itu memang bisa jadi berat. Nah, influenza tipe A juga sama,” tuturnya.

Karena itu, masyarakat, khususnya kelompok rentan, perlu memperhatikan kondisi kesehatan dan menerapkan langkah pencegahan infeksi saluran pernapasan.

Vini juga menegaskan bahwa berdasarkan pengamatannya, pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit tidak serta-merta menunjukkan adanya lonjakan kasus influenza tipe A.

“Kalau saya perhatikan ke rumah sakit bukan karena lonjakan influenza tipe A,” pungkasnya.***


Editor : JakaPermana